Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2007

 

SIMPOSIUM SEHARI KESEHATAN JIWA

DALAM RANGKA MENYAMBUT HARI KESEHATAN JIWA SEDUNIA

Penyelenggara:
IKATAN DOKTER INDONESIA CABANG JAKARTA BARAT

Bekerjasama dengan:
FK UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
FK UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
FK UNIVERSITAS PELITA HARAPAN

27 OKTOBER 2007
HOTEL RED TOP, JAKARTA

SUSUNAN PANITIA

Penasehat :

Dekan FK UKI   

Dr. Angkasa Sebayang MPH

Dekan FK UKRIDA

DR. Dr. Mardi Santoso, DTM&H, SpPD-KEMD

Dekan FK UPH

Dr. Eka Julianta Wahjoepramono Sp.BS

Ketua IDI Jak – Bar 

Dr. Tony S. Natakarman

Panitia Pengarah :

Ketua

Dr. W.M.  Roan DPM, Sp.KJ (K)

Wakil Ketua

Dr. Dan Hidayat Sp.KJ (K)

Sekretaris 

Dr. Evalina Hutagalung Sp.KJ

Anggota

Semua Pembicara

Panitia Pelaksana :

Penanggung Jawab 

Dr. Saiful Jazan, MSc

Ketua Pelaksana  

Dr. Laymena Yusak

Wakil Ketua

Dr. Eveline Margo

Sekretaris I 

Dr. Kevin Gunawan

Sekretaris II

Dr. Joyce Tjakraatmadja, MSc

Bendahara I 

Dr. Retno Praptijani

Bendahara II 

Dr. Trifena Ekowati

Seksi Ilmiah

Dr. Sutopo Widjaja, MS
Dr. Raditya Wratsangka Sp.OG

Dr. Oktavianus Ch. Salim, MS

Seksi Dana 

Dr. Dan Hidayat Sp.KJ (K)
Dr. Cecilia R. Padang, Ph.D, FACR

Seksi Konsumsi

Dr. Magdalena Linaria Junitawati, MS
Dr. Evi Narulita
Dr. Zamni Abbas

Seksi Publikasi & Dokumentasi  

Dr. Chairudin
Dr. Enrico
Dr. Lianawati

Dr. Evi Untoro                                   

Dr. Indriani Kurniadi

Seksi Perlengkapan

Dr. Rusddy
Dr. Minamand  Rapa, MM

Pembantu Umum

Dr. Robert Imam Soetedja
Dr. Arry F. Ramba

Dr. Darwisyh Harahap

Ikatan Dokter Indonesia Cabang Jakarta Barat mengucapkan terima kasih kepada perusahaan – perusahaan yang telah berpartisipasi sebagai sponsor pada acara Simposium Sehari Kesehatan Jiwa dengan tema “Deteksi Dini Dan Penatalaksanaan Terapi Gangguan Jiwa Dalam Praktek Umum” di Hotel Redtop Jakarta pada tanggal 27 Oktober 2007.

PT. Boehringer Ingelheim Indonesia

PT. Otsuka Indonesia

PT. Ethica Industri Farmasi

PT. Servier Indonesia

PT. Mersi Farma

PT. Wyeth Indonesia

PT. Pfizer Indonesia

PT. Interbat

Lundbeck Indonesia

Novartis

PT. Pharos Indonesia

Laboratorium Klinik Prodia

PT. Indocore Perkasa

PT. Schering Plough Indonesia

PT. Dyasa Satria Mandiri

Kata Pengantar

Latar Belakang

Delirium & Demensia

Gangguan Mental Dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat Psikoaktif

Skizofrenia Dan Gangguan Psikotik Lainnya

Gangguan Afektif

Tatalaksana Diagnosis Dan Terapi Gangguan Anxietas

Gangguan Somatoform

Gejala, Latar Belakang Permasalahan Dan Kebutuhan Anak Dengan Gangguan Pemusatan Perhatian Dan Hiperaktvitas (GPPH) Dan Gangguan Spektrum Autistik

Kedaruratan Psikiatri Dan Tatalaksana

Pelayanan Kesehatan Jiwa Integratif

Susunan Pengurus IDI Jakarta Barat Periode 2005 – 2008

 

KATA PENGANTAR

dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas Berkat dan RahmatNya sehingga buku Prosiding Simposium Sehari Kesehatan Jiwa dengan judul : “Deteksi Dini dan Penatalaksanaan Terapi Gangguan Jiwa dalam Praktek Umum” dapat diselesaikan dengan baik. Buku prosiding ini merupakan kumpulan makalah selama berlangsungnya kegiatan Simposium pada tanggal 27 Oktober 2007 di Jakarta.
Simposium ini diselenggarakan oleh IDI Cabang Jakarta Barat bekerjasama dengan dosen-dosen dan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana dan Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia pada tanggal 10 Oktober.
Simposium ini memang tidak dalam lingkup nasional, namun topik kesehatan jiwa yang dibahas sangat bermanfaat bagi sejawat untuk dapat melakukan deteksi dini dan penatalaksanaan terapi gangguan jiwa dalam praktek umum. Disamping itu materi hukum dan etika merupakan hal penting bagi kita semua dalam menjalankan profesi dokter. Sedangkan materi Internasional Standard For Tuberculosis Care (ISTC) memuat standar diagnosis, standar pengobatan tuberkulosis dan standar tanggung jawab kesehatan masyarakat serta tidak kalah pentingnya merupakan kontribusi lkatan Dokter Indonesia dalam upaya penanggulangan masalah tuberkulosis global umumnya dan di Indonesia khususnya.
Harapan kami, buku prosiding ini dapat memberikan kontribusi dalam peningkatan pengetahuan peserta simposium dan juga bagi para sejawat dokter dalam praktek umum.
Tidak lupa kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselenggaranya simposium dan penyusunan buku prosiding ini.

Jakarta, 2 Oktober 2007

 

Dr. Tony S. Natakarman
Ketua IDI Jakarta Barat

 

 

LATAR BELAKANG

Akhir-akhir ini banyak kasus kekerasan, bunuh diri, kawin cerai, tawuran, pembunuhan, ibu membunuh anak-anaknya, Cucu membunuh kakek, pemerkosaan, penculikan anak, penggunaan NARKOBA, kecelakaan lalu lintas baik darat, udara, laut, korupsi, bencana alam seperti : tsunami, gempa bumi, tanah longsor, tayangan TV, smack down, dan sebagainya. Kejadian – kejadian ini ada kaitannya dengan masalah kesehatan jiwa dan gangguan jiwa, baik sebagai penyebab maupun sebagai akibat.

Penelitian mengenai gangguan jiwa yang pernah dilakukan oleh para psikiater dari Direktorat Kesehatan Jiwa, Dirjen Yanmed, Depkes, di Puskesmas Kecamatan Tambora, lebih dari 20 tahun yang lalu didapatkan bahwa prevalensi gangguan jiwadi Puskesmas adalah sekitar 30%, berarti dari setiap 10 orang yang berobat ke Puskesmas ada 3 orang yang mempunyai masalah kejiwaan.

Demikian pula pasien-pasien yang berobat ke praktik umum sedikitnya 10% pasien yang berobat mempunyai masalah kejiwaan dibalik keluhan fisiknya.

Fakta lainnya adalah orang lebih senang dikatakan sakit saraf daripada sakit jiwa. Sakit Jiwa masih merupakan stigma dalam masyarakat. Penderita gangguan jiwa lebih sering dibawa ke dukun atau “orang pintar”.

Sering kali penderita gangguan jiwa terlambat diterapi karena kurang kepekaan dokter dalam mendeteksinya, sehingga banyak biaya yang telah dikeluarkan pasien untuk pemeriksaan-pemeriksaan penunjang dan pengobatan yang kurang tepat.

Dokter umum sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan adalah yang pertama menerima pasien baru, kepada dokter umum ini perlu ditingkatkan kemampuan dan ketrampilannya dalam melakukan deteksi dini dari penatalaksanaan terapi masalah dan gangguan jiwa yang ditemuinya dalam praktek sehari-hari, sehingga pasien mendapat pelayanan medik yang optimal dan tepat.

 

TUJUAN

Meningkatkan kemampuan, ketrampilan mendeteksi dan terapi masalah kesehatan jiwa dan gangguan jiwa yang banyak dijumpai dalam praktek sehari-hari dari para petugas kesehatan khusus para teman sejawat dokter umum atau dokter keluarga ( sesuai kompetensi dokter umum).

Menghilangkan stigma gangguan jiwa di kalangan profesional dan masyarakat

 

DELIRIUM DAN DEMENSIA
Makalah yang disajikan pada seminar sehari dalam rangka memperingati

Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (10 Oktober 2007)

dilaksanakan di Jakarta, 27 Oktober 2007.
Oleh: Dr. Witjaksana Roan, DPM(Lond.), SpKJ(K)

Psikiater RS St. Carolus, RS Siloam West Jakarta dan Siloam Karawaci

 

 

DELIRIUM

Delirium juga disebut Kondisi bingung akut (Acute Confusional State) dan demensia merupakan penyebab yang paling sering dan gangguan atau hendaya kognitif, walaupun gangguan afektif (seperti depresi) juga bisa mengganggu kognisi. Delirium dan demensia merupakan dua gangguan yang berbeda, namun sering sukar dibedakan. Pada keduanya, fungsi kognitif terganggu, namun demensia biasanya memori yang terganggu, sedangkan delirium daya perhatiannya yang terganggu.

Beberapa ciri khas membedakan kedua gangguan tersebut (lihat tabel I). Delirium biasanya disebabkan oleh penyakit akut atau keracunan obat (kadang mengancam jiwa orang) dan sering reversibel, sedangkan demensia secara khas disebabkan oleh perubahan anatomik dalam otak, berawal lambat dan biasanya tidak reversibel. Delirium bisa timbul pada pasien dengan demensia juga.

Tabel I. Perbedaan klinis delirium dan Demensia

 

 

Gambaran

Delirium

Demensia

Riwayat

Penyakit akut

Penyakit kronik

Awal

Cepat

Lambat laun

Sebab

Terdapat penyakit lain (infeksi,
dehidrasi, guna/putus obat

Biasanya penyakit otak kronik (spt Alzheimer, demensia vaskular)

Lamanya

Ber-hari/-minggu

Ber-bulan/-tahun

Perjalanan sakit

Naik turun

Kronik progresif

Taraf kesadaran

Naik turun

Normal

Orientasi 

Terganggu, periodik

Intak pada awalnya

Afek

Cemas dan iritabel

Labil tapi tak cemas

Alam pikiran

Sering terganggu

Turun jumlahnya

Bahasa

Lamban, inkoheren, inadekuat

Sulit menemukan istilah tepat

Daya ingat

Jangka pendek terganggu nyata

Jangka pendek & panjang terganggu

Persepsi

Halusinasi (visual)

Halusinasi jarang kecuali sundowning

Psikomotor

Retardasi, agitasi, campuran

Normal

Tidur

Terganggu siklusnya

Sedikit terganggu siklus tidurnya

Atensi & kesadaran

Amat terganggu

Sedikit terganggu

Reversibilitas

Sering reversibel

Umumnya tak reversibel

Penanganan

Segera

Perlu tapi tak segera

 

Catatan: pasien dengan demensia amat rentan terhadap delirium, dan delirium yang bertumpang tindih dengan demensia adalah umum

 

 

DELIRIUM

Sindrom klinis akut dan sejenak dengan ciri penurunan taraf kesadaran, gangguan kognitif, gangguan persepsi, termasuk halusinasi & ilusi, khas adalah visual juga di pancaindera lain, dan gangguan perilaku, seperti agitasi. Gangguan ini berlangsung pendek dan ber-jam hingga berhari, taraf hebatnya berfluktuasi, hebat di malam hari, kegelapan membuat halusinasi visual & gangguan perilaku meningkat. Biasanya reversibel. Penyebabnya termasuk penyakit fisik, intoxikasi obat (zat). Diagnosis biasanya klinis, dengan laboratorium dan pemeriksaan pencitraan (imaging) untuk menemukan penyebabnya. Terapinya ialah memperbaiki penyebabnya dan tindakan suportif.

Delirium bisa timbul pada segala umur, tetapi sering pada usia lanjut. Sedikitnya 10% dari pasien lanjut usia yang dirawat inap menderita delirium; 15-50% mengalami delirium sesaat pada masa perawatan rumah sakit. Delirium juga sering dijumpai pada panti asuhan. Bila delirium terjadi pada orang muda biasanya karena penggunaan obat atau penyakit yang berbahaya mengancam jiwanya.

 

Etiologi dan patofisiologi

Banyak kondisi sistemik dan obat bisa menyebabkan delirium, contoh antikolinergika, psikotropika, dan opioida. Mekanisma tidak jelas, tetapi mungkin terkait dengan gangguan reversibilitas dan metabolisma oxidatif otak, abnormalitas neurotransmiter multipel, dan pembentukan sitokines (cytokines). Stress dari penyebab apapun bisa meningkatkan kerja saraf simpatikus sehingga mengganggu fungsi kolinergik dan menyebabkan delirium. Usia lanjut memang dasarnya rentan terhadap penurunan transmisi kolinergik sehingga lebih mudah terjadi delirium. Apapun sebabnya, yang jelas hemisfer otak dan mekanisma siaga (arousal mechanism)dari talamus dan sistem aktivasi retikular batang otak jadi terganggu.

Terdapat faktor predisposisi gangguan otak organik: seperti demensia, stroke. Penyakit parkinson, umur lanjut, gangguan sensorik, dan gangguan multipel. Faktor presipitasi termasuk penggunaan obat baru lebih dan 3 macam, infeksi, dehidrasi, imobilisasi, malagizi, dan pemakaian kateter buli-buli. Penggunaan anestesia juga meningkatkan resiko delirium, terutama pada pembedahan yang lama. Demikian pula pasien lanjut usia yang dirawatdi bagian ICU beresiko lebih tinggi.

Tanda dan gejala

Delirium ditandai oleh kesulitan dalam:

Konsentrasi dan memfokus

Mempertahankan dan mengalihkan daya perhatian

Kesadaran naik-turun

Disorientasi terhadap waktu, tempat dan orang

Halusinasi biasanya visual, kemudian yang lain

Bingung menghadapi tugas se-hari-hari

Perubahan kepribadian dan afek

Pikiran menjadi kacau

Bicara ngawur

Disartria dan bicara cepat

Neologisma

Inkoheren

Gejala termasuk:

Perilaku yang inadekuat

Rasa takut

Curiga

Mudah tersinggung

Agitatif

Hiperaktif

Siaga tinggi (Hyperalert)

Atau sebaliknya bisa menjadi:

Pendiam

Menarik diri

Mengantuk

Banyak pasien yang berfluktuasi antara diam dan gelisah

Pola tidur dan makan terganggu

Gangguan kognitif, jadi daya mempertimbangkan dan tilik-diri terganggu

 

Diagnosis

Biasanya klinis. Semua pasien dengan tanda dan gejala gangguan fungsi kognitif perlu dilakukan pemeriksaan kondisi mental formal.

Kemampuan atensi bisa diperiksa dengan:

Pengulangan sebutan 3 benda

Pengulangan 7 angka ke depan dan 5 angka ke belakang (mundur)

Sebutkan nama hari dalam seminggu ke depan dan ke belakang (mundur)

Ikuti kriteria diagnostik dari lCD-10 atau DSM-IV-TR

Confusion Assessment Method (CAM)

Wawancarai anggota keluarga

Penggunaan obat atau zat psikoaktif overdosis atau penghentian mendadak.

 

Prognosis

Morbiditas dan mortalitas lebih tinggi pada pasien yang masuk sudah dengan delirium dibandingkan dengan pasien yang menjadi delirium setelah di Rumah Sakit.

Beberapa penyebab delirium seperti hipoglikemia, intoxikasi, infeksi, faktor iatrogenik, toxisitas obat, gangguan keseimbangan elektrolit. Biasanya cepat membaik dengan pengobatan.

Beberapa pada lanjut usia susah untuk diobati dan bisa melanjutjadi kronik

 

Terapi

Terapi diawali dengan memperbaiki kondisi penyakitnya dan menghilangkan faktor yang memberatkan seperti:

Menghentikan penggunaan obat

Obati infeksi

Suport pada pasien dan keluanga

Mengurangi dan menghentikan agitasi untuk pengamanan pasien

Cukupi cairan dan nutrisi

Vitamin yang dibutuhkan

Segala alat pengekang boleh digunakan tapi harus segera dilepas bila sudah membaik, alat infuse sesederhana mungkin, lingkungan diatur agar nyaman.

Obat:

Haloperidoi dosis rendah dulu 0,5 1 mg per os, IV atau IV

Risperidone0,5 3mg perostiap l2jam

Olanzapine 2,5 15 mg per os 1 x sehari

Lorazepam 0,5 1mg per Os atau parenteral (tak tersedia di Indonesia), Perlu diingat obat benzodiazepine mi bisa memperburuk delirium karena efek sedasinya.

 

DEMENSIA

Demensia ialah kondisi keruntuhan kemampuan intelek yang progresif setelah mencapai pertumbuhan & perkembangan tertinggi (umur 15 tahun) karena gangguan otak organik, diikuti keruntuhan perilaku dan kepribadian, dimanifestasikan dalam bentuk gangguan fungsi kognitif seperti memori, orientasi, rasa hati dan pembentukan pikiran konseptual. Biasanya kondisi ini tidak reversibel, sebaliknya progresif. Diagnosis dilaksanakan dengan pemeriksaan klinis, laboratorlum dan pemeriksaan pencitraan (imaging), dimaksudkan untuk mencari penyebab yang bisa diobati. Pengobatan biasanya hanya suportif. Zat penghambat kolines terasa (Cholinesterase inhibitors) bisa memperbaiki fungsi kognitif untuk sementara, dan membuat beberapa obat antipsikotika lebih efektif daripada hanya dengan satu macam obat saja.

Demensia bisa terjadi pada setiap umur, tetapi lebih banyak pada lanjut usia (l.k 5% untuk rentang umur 65-74 tahun dan 40% bagi yang berumur >85 tahun). Kebanyakan mereka dirawat dalam panti dan menempati sejumlah 50% tempat tidur.  

 

Etiologi dan klasifikasi

Menurut Umur:

Demensia senilis (>65th)

Demensia prasenilis (<65th)

Menurut perjalanan penyakit:

Reversibel

Ireversibel (Normal pressure hydrocephalus, subdural hematoma, vit B
Defisiensi, Hipotiroidisma, intoxikasi Pb.

Menurut kerusakan struktur otak

Tipe Alzheimer

Tipe non-Alzheimer

Demensia vaskular

Demensia Jisim Lewy (Lewy Body dementia)

Demensia Lobus frontal-temporal

Demensia terkait dengan SIDA(HIV-AIDS)

Morbus Parkinson

Morbus Huntington

Morbus Pick

Morbus Jakob-Creutzfeldt

Sindrom Gerstmann-Sträussler-Scheinker

Prion disease

Palsi Supranuklear progresif

Multiple sklerosis

Neurosifilis

Tipe campuran

Menurut sifat klinis:

Demensia proprius

Pseudo-demensia

Tanda dan gejala

Seluruh jajaran fungsi kognitif rusak.

Awalnya gangguan daya ingat jangka pendek.

Gangguan kepribadian dan perilaku, mood swings

Defisit neurologik motor & fokal

Mudah tersinggung, bermusuhan, agitasi dan kejang

Gangguan psikotik: halusinasi, ilusi, waham & paranoia

Agnosia, apraxia, afasia

ADL (Activities of Daily Living)susah

Kesulitan mengatur penggunaan keuangan

Tidak bisa pulang ke rumah bila bepergian

Lupa meletakkan barang penting

Sulit mandi, makan, berpakaian, toileting

Pasien bisa berjalan jauh dari rumah dan tak bisa pulang

Mudah terjatuh, keseimbangan buruk

Akhirnya lumpuh, inkontinensia urine & alvi

Tak dapat makan dan menelan

Koma dan kematian

Diagnosis

Diagnosis difokuskan pada 3 hal:

Pembedaan antara delirium dan demensia

Bagian otak yang terkena

Penyebab yang potensial reversibel

Perlu pembedaan dan depresi (ini bisa diobati relatif mudah)

Pemeriksaan untuk mengingat 3 benda yg disebut

Mengelompokkan benda, hewan dan alat dengan susah payah

Pemeriksaan laboratonium, pemeriksaan EEC

Pencitraan otak amat penting CT atau MRI

 

Terapi

Pertama perlu diperhatikan keselamatan pasien, lingkungan dibuat senyaman mungkin, dan bantuan pengasuh perlu.

Koridor tempat jalan, tangga, meja kursi tempat barang keperkuannya

Tidak diperbolehkan memindahkan mobil dsb.

Diberi keperluan yang mudah dilihat, penerangan lampu terang, jam dinding besar, tanggalan yang angkanya besar

Obat:

Nootropika:

Pyritinol (Encephabol) 1 x 100 – 3 x 200 mg

Piracetam (Nootropil) 1 x 400 – 3 x 1200 mg

Sabeluzole (Reminyl)

Ca-antagonist:

Nimodipine(Nimotop 1- 3 x 30 mg)

Citicholine (Nicholin) 1 – 2 x 100 – 300 mg i.v./i.m.

Cinnanzine (Stugeron) 1 – 3 x 25 mg

Pentoxifylline (Trental) 2 – 3 x 400 mg (oral), 200 – 300 mg infuse

Pantoyl-GABA

Acetylcholinesterase inhibitors

Tacnne 10 mg dinaikkan lambatlaun hingga 80 mg. Hepatotoxik

Donepezil (Aricept) centrally active reversible cholinesterase inhibitor, 5 mg 1x /hari

Galantamine (Riminil) 1 – 3 x 5 mg

Rivastigmin (Exelon) 1,5, 3, 4, 5, 6 mg

Memantine 2 x 5 mg 10 mg

Behavioural and Psychological Symptoms of Dementia (BPSD)

BPSD perlu dibahas di sini karena merupakan satu akibat yang merepotkan bagi pengasuh dan membuat payah bagi sang pasien karena ulahnya yang amat mengganggu:

Behavioural

Gangguan perilaku

agitasi

hiperaktif

Keluyuran

Perilaku yang tak adekuat

Abulia kognitif

Agresi

verbal, teriak

fisik

Gangguan nafsu makan

Gangguan ritme diurnal

Tidur/bangun

Perilaku tak sopan (social)

Perilaku sexual tak sopan

Deviasi sexual

Piromania

Psychological

Gangguan afektif

Anxietas

lritabilitas

Gejala depresif.

Depresi berat

Labilitas emosional

Apati

Sindrom waham & salah-identifikasi

Orang menyembunyikan dan mencuri barangnya

paranoid, curiga

Rumah lama dianggap bukan rumahnya

Pasangan / pengasuh

Palsu

Tak setia

Menelantarkan pasien

Cemburu patologik

Keluarga/kenalan yang mati masih hidup

Halusinasi

Visual

Auditorik

Olfaktoriik

Raba (haptik)

 

Terapi farmakologik

Antipsikotika tipik: Haldol 0,25 – 0,5 atau 1 – 2 mg

Antipsikotika atipik:

Clozaril 1 x 12.5 – 25 mg

Risperidone 0,25 – 0,5 mg atau 0,75 – 1,75

Olanzapine 2,5 – 5,0 mg atau 5 – 10 mg

Quetiapine 100 – 200 mg atau 400 – 600 mg

Abilify 1 x 10 – 15 mg

Anxiolitika

Clobazam 1 x 10 mg

Lorazepam 0,5 – 1.0 mg atau 1,5 – 2 mg

Bromazepam 1,5 mg – 6 mg

Buspirone HCI 10 – 30 mg

Trazodone 25 – 10 mg atau 50 – 100 mg

Rivotril 2 mg (1 x 0,5mg – 2mg)

Antidepresiva

Amitriptyline 25 – 50 mg

Tofranil 25 – 30 mg

Asendin 1 x 25 – 3 x 100 mg (hati2, cukup keras)

SSRI spt Zoloft 1x 50 mg, Seroxat 1×20 mg, Luvox 1 x 50 -100 mg, Citalopram 1 x 10 – 20 mg, Cipralex, Efexor-XR 1 x 75 mg, Cymbalta 1 x 60 mg.

Mirtazapine (Remeron) 7,5 mg – 30 mg (hati2)

Mood stabilizers

Carbamazepine 100 – 200 mg atau 400 – 600 mg

Divalproex 125 – 250 mg atau 500 – 750 mg

Topamate 1 x 50 mg

Tnileptal 1 x 300 mg – 3 x mg

Neurontin 1 x 100 – 3 x 300 mg bisa naik hingga 1800 mg

Lamictal 1 x 50 mg 2 x 50 mg

Priadel 2 – 3 x 400 mg

Obat anti-demensia

Obat anti-demensia pada kasus demensia stadium lanjut sebenarnya sudah tak berguna lagi, namun bila diberikan dapat mengefektifkan obat terhadap BPSD:

Nootropika:

Pyritinol (Encephabol) 1 x100 – 3 x 200 mg

Piracetam(Nootropil) 1 x 400 – 3 x 1200 mg

Sabeluzole (Reminyl)

Ca-antagonist:

Nimodipine (Nimotop 1 – 3 x 30 mg)

Citicholine (Nicholin) 1 – 2 x 100 – 300 mg i.v / i.m.

Cinnarizine(Stugeron) 1 – 3 x 25 mg

Pentoxifylline (Trental) 2 – 3 x 400 mg (oral), 200 – 300 mg infuse

Pantoyl-GABA

Acetylcholinesterase inhibitors

Tacrine 10 mg dinaikkan lambat laun hingga 80 mg. Hepatotoxik

Donepezil (Aricept) centrally active reversible cholinesterase inhibitor, 5 mg 1x/hari

Galantamine (Riminil) 1 – 3 x 5 mg

Rivastigmin (Exelon) 1,5, 3, 4, 5, 6 mg

Memantine 2 x 5 – 10 mg

 

 

 

 

 

 

GANGGUAN MENTAL DAN PERILAKU AKIBAT PENGGUNAAN ZAT PSIKOAKTIF
dr. Dharmady Agus, SpKJ

(021) 54373510  HP. 0816713026

Tamat Spesialis llmu Kedokteran Jiwa di FKUI tahun 2001

Ka.SMF Ilmu Kedokteran Jiwa dan Periilaku RS Atma Jaya tahun 2005- sekarang

Koordinator Academic Venture FKUAJ tahun 2006 – sekarang

Koordinator Tim PBL PSSK FKUAJ tahun 2007 – sekarang

Dosen Pembimbing Kepaniteraan Klinik Psikiatni FK-UPH di Sanatorium Dharmawangsa tahun 2006 – sekarang

 

1. Pendahuluan

Dalam PPDGJ III (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III), Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat Psikoaktif dikelompokkan dalam F1. Kelompok ini berisi gangguan yang bervariasi luas dan berbeda keparahannya (dan intoksikasi tanpa atau dengan komplikasi, penggunaan yang merugikan, sindrom ketergantungan, keadaan putus zat, sampai gangguan psikotik yang jelas dan demensia), dan semua itu diakibatkan oleh karena penggunaan satu atau lebih zat psikoaktif (dengan atau tanpa resep dokter).

Zat psikoaktif yang digunakan dinyatakan oleh karakter ketiga (yaitu dua digit pertama setelah huruf F), sedangkan karakter keempat dan kelima khusus untuk keadaan klinis. Untuk praktisnya, semua zat psikoaktif disebutkan lebih dahulu, baru diikuti oleh karakter keempat dan kelima, namun dengan catatan tidak semua kode pada karakter keempat dan kelima dapat digunakan untuk semua jenis zat.
Adapun ikhtisar dari F1 ini adalah sebagai berikut:

 

 

F10,-

Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan alkohol

F11,-

Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan oploida

F12,-

Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan kanabinoida

F13,-

Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan sedativa atau hipnotika

F14,-

Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan kokain

F15,-

Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan stimulansia lain termasuk kafein

F16,-

Gangguan mental dan perilaku akibatpenggunaan halusinogenika

F17,-

Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan tembakau

F18,-

Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan pelarut yang mudah menguap

F19,-

Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat multipel dan penggunaan zat psikoaktif lainnya

Karakter keempat dan kelima dapat digunakan untuk menentukan kondisi klinis sebagai berikut:

F1x.0

intoksikasi akut

 

00

Tanpa komplikasi

 

01

Dengan trauma atau cedera tubuh lainnya

 

02

Dengan komplikasi medis lainnya

 

03

Dengan delirium

 

04

Dengan distorsi persepsi

 

05

Dengan koma

 

06

Dengan konvulsi

 

07

Intoksikasi patologis

F1x.1

Penggunaan yang merugikan (harmful)

F1x.2

Sindrom Ketergantungan

 

20

Kini abstinen

 

21

Kini abstinen tetapi dalam lingkungan terlindung

 

22

Kini dalam pengawasan kiinis atau dengan pengobatan pengganti (ketergantungan terkendali)

 

23

Kini abstinen tetapi mendapat terapi aversi atau obat penyekat (“blocking drugs”)

 

24

Kini sedang menggunakan zat (ketergantungan aktif)

 

25

Penggunaan berkelanjutan

 

26

Penggunaan episodik (dipsomania)

F1x.3

Keadaan putus zat

 

30

Tanpa komplikasi

 

31

Dengan konvulsi

F1x.4

Keadaan putus zat dengan delirium

 

40

Tanpa konvulsi

 

41

Dengan konvulsi

F1x.5

Gangguan psikotik

 

50

Lir-skizofrenia

 

51

Predominan waham

 

52

Predominan halusinasi

 

53

Predominan polimorfik

 

54

Predominan gejala depresif

 

55

Predominan gejala manik

 

56

Campuran

F1x.6

Sindrom amnesik

F1x.7

Gangguan psikotik residual dan onset lambat 

 

70

Kilas balik (flashback)

 

71

Gangguan kepribadian atau perilaku

 

72

Gangguan afektif residual

 

73

Demensia

 

74

Hendaya kognitif menetap lainnya

 

75

Gangguan psikotik onset lambat

F1x.8

Gangguan mental dan perilaku lainnya

F1x.9

Gangguan mental dan perilaku YTT

 

Pada kesempatan kali ini, pembahasan hanya akan dititik beratkan pada F11 dan F15 karena kedua zat psikoaktif ini yang paling banyak disalahgunakan. Pembahasan pun hanya terbatas pada klasifikasi dan cara kerja opioida dan amfetamin, gambaran klinis penting perihal intoksikasi, overdosis, dan putus zat, dan penatalaksanaannya secara umum.

 

2.  Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Opioida

2.1.   Sekilas tentang Opioida

Opioida adalah nama segolongan zat, baik alamiah, semisintetik, maupun sintetik yang mempunyai khasiat seperti morfin. Opioida dibagi dalam tiga golongan menurut asalnya:

Opioida alamiah, seperti opium, morfin, dan kodein.

Opioida semisintetik, yaitu opioida yang diperoleh dari opium yang diolah melalui proses / perubahan kimiawi. Sebagai contoh, heroin (diasetil-morfin) dan hidromonfon (dilaudid)

Opioida sintetik, yang dibuat di pabrik,misalnya meperidin (petidin), metadon, propoksifen, levorfanol, dan levalorfan.

Selain mempunyai khasiat analgesik (menghilangkan rasa sakit), opioida juga mempunyal khasiat hipnotik (menidurkan) dan eufona (menimbuikan rasa gembira dan sejahtera). Penggunaan opioida berulang kali dapat menimbulkan toleransi dan ketergantungan. Biia sudah terjadi ketergantungan terhadap oploida, lalu jumlah penggunaan dikurangi atau dihentikan, maka akan timbul gejala putus zat (withdrawal). Pada umumnya, opioida dikonsumsi melalui suntikan intravena, inhalasi, dicampur dalam rokok tembakau, atau secara oral.

2.2  Gambaran Klinis

Gambaran klinis pemakaian oploida antara lain:

Euforia awal diikuti oleh suatu periode sedasi, dikenal dengan istilah jalanan sebagai “nodding off’

Euforik yang tinggi (“rush”)

Rasa berat pada anggota gerak

Mulut kering

Wajah gatal (khususnya hidung)

Kemerahan pada wajah

Untuk orang awam yang pertama kali memakai opioida: dapat menyebabkan disforia, mual, dan muntah

Efek flsik: depresi pernafasan, konstriksi pupil, kontraksi otot polos (termasuk ureter dan saluran empedu), konstipasi, perubahan tekanan darah, kecepatan denyut jantung dan temperatur tubuh

 

2.3. lntoksikasi dan Overdosis Oploida

lntoksikasi opioida ditandai dengan:

Pamakaian opioida yang belum lama terjadi

Perubahan perilaku maladaptif yang bermakna secara klinis

Perubahan mood

Retardasi psikomotor

Mengantuk

Bicara cadel (slurred speech)

Gangguan daya ingat dan perhatian

Gejala overdosis opioida ditandai dengan:

Hilangnya responsivitas yang nyata

Koma

Pin point pupil

Depresi pernafasan

Hipotermia

Hipotensi

Bradikardia

 

2.4 Putus Oploida

Gejala putus opioida ditandai dengan:

Penghentian (atau penurunan) opioida yang telah lama atau berat

Mood disforik

Mual atau muntah

Nyeri otot

Lakrimasi atau rinorea

Dilatasi pupil, piloreksi, atau berkeringat

Diare

Menguap

Demam

Insomnia

 

2.5 Penatalaksanaan lntoksikasi, Overdosis, dan Putus Opioida

Penatalaksanaan intoksikasi opioida:

Beri nalokson HCI (Narcan) sebanyak 0,2-0,4 mg atau 0,01 mg/kg berat badan secara intravena, intermuskular, atau subkutan.

Bila belum berhasil, dapat diulang sesudah 3-10 menit sampai 2-3 kali.

Oleh karena narcan mempunyai jangka waktu kerja hanya 2-3 jam, sebaiknya pasien tetap dipantau selama sekurang-kurangnya 24 jam bila pasien menggunakan heroin dan 72 jam bila pasien menggunakan metadon.

Waspada terhadap kemungkinan timbulnya gejala putus opioida akibat pemberian narcan.

Penatalaksanaan overdosis opmoida:

Pastikan jalan nafas yang terbuka.

Jaga tanda vital.

Usahakan peredaran darah berjalan lancar: bila jantung berhenti berdenyut, lakukan masase jantung ekstemal dan berikan adrenalin intrakardial; bila terjadi fibrilasi, gunakan defifrilator; bila sirkulasi darah tidak memadai, beri infus 50 cc sodium bikarbonat (3,75 gr)guna mengatasi asidosis.

Awasi kemungkinan terjadinya kejang.

Bila tekanan darah tidak kunjung naik menjadi normal, pertimbangkan untuk memberi plasma expander atau vasopresor.

Beri antagonis opiat, nalokson: 0,4 mg intravena. Dosis tersebut dapat diulang empat sampai lima kali dalam 30 sampai 45 menit pertama sampai menunjukkan respons yang adekuat.

Observasi ketat dan awasi kemungkinan relaps ke keadaan semikoma dalam empat sampai lima jam.

Penatalaksanaan putus opioida dapat ditempuh melalui beberapa cara antara lain: Terapi putus opioida seketika (abrupt withdrawal), yaitu tanpa memberi obat apa pun. Pasien merasakan semua gejala putus opiolda. Terapi ini diberikan dengan harapan pasien akan jera dan tidak akan menggunakan opiolda lagi. Cara ini tidak disukai pasien, tidak efektif, dan hampir tidak pernah dilakukan lagi di fasilitas kesehatan.  

Terapi putus opioida dengan terapi simtomatik: untuk menghilangkan rasa nyeri berikan analgetik yang kuat; untuk gelisah berikan tranquilizer, untuk mual dan muntah berikan antiemetik; untuk kolik berikan spasmolitik; untuk rinore berikan dekongestan; untuk insomnia berikan hipnotik; untuk memperbaiki kondisi badan dapat ditambahkan vitamin. ]

Terapi putus opioida bertahap (gradual withdrawal): dengan memberikan opioida yang secara hukum boleh digunakan untuk pengobatan,misalnya morfin, petidin, kodein, atau metadon.
Kebanyakan metadon digunakan secana oral. Biasanya diberikan dosis awal 10-40 mg, bergantung pada berat ringannya ketergantungan pasien terhadap opioida, diberikan dalam dosis terbagi (start low go slow). Pada hari kedua dan seterusnya, dosis dikurangi 10 mg setiap hari sampai jumlah dosis sehari 10 mg. Sesudah itu, diturunkan menjadi 5 mg sehari selama 1-3 hari

Buprenorfin juga dapat dipakai untuk detoksiflkasi dengan cara yang sama dengan metadon, dengan dosis awal 4-8 mg.
Dapat pula dipakai kodein dengan dosis 3-4 kali sehari @ 60-100 mg. Dosis diturunkan 5-10 mg tiap hari menjadi 3-4 kali sehari @ 55mg dan seterusnya.

Terapi putus opioida bertahap dengan substitut non-opioida, misalnya klonidin. Dosis yang diberikan 0,01 – 0,3 mg tiga atau empat kali sehari atau 17 mikrogram per kg berat badan per hari dibagi dalam tiga atau empat kali pemberian.

Terapi dengan memberikan antagonis opioida di bawah anestesi umum (rapid detoxification). Gejala putus zat timbul dalam waktu pendek dan hebat, tetapi pasien tidak merasakan karena pasien dalam keadaan terbius. Keadaan ini hanya berlangsung sekitar enam jam dan perlu dirawat satu sampai dua hari.

 

2.6 Terapi Pasca-detoksifikasi

Setelah detoksifikasi selesai, terapis harus memberitahukan bahwa proses penyembuhan belum selesai, pasien baru menyelesaikan tahap awal dan proses penyembuhan. Terapis harus senantiasa menyadarkan pasien bahwa perilaku penggunaan zat psikoaktif oleh pasien adalah perilaku yang merugikan kesehatan pasien, merugikan kehidupan sosial, dan merugikan keluarganya.

Sama seperti penyakit kronis lainnya, setelah diobati pasien harus mengubah pola hidupnya. Untuk mengubah perilaku, pasien masih harus mengikuti program pasca-detoksifikasi. Program pasca-detoksifikasi banyak ragamnya, yang pada umumnya menggunakan pendekatan farmakologi, non-farmakologi, konseling, dan psikoterapi. Bila pasien telah memutuskan akan mengikuti terapi pasca­detoksifikasi, terapis bersama pasien dan keluarganya membicarakan terapi pasca-detoksifikasi mana yang sesuai untuk pasien.

Keberhasilan terapi pasca-detoksifikasi sangat dipengaruhi oleh motivasi pasien. Pasien yang dapat menyelesaikan program terapi pasca-detoksiflkasi biasanya hasilnya lebih baik daripada mereka yang tidak menyelesaikan program tersebut. Kemungkinan kambuh lebih kecil, dan bila kambuh, terjadi setelah abstinensi yang lebih lama. Program terapi pasca-detoksiflkasi ada yang non panti dan panti.

2.7 After Care

After care adalah perawatan lanjutan bagi seseorang yang telah mengikuti program terapi yang terstruktur. Hal ini perlu dilakukan mengingat eks-pasien rentan terpapar pada lingkungan yang mendorong mereka untuk kembali menggunakannya. Seringkaii pula eks-pasien berharap terlalu cepat dan terlalu yakin diri bahwa ia mampu melepaskan dirinya dan kebiasaan menggunakan zat psikoaktif saat ini. Dalam after care ini, eks-pasien selalu dikuatkan kembali dan didukung terus-menerus agar tetap tidak menggunakan zat psikoaktif lagi.

 

3. Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Amfetamin

3.1.   Sekilas tentang Amfetamin

Amfetamin adalah suatu senyawa sintetik yang tergolong perangsang susunan  saraf pusat.
Ada 3 jenis amfetamin, yaitu:

Laevoamfetamin (benzedrin)

Dekstroamfetamin (deksedrin)

Metilamfetamin (metedrin)

Banyak macam derivat amfetamin dibuat dengan sengaja oleh laboratorium dengan tujuan penggunaan rekreasional, misalnya yang banyak disalahgunakan di Indonesia saat ini adalah 3,4 metilen-di-oksi met-amfetamin (MDMA) atau lebih dikenal sebagai ekstasi, dan met-amfetamin (sabu-sabu). Metilfenidat (Ritalin) jarang disalahgunakan. Dalam bidang Psikiatri, metilfenidat digunakan untuk terapi anak dengan GPPH (Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktif).
Pada umumnya, amfetamin dikonsumsi melalui suntikan intravena atau subkutan, inhalasi uap, snorting, supositoria, atau secara oral.
 

3.2 Gambaran Klinis

Pengaruh amfetamin terhadap pengguna bergantung pada jenis amfetamin, jumlah yang digunakan, dan cara menggunakannya. Dosis kecil semua jenis amfetamin akan meningkatkan tekanan darah, mempercepat denyut nadi, melebarkan bronkus, meningkatkan kewaspadaan, menimbulkan euforia, menghilangkan kantuk, mudah terpacu, menghilangkan rasa lelah dan rasa lapar, meningkatkan aktivitas motorik, banyak bicara, dan merasa kuat.

Dosis sedang amfetamin (20-50 mg) akan menstimulasi pernafasan, menimbulkan tromor ringan, gelisah, meningkatkan aktivitas montorik, insomnia, agitasi, mencegah lelah, menekan nafsu makan, menghilangkan kantuk, dan mengurangi tidur.

Penggunaan amfetamin berjangka waktu lama dengan dosis tinggi dapat menimbulkan perilaku stereotipikal, yaitu perbuatan yang diulang terus-menerus tanpa mempunyai tujuan, tiba-tiba agresif, melakukan tindakan kekerasan, waham curiga, dan anoneksia yang berat.

 

3.3 lntoksikasi dan Putus Amfetamin

lntoksikasi amfetamin ditandai dengan:

Pamakaian amfetamin yang belum lama terjadi

Takikandia atau bradikardia

Perubahan perilaku maladaptif yang bermakna secara klinis

Dilatasi pupil

Peninggian atau penurunan tekanan darah

Berkeringat atau menggigil

Mual atau muntah

Tanda-tanda penurunan berat badan

Agitasi atau retardasi psikomotor

Kelemahan otot, depresi pernafasan, nyeri dada, atau aritmia jantung

Konvulsi, kejang, diskinesia, distonia, atau koma

Gejala putus amfetamin ditandai dengan:

Penghentian (atau penurunan) amfetamin yang telah lama atau berat

Depresi

Keleiahan

Mimpi yang gamblang dan tidak menyenangkan

Insomnia atau hipersomnia

Peningkatan nafsu makan

Retardasi atau agitasi psikomotor

 

3.4   Penatalaksanaan lntoksikasi dan Putus Amfetamin

Penatalaksanaan intoksikasi amfetamin:

Bila suhu badan naik, berikan kompres dingin, minum air dingin, atau selimut hipotermik.

Bila kejang, berikan diazepam 10-30 mg per oral atau parenteral; atau klordiazepoksid 10-25 mg per oral secara perlahan-lahan dan dapat diulang setiap 15-20 menit.

Bila tekanan darah naik, berikan obat anti hipertensi.

Bila terjadi takikardma, berikan beta-blocker, seperti propanolol, yang sekaligus juga untuk menurunkan tekanan darah.

Untuk mempercepat ekskresi amfetamin, lakukan asidifikasi air seni dengan memberi amonium klorida 500 mg per oral setiap 3-4 jam.

Bilatimbul gejala psikosis atau agitasi, beri halopendol 3 kali 2-5 mg

Penatalaksanaan putus amfetamin:

a Rawat di tempat yang tenang dan biarkan pasien tidur dan makan sepuasnya.

Waspada terhadap kemungkinan timbulnya depresi dengan ide bunuh diri.

Dapat diberikan anti depresi.

 

3.5  Terapi pada PsikosisAkibat Penggunaan Amfetamin

Psikosis akibat penggunaan amfetamin sangat mirip dengan skizofrenia paranoid. Pada psikosis akibat penggunaan amfetamin dapat diberikan klorpromazin tiga kali 50-I 50 mg per oral atau 25-50 mg intra muskular yang dapat diulang setiap empat jam. Dapat juga dipakai halopenidol tiga kali 1-5 mg.

 

4. Penutup

Telah disampaikan Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Opioida dan Amfetamin. Kiranya hal ini dapat menambah wawasan, pengetahuan, dan ketrampilan dokter umum di dalam menangani pasien dengan gangguan yang berhubungan dengan zat psikoaktif, khususnya opioida dan amfetamin.

Dokter umum perlu mencamkan bahwa identifikasi dan zat psikoaktif yang digunakan dapat dilakukan berdasarkan data laporan individu, analisis obyektif dari spesimen urin, darah, dan sebagainya, atau bukti lain (adanya sampel obat yang ditemukan pada pasien, manifestasi tanda dan gejala klinis yang tampak, atau dari laporan pihak ketiga). Selalu disarankan untuk mencari bukti yang menguatkan lebih dan satu sumber, yang berkaitan dengan penggunaan zat.

Analisis obyektif yang mampu memberikan bukti yang paling handal adalah anatisis perihal adanya penggunaan zat akhir-akhir ini atau saat ini, meskipun data ini mempunyai keterbatasan terhadap penggunaan zat di masa lalu atau sejauh apa tingkat penggunaan zat saat itu.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah banyak pengguna zat psikoaktif yang menggunakan lebih dari satu jenis zat. Namun demikian, bila memungkinkan, diagnosis gangguan harus diklasifikasikan sesuai dengan zat tunggal yang paling penting yang digunakannya. Hal ini biasanya dilakukan dengan memperhatikan pemakaian zat psikoaktif tertentu dan dengan memperhatikan tanda dan gejala yang tampak.

Akhirya, cermati juga apakah telah ada komplikasi medis pada pengguna zat tersebut. Komplikasi medis ini harus ditangani secara komprehensif dan terintegrasi. [o]

 

 

 

 

SKIZOFRENIA DAN GANGGUAN PSIKOTIK LAINNYA
dr. Luana Nantingkaseh A, SpKJ

Perumahan JatiAgung I BlokB III/no.18, RTOO3/0I0, Jati Bening Baru, PondokGede

021-8482030,  HP: 0813 81348522

Asisten Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSU FKUKI 1985- 1998

Kepata Unit Pelayanan Fungsional Psikiatri RSU FKUKI 2004 – sekarang

Staf Pengajar Psikiatri FKUKI 2004- sekarang

Anggota TIM POKJA HIV AIDS RSU FKUKI 2005 – sekarang

 

Pendahuluan.

Skizofrenia merupakan gangguan mental yang kompleks dan banyak aspek tentang skizofrenia sampai saat ini belum dapat dipahami sepenuhnya. Sebagai suatu sindrom, pendekatan skizofrenia harus dilakukan secara holistik dengan melibatkan aspek psikososiai, psikodinamik, genetik, farmakologi, dan lain-lain.  

Mengingat kompleksnya gangguan skizofrenia, untuk mendapatkan hasil terapi yang optimal, klinikus perlu memperhatikan beberapa fase simptom gangguan skizofrenia, yaitu : fase prodromal, fase aktif dan fase residual.  Hasil akhir yang ingin dicapai adalah penderita skizofrenia dapat kembali berfungsi dalam bidang pekerjaan, sosial dan keluarga.
 

Skizofrenla

Skizofrenia adalah suatu sindrom klinis dengan variasi psikopatologi, biasanya berat, berlangsung lama dan ditandai oleh penyimpangan dari pikiran, persepsi serta emosi
 

Epidemioiogi

Prevalensi skizofrenia di Amerika Serikat dilaporkan bervariasi terentang dari 1 sampai 1,5 persen dengan angka insidens 1 per 10.000 orang per tahun.  Berdasarkan jenis kelamin prevalensi skizofrenia adalah sama, perbedaannya terlihat dalam onset dan perjalanan penyakit. Onset untuk laki laki 15 sampai 25 tahun sedangkan wanita 25-35 tahun. Prognosisnya adalah lebih buruk pada laki laki dibandingkan wanita.

Beberapa penelitian menemukan bahwa 80% semua pasien skizofrenia menderita penyakit fisik dan 50% nya tidak terdiagnosis.  Bunuh diri adalah penyebab umum kematian diantara penderita skizofrenia, 50% penderita skizofrenia pernah mencoba bunuh diri 1 kali seumur hidupnya dan 10% berhasil melakukannya. Faktor risiko bunuh diri adalah adanya gejala depresif, usia muda dan tingkat fungsi premorbid yang tinggi.

Komorbiditas Skizofrenia dengan penyalahgunaan alkohol kira kina 30% sampai 50%, kanabis 15% sampal 25% dan kokain 5%-10%. Sebagian besar penelitian menghubungkan hal ini sebagai suatu indikator prognosis yang buruk karena penyalahgunaan zat menurunkan efektivitas dan kepatuhan pengobatan.  Hal yang biasa kita temukan pada penderita skizofrenia adalah adiksi nikotin, dikatakan 3 kali populasi umum (75%-90% vs 25%-30%). Penderita skizofrenia yang merokok membutuhkan anti psikotik dosis tinggi karena rokok meningkatkan kecepatan metabolisme obat tetapi juga menurunkan parkinsonisme.  Beberapa laporan mengatakan skizofrenia lebih banyak dijumpai pada orang orang yang tidak menikah tetapi penelitian tidak dapat membuktikan bahwa menikah memberikan proteksi terhadap Skizofrenia.
 

Etiologi

Model diatesis -stress Menurut teori ini skizofrenia timbul akibat faktor psikososial dan lingkungan. Model ini berpendapat bahwa seseorang yang memiliki kerentanan (diatesis) jika dikenai stresor akan lebih mudah menjadi skizofrenia.

 

Faktor Biologi

Komplikasi kelahiran
Bayi laki laki yang mengalami komplikasi saat dilahirkan sering mengalami skizofrenia, hipoksia perinatal akan meningkatkan kerentanan seseorang terhadap skizofrenia.
 
Infeksi

Perubahan anatomi pada susunan syaraf pusat akibat infeksi virus pernah dilaporkan pada orang orang dengan skizofrenia. Penelitian mengatakan bahwa terpapar infeksi virus pada trimester kedua kehamilan akan meningkatkan seseorang menjadi skizofrenia.

Hipotesis Dopamin
Dopamin merupakan neurotransmiter pertama yang berkontribusi terhadap gejala skizofrenia. Hampir semua obat antipsikotik baik tipikal maupun antipikal menyekat reseptor dopamin D2, dengan terhalangnya transmisi sinyal di sistem dopaminergik maka gejala psikotik diredakan.1° Berdasarkan pengamatan diatas dikemukakan bahwa gejala gejala skizofrenia disebabkan oleh hiperaktivitas sistem dopaminergik.5’7
 

Hipotesis Serotonin
Gaddum, wooley dan show tahun 1954 mengobservasi efek lysergic acid diethylamide (LSD) yaitu suatu zat yang bersifat campuran agonis/antagonis reseptor 5-HT. Temyata zatini menyebabkan keadaan psikosis berat pada orang normal. Kemungkinan serotonin berperan pada skizofrenia kembali mengemuka karena penetitian obat antipsikotik atipikal clozapine yang temyata mempunyai afinitas terhadap reseptor serotonin 5-HT~ lebih tinggi dibandingkan reseptordopamin D2.57 

Struktur Otak
Daerah otak yang mendapatkan banyak perhatian adalah sistem limbik dan ganglia basalis. Otak pada pendenta skizofrenia terlihat sedikit berbeda dengan orang normal, ventrikel teilihat melebar, penurunan massa abu abu dan beberapa area terjadi peningkatan maupun penurunan aktifitas metabolik. Pemenksaaninikroskopis dan jaringan otak ditemukan sedikit perubahan dalam distnbusi sel otak yang timbul pada masa prenatal karena tidak ditemukannya sel glia, biasa timbul pada trauma otak setelah lahir.81°

 

Genetika

Para ilmuwan sudah lama mengetahui bahwa skizofrenia diturunkan, 1% dari populasi umum tetapi 10% pada masyarakat yang mempunyai hubungan derajat pertama seperti orang tua, kakak laki laki ataupun perempuan dengan skizofrenia. Masyarakat yang mempunyai hubungan derajat ke dua seperti paman, bibi, kakek / nenek dan sepupu dikatakan lebih sering dibandingkan populasi umum. Kembar identik 40% sampai 65% berpeluang menderita skizofrenia sedangkan kembar dizigotik 12%. Anak dan kedua orang tua yang skizofrenia berpeluang 40%, satu orang tua 12%.
 

Gambaran klinis

Perjalanan penyakit Skizofrenia dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu fase prodromal, fase aktif dan fase residual. Pada fase prodromal biasanya timbul gejala gejala  non spesifik yang lamanya bisa minggu, bulan ataupun lebih dari satu tahun sebelum onset psikotik menjadi jelas. Gejala tersebut meliputi : hendaya fungsi pekerjaan, fungsi sosial, fungsi penggunaan waktu luang dan fungsi perawatan diri.  Perubahan perubahan ini akan mengganggu individu serta membuat resah keluarga dan teman, mereka akan mengatakan “orang ini tidak seperti yang dulu”. Semakin lama fase prodromal semakin buruk prognosisnya. Pada fase aktif gejala positif / psikotik menjadi jelas seperti tingkah laku katatonik, inkoherensi, waham, halusinasi disertai gangguan afek. Hampir semua individu datang berobat pada fase ini, bila tidak mendapat pengobatan gejala gejala tersebut dapat hilang spontan suatu saat mengalami eksaserbasi atau terus bertahan. Fase aktif akan diikuti oleh fase residual dimana gejala gejalanya sama dengan fase prodromal tetapi gejala positif / psikotiknya sudah berkurang. Disamping gejala gejala yang terjadi pada ketiga fase diatas, pendenta skizofrenia juga mengalami gangguan kognitif berupa gangguan berbicara spontan, mengurutkan peristiwa, kewaspadaan dan eksekutif (atensi, konsentrasi, hubungan sosial)

Diagnosis:

Pedoman Diagnostik PPDGJ-lll

  • Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):
    1. - “thought echo” = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda ; atau
      - “thought insertion or withdrawal” = isi yang asing dan luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari
      luar dirinya (withdrawal); dan
      - “thought broadcasting”= isi pikiranya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya;
       
    2. - “delusion of control” = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar; atau
      - “delusion of passivitiy” = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang ”dirinya” = secara jelas merujuk kepergerakan tubuh / anggota gerak atau ke pikiran, tindakan, atau

 penginderaan khusus);
- “delusional perception” = pengalaman indrawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasnya bersifatmistik atau mukjizat;
 

  •  
    1. Halusinasi auditorik:
      • suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien, atau
      • mendiskusikan perihal pasien pasein di antara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara), atau
      • jenis suara halusinasi lain yang berasal dan salah satu bagian tubuh.
    2. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan mahluk asing dan dunia lain)
  • Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas:
    1. halusinasi yang menetap dan panca-indera apa saja, apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu minggu atau berbulan-bulan terus menerus;
    2. arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation), yang berkibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme;
    3. perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor;
    4. gejala-gejala “negative”, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan respons emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi oleh depresi atau medikasi neuroleptika;
  • Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik (prodromal)
  • Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dan beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude), dan penarikan diri secara sosial.

Prognosis

Walaupun remisi penuh atau sembuh pada skizofrenia itu ada, kebanyakan orang mempunyai gejala sisa dengan keparahan yang bervariasi. Secara umum 25% individu sembuh sempurna, 40% mengalami kekambuhan dan 35% mengalami perburukan. Sampai saat ini belum ada metode yang dapat memprediksi siapa yang akan menjadi sembuh siapa yang tidak, tetapi ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya seperti : usia tua, faktor pencetus jelas, onset akut, riwayat sosial / pekerjaan pramorbid baik, gejala depresi, menikah, riwayat keluarga gangguan mood, sistem pendukung baik dan gejala positif ini akan memberikan prognosis yang baik sedangkan onset muda, tidak ada faktor pencetus, onset tidak jelas, riwayat sosial buruk, autistik, tidak menikah/janda/duda, riwayat keluarga skizofrenia, sistem pendukung buruk, gejala negatif, riwayat trauma prenatal, tidak remisi dalam 3 tahun, sering relaps dan riwayat agresif akan memberikan prognosis yang buruk.
  

Terapi / Tatalaksana

I. Psikofarmaka

  •  Pemilihan obat Pada dasarnya semua obat anti psikosis mempunyai efek primer (efek klinis) yang sama pada dosis ekivalen, perbedaan utama pada efek sekunder ( efek samping: sedasi, otonomik, ekstrapiramidal). Pemilihan jenis antipsikosis mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan dan efek samping obat. Pergantian disesuaikan dengan dosis ekivalen. Apabila obat antipsikosis tertentu tidak memberikan respons klinis dalam dosis yang sudah optimal setelah jangka waktu yang tepat, dapat diganti dengan obat antipsikosis lain (sebaiknya dan golongan yang tidak sama) dengan dosis ekivalennya. Apabila dalam riwayat penggunaan obat antipsikosis sebelumnya sudah terbukti efektif dan efek sampingnya ditolerir baik, maka dapat dipilih kembali untuk pemakaian sekarang. Bila gejala negatif lebih menonjol dari gejala positif pilihannya adalah obat antipsikosis atipikal, Sebaliknya bila gejala positif lebih menonjol dibandingkan gejala negatif pilihannya adalah tipikal. Begitu juga pasien-pasien dengan efek samping ekstrapiramidal pilihan kita adalah jenis atipikal. Obat antipsikotik yang beredar dipasaran dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu antipsikotik generasi pertama (APG I) dan antipsikotik generasi ke dua (APG ll). APG I bekerja dengan memblok reseptor D2 di mesolimbik, mesokortikal, nigostriatal dan tuberoinfundibular sehingga dengan cepat menurunkan gejala positif tetapi pemakaian lama dapat memberikan efek samping berupa: gangguan ekstrapiramidal, tardive dyskinesia, peningkatan kadar prolaktin yang akan menyebabkan disfungsi seksual / peningkatan berat badan dan memperberat gejala negatif maupun kognitif. Selain itu APG I menimbulkan efek samping antikolinergik seperti mulut kering pandangan kabur gangguaniniksi, defekasi dan hipotensi. APG I dapat dibagi lagi menjadi potensi tinggi bila dosis yang digunakan kurang atau sama dengan 10 mg diantaranya adalah trifluoperazine, fluphenazine, haloperidol dan pimozide. Obat-obat ini digunakan untuk mengatasi sindrom psikosis dengan gejala dominan apatis, menarik diri, hipoaktif, waham dan halusinasi. Potensi rendah bila dosisnya lebih dan 50 mg diantaranya adalah Chlorpromazine dan thiondazine digunakan pada penderita dengan gejala dominan gaduh gelisah, hiperaktif dan sulit tidur. APG II sering disebut sebagai serotonin dopamin antagonis (SDA) atau antipsikotik atipikal. Bekerja melalui interaksi serotonin dan dopamin pada ke empat jalur dopamin di otak yang menyebabkan rendahnya efek samping extrapiramidal dan sangat efektif mengatasi gejala negatif. Obat yang tersedia untuk golongan ini adalah clozapine, olanzapine, quetiapine dan rispendon.
     
  • Pengaturan Dosis
    Dalam pengaturan dosis perlu mempertimbangkan:

    • Onset efek primer (efek klinis) : 2-4ininggu
      Onset efek sekunder (efek samping) : 2-6 jam
    • Waktu paruh  : 12-24 jam (pemberian 1-2 x/hr)
    • Dosis pagi dan malam dapat berbeda (pagi kecil, malam besar) sehingga tidak mengganggu kualitas hidup penderita.
    • Obat antipsikosis long acting : fluphenazine decanoate 25 mg/cc atau haloperidol decanoas 50 mg/cc, IM untuk 2-4ininggu. Berguna untuk pasien yang tidak/sulitininum obat, dan untuk terapi pemeliharaan.
       
  • Cara / Lama pemberian Mulai dengan dosis awal sesuai dengan dosis anjuran dinaikkan setiap 2-3 hr sampai mencapai dosis efektif (sindrom psikosis reda), dievaluasi setiap 2ininggu bila pertu dinaikkan sampai dosis optimal kemudian dipertahankan 8-12ininggu. (stabilisasi). Diturunkan setiap 2ininggu (dosis maintenance) lalu dipertahankan 6 bulan sampai 2 tahun ( diselingi drug holiday 1-2/hari/minggu) setelah itu tapering off (dosis diturunkan 2-4ininggu) lalu stop.
    Untuk pasien dengan serangan sindrom psikosis multiepisode, terapi pemeliharaan paling sedikit 5 tahun (ini dapat menurunkan derajat kekambuhan 2,5 sampai 5 kali). Pada umumnya pemberian obat antipsikosis sebaiknya dipertahankan selama 3 bulan sampai 1 tahun setelah semua gejala psikosis reda sama sekali. Pada penghentian mendadak dapat timbul gejala cholinergic rebound gangguan lambung, mual, muntah, diare, pusing dan gemetar. Keadaan ini dapat diatasi dengan pemberian anticholmnergic agent seperti injeksi sulfas atropin 0,25 mg IM, tablet trhexyphenidyl 3×2 mg/hari.

II.  Terapi Psikososial

Ada beberapa macam metode yang dapat dilakukan antara lain :

  • Psikoterapi individual
    • Terapi suportif
    • Sosial skill training
    • Terapi okupasi
    • Terapi kognitif dan perilaku (CBT)
  • Psikoterapi kelompok
  • Psikoterapi keluarga
  • Manajemen kasus
  • Assertive Community Treatment (ACT)

Gangguan Psikosis lainnya

Gangguan Waham
Pedoman Diagnosis

  • Waham-waham merupakan satu-satunya ciri khas klinik atau gejala yang paling mencolok. Waham-waham tersebut (baik tunggal maupun sebagai suatu sistem waham) harus sudah ada sedikitnya 3 bulan lamanya, dan harus bersifat khas pribadi (personal) dan bukan budaya setempat
  • Gejala-gejala depresif atau bahkan suatu episode depresif yang lengkap I “full-blown”, mungkin terjadi secara intermiten, dengan syarat bahwa waham-waham tersebut menetap pada saat-saat tidak terdapat gangguan afektif itu.
  • Tidak boleh ada bukti-bukti tentang adanya penyakit otak
  • Tidak boleh ada halusinasi auditonk atau hanya kadang-kadang saja ada dan bersifat sementara
  • Tidak ada riwayat gejala-gejala skizofrenia (waham dikendalikan, siar pikiran, penumpulan afek, dsb)  

Gangguan Psikotlk Akut dan Sementara

Pedoman Diagnostik

  • Menggunakan urutan diagnosis yang mencerminkan urutan prioritas yang diberikan untuk ciri-ciri utama terpilih dari gangguan ini. Urutan prioritas yang dipakai ialah:
    1. Onset yang akut (dalam masa 2ininggu atau kurang = jangka waktu gejala­gejala psikotik menjadi nyata dan mengganggu sedikitnya beberapa aspek kehidupan dan pekerjaan sehari-hari, tidak termasuk periode prodromal yang gejalanya sering tidak jelas) sebagai ciri khas yang menentukan seluruh kelompok;
    2. Adanya sindrom yang khas (berupa “polimorfik” = beraneka ragam dan berubah cepat, atau “schizophrenia-like” = gejala skizofrnik yang khas);
    3. Adanya stress akut yang berkaitan (tidak selalu ada)
    4. Tanpa diketahui berapa lama gangguan akan berlangsung
      • Tidak ada gangguan dalam kelompok ini yang memenuhi kriteria episode manik atau episode depresif, walaupun perubahan emosional dan gejala­gejala afektif individual dapat menonjol dan waktu ke waktu
      • Tidak ada penyebab organic, seperti trauma kapitis, delirium, atau demensia. Tidak merupakan intoksikasi akibat penggunaan alcohol atau obat-obatan.

Gangguan Skizoafektif

Pedoman Diagnostik :

  1. Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejal-gejala definitive adanya skizofrenia dan gangguan afektif sama-sama menonjol pada saat yang bersamaan (simultaneously), atau dalam beberapa hari yang satu sesudah yang lain, dalam satu episode penyakit yang sama, dan bilamana, sebagai konsekuensi dari ini, episode penyakit tidak memenuhi kritena baik skizofrenia maupun episode manik atau depresif
  2. Tidak dapat digunakan untuk pasien yang menampilkan gejala skizofrenia dan gangguan afektif tetapi dalam episode penyakit yang berbeda
  3. Bila seorang pasien skizofrenik menunjukkan gejala depresif setelah mengalami suatu episode psikotik, diberi kode diagnosis F20.4 (Depresi Pasca-skizofrenia). Beberapa pasien dapat mengalami episode skizoafektif berulang, baik berjenis manik maupun depresif atau campuran dari keduanya. Pasien lain mengalami satu atau dua episode skizoafektif terselip di antara episode manik atau depresif.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Agus D, Pendekatan holistik terhadap Skizofrenia, dalam majalah psikiatri, Jakarta, 2005:1.
  2. World Health Organization Collaborating Centre for Mental Health and Substance Abuse, Schizophrenia : General lmformation, Australia, 1997.
  3. Buchanan RW, Carpenter WT, Schizophrenia : introduction and overview, in: Kaplan and Sadock comprehensive textbook of psychiatry, 7th ed, Philadelphia: lippincott Williams and wilkins :2000: 1096-1109.
  4. Maslim R, skizofrenla, gangguan skizotipal dan gangguan waham, dalam PPDGJ III, Jakarta, 1998 :46-57.
  5. Kaplan, Hl, Sadock BJ, Grebb JA, Skizofrenia, dalam : Sinopsis psikiatri, ed 7, vol 1, 1997 : 685-729.
  6. American Psychiatric Association, Schizophrenia and other psychotic disorders, in diagnostic and statistical manual of mental disorders, 4th ed, Washington, DC, 1994:273-286.
  7. Sapiie TWA, Patobiologi skizofrenia dan peranan serotonin dalam gejala negatif skizofrenia, dalam majalah psikiatri, Jakarta, 2007 : 77-89
  8. National Institute of Mental Health, National Institutes of Health, http://www.nimh.nih.gov, what is schizophrenia?
  9. Norquist GS, Narrow WE, Schizophrenia : Epidemiology, in : Kaplan and Sadock Comprehensive textbook of psychiatry, 7th ed, Philadelphia : Lippincott Williams and wilkins, 2000:1110-1117.
  10. Gur RE, Gur RC, Schizophrenia: Brain structure and function in: Kaplan and Sadock Comprehensive textbook of psychiatry, 7th ed, Philadelphia : Lippincott Williams and wilkins, 2000:1117-1129
  11. Kendler KS, Schizophrenia : Genetics, in : Kaplan and Sadock Comprehensive textbook of psychiatry, 7th ed, Philadelphia: Lippincott Williams and wilkins, 2000: 1147-1169
  12. Maramis WF, Skizofrenia, dalam : Catatan ilmu kedokteran jiwa, ed 7, Surabaya, 1998 :215-235.
  13. Agus D, Difungsi kognitif pada skizofrenia, dalam : majalah psikiatri, Jakarta 2005: 51-67
  14. Sinaga BR, Skizofrenia dan Diagnosis banding, Jakarta 2007:12-137.
  15. Maslim R, Penggunaan kllnis obat psikotropik, ed 2, Jakarta, 2001 : 14-22.
  16. Surilena, lntervensi psikososial dalam manajemen skizofrenia, dalam : majalah psikiatri, Jakarta 2005 :69-83.

 

GANGGUAN AFEKTIF
Dr. R. Surya Widya, SpKJ

Jl. Raya Kelapa Kopyor Blok CE.2, No.10, Jakarta Utara

Dosen Pembimbing Kepaniteraan Psikiatri FK UKI, FK Yarsi & FK Ukrida

Dosen Psikologi STAB Nalanda

Dosen Agama Buddha FK/FKG Usakti

Menulis buku 300 tanya jawab tentang kesehatan jiwa tahun 2006

 

EPISODE DEPRESI

Biasanya berlangsung paling sedikit 2 minggu lamanya, memperlihatkan paling sedikit empat dari gejala-gejala berikut ini, yaitu:

  • Sedih/murung hampir sepanjang waktu
  • Kehilangan minat/gairah hidup
  • kehilangan nafsu makan, (penurunan berat badan)
  • perubahan pola tidur, (insomnia atau hipersomnia)
  • perubahan pola tingkah laku, (serba lamban)
  • kekurangan energi, (mudah lelah lesu)
  • merasa bersalah/berdosa,
  • kesulitan berpikir (susah konsentrasi)
  • kesulitan membuat keputusan
  • berulang-ulang memikirkan tentang kematian dan ingin bunuh diri.

ETIOLOGI

Faktor psikososial : ada teori yang menjelaskan bahwa situasi stres akan menyebabkan perubahan pada beberapa jenis neurotransmitter dan pemindaian intraneuronal di otak, yang selanjutnya menyebabkan kehilangan fungsi neuron tertentu dan hambatan yang berlebihan pada hubungan dalam synaps.

Menurut catatan yang ada di USA, peristiwa kehidupan yang paling banyak menyebabkan depresi adalah kehilangan orang tua sebelum berusia 11 tahun, kemudian kehilangan pasangan hidup, dan kehilangan pekerjaan.
 

GAMBARAN KLINIK

Episode depresi dapat terjadi pada gangguan depresi dan gangguan mania. Hanya dengan memperhatikan riwayat penyakit terdahulu dan riwayat keluarga, maka kita baru dapat membedakannya dengan jelas.

Gejala pokok dan depresi adalah perasaan yang sedih dan kehilangan interes terhadap segala sesuatu. Pasien dapat mengungkapkan bahwa mereka merasa murung, tidak ada harapan, terbuang dan tidak berharga. Pasien sering mengaku bahwa perasaannya sakit sekali, dan kadang-kadang sampai tidak bisa menangis.

Hampir 2/3 pasien depresi memikirkan untuk bunuh diri dan hanya 10-15 % yang melakukan percobaan bunuh diri. Mereka yang dibawah ke rumah sakit karena percobaan bunuh diri akan lebih berhasil bunuh diri daripada mereka yang belum pernah dirawat di rumah sakit. Beberapa pasien yang tidak menyadari bahwa mereka menderita depresi, namun terlihat bahwa mereka menjauh dari keluarga, teman­teman dan aktivitas yang mereka sukai. Hampir semua pasien (97%) mengeluh bahwa mereka kekurangan energi, sukar menyelesaikan tugas mereka, prestasi belajar menurun, prestasi pekerjaan menurun, kurang motivasi untuk menerima tugas atau proyek baru. Sekitar 80% pasien depresi mengeluh tentang kesulitan tidur,

terutama suka terbangun diri hari atau sering terbangun di malam hari, ketika mereka sedang merenungkan tentang masalah mereka. Banyak pasien depresi kehilangan nafsu makan dan kehilangan berat badan, tetapi ada juga yang mengalami penambahan nafsu makan dan kenaikan berat badan, juga tidur lebih lama dari biasanya.

Cemas adalah gejala yang juga dialami oleh 90% pasien depresi. Perubahan dari pola makan dan pola istirahat dapat menyebabkan timbulnya penyakti lain seperti diabetes, hipertensi, gangguan sesak napas kronik dan gangguan jantung. Ada juga yang mengalami gangguan haid dan penurunan gairah seksual. Masalah seksual kadang-kadang pasien dirujuk secara keliru kepada penasehat perkawinan dan terapi seksual, oleh karena dokter yang merujuk gagal mengenali gangguan depresi yang menjadi landasan dari gangguan seksual tersebut. Dalam beberapa studi ditemukan bahwa terdapat 84% pasien depresi mengalami gangguan untuk berkonsentrasi dan 67% mengalami gangguan dalam berpikir.

Fobia sekolah, kemelekatan pada orang tua boleh jadi merupakan gejala depresi pada anak. Prestasi akademis yang buruk, penyalahgunaan zat, tingkah laku antisosial, seks bebas, bolos sekolah dan kabur dari rumah mungkin merupakan gejala depresi pada remaja.

Depresi lebih sering dialami oleh orang tua, terutama yang berhubungan dengan tingkat sosial ekonomi yang rendah, kehilangan pasangan hidup, penyakit fisik yang tidak ada harapan untuk sembuh dan isolasi sosial. Pada umumnya gangguan depresi pada orang tua tidak terdiagnosis dan tidak diterapi secara adekuat.
 

STATUS MENTAL

  • Tampilan umum:
    • Retardasi psikomotor
    • Agitasi psikomotor
      • Tangan seperti meremas-remas
      • Mencabuti rambut
    • Tubuh membungkuk
    • Gerak gerik lamban
    • Menghindari kontak mata
  • Alam perasaan:
    • Murung/sedih
    • Menarik diri
    • Segala aktivitas berkurang
  • Gangguan persepsi:
    • Waham
      • Dosa, tidak benharga, kejar (serasi afek)
    • Halusinasi
      • Akustik (yang menyalahkan atau menuduh)
  • Gangguan pikiran:
    • Berpikir negatif tentang kehilangan, rasa bersalah, bunuh diri dan mati
    • Bisa terhambat
    • Miskin (tidak produktif)
  • Gangguan orientasi:
    • Pada umumnya tidak terganggu
  • Gangguan daya ingat:
    • 50-75% sulit konsentrasi dan pelupa
  • Gangguan pengendalian diri:
    • 10-15% melakukan percobaan bunuh diri (suicide)
    • Ingin bunuh orang (homicide)
    • Kurang motivasi dan kurang energi untuk melakukan tindakan impulsif
    • Hati-hati dengan paradoxical suicide
  • Tambahan:
    • Melebih-lebihkan keburukan atau kegagalan diri sendiri Mengurangi kebaikan atau keberhasilan diri sendiri (perlu cross check dari keluarga dekat/kerabat dekat/pendamping.

PERJALANAN PENYAKIT

Penyakit gangguan depresi yang tidak diobati bisa benlangsung sampai 6-13 bulan lamanya; apabila diobati bisa berlangsung sampai 3 bulan. Setelah obat antidepresi dihentikan, tidak sampai 3 bulan biasanya bisa kumat lagi.
 

PROGNOSIS

Pada umumnya gangguan depresi cenderung menjadi gangguan yang menahun, kumat-kumatan. Rata-rata 25 % pasien kumat dalam waktu 6 bulan setelah keluar dan perawatan di rumah sakit jiwa. Yang tidak sembuh-sembuh biasanya berlanjut menjadi pasien dengan gangguan disthymic.
 

TERAPI

Ada 3 hal yang perlu diperhatikan

  1. keselamatan pasien harus didahulukan
  2. diagnosis harus ditegakkan dengan benar
  3. rencana terapi tidak hanya menghilangkan gejala, juga memperhatikan aspek pemulihan kedepan

Perawatan di rumah sakit : indikasi rawat adalah untuk penegakkan diagnosis, menghindarkan resiko bunuh diri atau bunuh orang dan untuk mengatasi perawatan diri yang terabaikan

  • Terapi psikososial:
    • Terapi kognitif
    • Terapi interpersonal
    • Terapi tingkah laku
    • PsikoTerapi
    • Terapi keluarga
  • Terapi obat:
    • Antidepresi (trisiklik, tetnasiklik, MAO-A inhibitor, SSRI dll)
    • Lithium carbonate
    • Boleh ditambahkan obat anticemas apabila diperlukan
    • Boleh diberikan obat antipsikosis apabila ada gejala psikotik
  • ECT:
    Alasan:

    • obat-obatan kurang efektif
    • pasien tidak bisa menenima obat-obatan
    • kesembuhan segena dengan alasan klinis

 

EPISODE MANIA

Biasanya paling sedikit belangsung selama satu minggu, afeknya meningkat, lebih gembira, mudah tersinggung atau membumbung tinggi. Ditambah dengan :

  • rasa percaya harga diri yang meningkat (merasa hebat/megalomania)
  • kebutuhan akan tidur berkurang
  • lebih banyak bicara
  • flight of ideas (loncat gagasan)
  • agitasi psikomotor, ingin segera memenuhi keinginannya
  • boros, banyak belanja, banyak telepon
  • perhatian mudah beralih
  • banyak melakukan hal-hal yang menghibur (menari, menyanyi dll)
  • banyak melakukan transaksi tanpa perhitungan masak yang merugikan

Pasien mania yang tidak dirawat seringkali minum alkohol secara berlebihan, pasien sukar dicegah untuk menggunakan telepon secara berlebihan (interiokal di pagi hari). Mereka juga suka berjudi secara patologik, buka baju di tempat umum, mengenakan baju atau perhiasan yang warnanya sangat mencolok, juga suka mengabaikan hal-hal kecil seperti tidak meletakkan gagang telepon secara benar ditempatnya. Pasien suka terlibat secara berlebihan dengan masalah keagamaan, politik, keuangan, seksual dan ide pengejaran yang berkembang dalam sistem waham yang kompleks. Terkadang mereka juga bisa regresi seperti bermain dengan urine dan feces sendiri.
  

GAMBARAN KLINIK

Tampilan umum :
bersemangat, banyak bicara, melawak, hiperaktif. Ada kalanya mereka memperlihatkan gejala psikotik dan bingung sehingga perlu difiksasi dan diberikan suntikan antipsikotik.

Alam perasaan, emosi :
perasaannya hiperthym, mudah tersinggung, tidak mudah frustrasi, mudah marah dan menyerang. Emosinya tidak stabil, bisa cepat berubah dan gembira ke depresi dalam beberapa menit saja.

Cara bicara:
bicaranya sukar dipotong, bombastis, volumenya keras, bermain dengan kata-kata, bercanda, berpantun, dan tidak relevan. Selanjutnya bisa terjadi loncat gagasan, asosiasi menjadi longgar, konsentrasi berkurang, bisa inkoheren dan neologisme sehingga sukar dibedakan dengan pasien skizofrenia.

Gangguan persepsi:
75 % pasien mania mengalami waham, yang biasanya berhubungan dengan kekayaan, kemampuan yang luar biasa, kekuatan atau kehebatan yang luar biasa. Kadang-kadang ada waham dan halusinasi yang kacau dan tidak serasi.

Gangguan pikiran:
Pikiran pasien terisi dengan rasa percaya diri yang berlebihan, merasa hebat. Mereka mudah teralihkan perhatiannya, sangat produktif dan tidak terkendalikan.

Gangguan sensorium dan fungsi kognitif:
Ada sedikit gangguan pada fungsi sensonum dan kognitif, terkadang jawaban tidak sesuai dengan pertanyaan meskipun tidak ada gangguan orientasi dan daya ingat.

Gangguan pengendalian diri:
Sekitar 75 % pasien mania suka mengancam dan menyerang. Ada juga yang melakukan homicide dan suicide. Mereka sukar menahan diri yang tidak melakukan hal-hal yang merugikan kalau sedang tersinggung atau marah.

Tilikan:
Pada umumnya pasien mania mengalami gangguan tilikan. Mereka mudah melanggar hukum, pelanggaran dibidang seksual dan keuangan, kadang-kadang mereka menyebabkan kebangkrutan ekonomi keluarga.

Reliabilitas:
Pasien mania sering berbohong ketika memberikan informasi, karena berdusta dan menipu adalah biasa untuk mereka.
 

DIAGNOSIS

Biasanya telah berlangsung menahun, afek yang hiperthym, banyak bicara (logorhoe), gerak gerik motorik yang aktif, flight of ideas, kurang tidur, agresif dan boros.
 

PERJALANAN PENYAKIT

Biasanya berlangsung menahun, kumat-kumatan. Pasien biasanya kumat oleh karena hal-hal yang tidak berarti yang menyinggung hatinya. Sekitar 30 % mengalami kemerosotan fungsinya sebagai manusia.
 

TERAPI

  1. Dirawat (bila perlu)
  2. Kejang listrik (ECT)
  3. Psikofarmaka
    1. Lithium
    2. Divalproex
    3. Olanzapine
    4. Clonazepam
    5. Lorazepam
    6. Haloperidol
  4. Psikososial
  1.  
    • terapi keluarga
    • terapi interpersonal
    • terapi tingkah laku
    • therapeutic community
    • kurangi jumlah dan berat stressor

Bahan bacaan:
Kaplan & Saddock: Concise textbook of Clinical Psychiatry, second edition, Lippincott William & Wilkins, 2004.

 

TATALAKSANA DIAGNOSIS DAN TERAPI GANGGUAN ANXIETAS
  Dr. Evalina Asnawi Hutagalung, Sp.KJ

(021) 7328321,  HP.: 08128378757

Sensasi anxietas / cemas sering dialami oleh hampir semua manusia. Perasaan tersebut ditandai oleh rasa ketakutan yang difius, tidak menyenangkan, seringkali disertai oleh gejala otonomik, seperti nyeri kepala, berkeringat, palpitasi, gelisah, dan sebagainya.  Kumpulan gejala tertentu yang ditemui selama kecemasan cenderung bervaniasi, pada setiap orang tidak sama.

Dalam praktek sehari-hani anxietas sering dikenal dengan istilah perasaan cemas, perasaan bingung, was-was, bimbang dan sebagainya, dimana istilah tersebut lebih merujuk pada kondisi normal.  Sedangkan gangguan anxietas merujuk pada kondisi patologik.

Anxietas sendiri mempunyai rentang yang luas dan normal sampai level yang moderat misalnya pertandingan sepak bola, ujian, wawancara untuk masuk kerja mempunyai tingkat anxietas yang berbeda.

Anxietas sendiri dapat sebagai gejala saja yang terdapat pada gangguan psikiatrik, dapat sebagai sindroma pada neurosis cemas dan dapat juga sebagai kondisi normal.
Anxietas normal sebenarnya sesuatu hal yang sehat, karena merupakan tanda bahaya tentang keadaan jiwa dan tubuh manusia supaya dapat mempertahankan diri dan anxietas juga dapat bersifat konstruktif, misalnya seorang pelajar yang akan menghadapi ujian, merasa cemas, maka ia akan belajar secara giat supaya kecemasannya dapat berkurang.

Anxietas dapat bersifat akut atau kronik. Pada anxietas akut serangan datang mendadak dan cepat menghilang. Anxietas kronik biasanya berlalu untuk jangka waktu lama walaupun tidak seintensif anxietas akut, pengalaman penderitaan dari gejala cemas ini oleh pasien biasanya dirasakan cukup gawat untuk mempenganuhi prestasi kerjanya.

Bila dilihat dan segi jumlah, maka orang yang menderita anxietas kronik jauh lebih banyak daripada anxietas akut.

DIFINISI ANXIETAS

“Anxietas adalah perasaan yang difius, yang sangat tidak menyenangkan, agak tidak menentu dan kabur tentang sesuatu yang akan terjadi. Perasaan ini disertai dengan suatu atau beberapa reaksi badaniah yang khas dan yang akan datang berulang bagi seseorang tertentu.  Perasaan ini dapat berupa rasa kosong di perut, dada sesak, jantung berdebar, keringat berlebihan, sakit kepala atau rasa mau kencing atau buang air besan. Perasaan ini disertai dengan rasa ingin bergerak dan gelisah. “ ( Harold I. LIEF)

“Anenvous condition of unrest” ( Leland E. HINSIE dan Robert S CAMBELL)

“Anxietas adalah perasaan tidak senang yang khas yang disebabkan oleh dugaan akan bahaya atau frustrasi yang mengancam yang akan membahayakan rasa aman, keseimbangan, atau kehidupan seseorang individu atau kelompok biososialnya.” ( J.J GROEN)

 

 GEJALA UMUM ANXIETAS

Gejala psikologik:
Ketegangan, kekuatiran, panik, perasaan tak nyata, takut mati , takut ”gila”, takut
kehilangan kontrol dan sebagainya.

Gejala fisik:
Gemetar, berkeringat, jantung berdebar, kepala terasa ringan, pusing, ketegangan otot, mual, sulit bernafas, baal, diare, gelisah, rasa gatal, gangguan di lambung dan lain-lain.
 
Keluhan yang dikemukakan pasien dengan anxietas kronik seperti: rasa sesak nafas; rasa sakit dada; kadang-kadang merasa harus menarik nafas dalam; ada sesuatu yang menekan dada; jantung berdebar; mual; vertigo; tremor; kaki dan tangan merasa kesemutan; kaki dan tangan tidak dapat diam ada perasaan harus bergerak terus menerus; kaki merasa lemah, sehingga berjalan dirasakan beret; kadang- kadang ada gagap dan banyak lagi keluhan yang tidak spesifik untuk penyakit tertentu. Keluhan yang dikemukakan disini tidak semua terdapat pada pasien dengan gangguan anxietas kronik, melainkan seseorang dapat saja mengalami hanya beberapa gejala 1 keluhan saja. Tetapi pengalaman penderitaan dan gejata ini oleh pasien yang bersangkutan biasanya dirasakan cukup gawat.
 

GANGGUAN ANXIETAS

Beberapa teori tentang gangguan anxietas:

  1. TEORI PSIKOLOGIS
    • Teori Psikoanalitik
    • Teori perilaku
    • Teori Eksistensial
  2. TEORI BIOLOGIS
    • Susunan Saraf Otonom
    • Neurotransmiten
    • Penelitian genetika
    • Penelitian Pencitraan Otak

Teori psikoanalitik:
Freud menyatakan bahwa kecemasan sebagai sinyal, kecemasan menyadarkan ego untuk mengambil tindakan defensif terhadap tekanan dari dalam diri. misal dengan menggunakan mekanisme represi, bila berhasil maka terjadi pemulihan keseimbangan psikologis tanpa adanya gejala anxietas. Jika represi tidak berhasil sebagai suatu pertahanan, maka dipakai mekanisme pertahanan yang lain misalnya konvensi, regresi, ini menimbulkan gejala.
 

Teori perilaku:
teori perilaku menyatakan bahwa kecemasan adalah suatu respon yang dibiasakan terhadap stimuli lingkungan spesifik. Contoh : seorang dapat belajar untuk memiliki respon kecemasan internal dengan meniru respon kecemasan orang tuanya.
 
Teori eksistensial:
Konsep dan teori ini adalah, bahwa seseorang menjadi menyadari adanya kehampaan yang menonjol di dalam dirinya. Perasaan ini lebih mengganggu daripada penerimaan tentang kenyataan kehilangan/ kematian seseorang yang tidak dapat dihindari. Kecemasan adalah respon seseorang terhadap kehampaan eksistensi tersebut.
 
Sistem saraf otonom:
Stimuli sistem saraf otonom menyebabkan gejala tertentu. Sistem kardiovaskular takikardi, muskular nyeri kepala, gastrointestinal diare dan sebagainya.
 
Neurotransmiter:
Tiga neurotrasmiter utama yang berhubungan dengan kecemasan berdasarkan penelitian pada binatang dan respon terhadap terapi obat yaitu : norepinefrin, serotonin dan gamma-aminobutyric acid.
 
Penelitian genetika:
Penelitian ini mendapatkan, hampir separuh dan semua pasien dengan gangguan panik memiliki sekurangnya satu sanak saudara yang juga menderita gangguan.
 
Penelitian pencitraan otak:
Contoh: pada gangguan anxietas didapati kelainan di korteks frontalis, oksipital, temporalis. Pada gangguan panik didapati kelainan pada girus para hipokampus.
 

BENTUK GANGGUAN ANXIETAS

  • Gangguan Panik
  • Gangguan Fobik
  • Gangguan Obsesif-kompulsif
  • Gangguan Stres Pasca Trauma
  • Gangguan stres Akut
  • Gangguan Anxietas Menyeluruh.

GANGGUAN PANIK

  • Ada dua kriterla Gangguan panik : gangguan panik tanpa agorafobia dan gangguan panik dengan agorofobia kedua gangguan panik ini harus ada serangan panik.

GAMBARAN KLINIS

Serangan panik pertama seringkali spontan, tanpa tanda mau serangan panik, walaupun serangan panik kadang-kadang terjadi setelah luapan kegembiraan, kelelahan fisik, aktivitas seksual atau trauma emosional. Klinisi harus berusaha untuk  mengetahui tiap kebiasaan atau situasi yang sering mendahului serangan panik.  Serangan sering dimulai dengan periode gejala yang meningkat dengan cepat selama 10 menit. Gejala mental utama adalah ketakutan yang kuat, suatu perasaan ancaman kematian dan kiamat. Pasien biasanya tidak mampu menyebutkan sumber ketakutannya. Pasien mungkin merasa kebingungan dan mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian. Tanda fisik adalah takikardia, palpitasi, sesak nafas dan berkeringat. Pasien seringkali mencoba untuk mencari bantuan. Serangan biasanya berlangsung 20 sampai 30 menit.
Agorafobma : pasien dengan agorafobia akan menghindari situasi dimana ia akan sulit mendapatkan bantuan. Pasien mungkin memaksa bahwa mereka harus ditemani setiap kali mereka keluar rumah.
 

GEJALA PENYERTA

Gejala depresi seringkali ditemukan pada serangan panik dan agorafobia, pada beberapa pasien suatu gangguan depresi ditemukan bersama-sama dengan gangguan panik.  Penelitian telah menemukan bahwa resiko bunuh diri selama hidup pada orang dengan gangguan panik adalah lebih tinggi dibandingkan pada orang tanpa gangguan mental.
 

DIAGNOSA BANDING

Penyakit kardiovaskuler : anemia, hipertensi, infark iniokardium, dsb.
Penyakit pulmonum : asma, hiperventilasi, emboli paru-paru.
Penyakit neurologis : penyakit serebrovaskular, epilepsi, inigrain, tumor, dsb.
Penyakit endokrin : diabetes, hipertroidisme, hipoglikemi, sindroma pramestruasi, gangguan menopause, dsb.
lntoksikasi obat, putus obat.
Kondisi lain : anafilaksis, gangguan elektrolit, keracunan logam berat, uremia dsb
 

PEDOMAN DIAGNOSTIK AGORAFOBIA

  • Kecemasan berada di dalam suatu tempat atau situasi dimana kemungkinan sulit meloloskan diri
  • Situasi dihindari, misal jarang bepergian
  • Kecemasan atau penghindaran fobik bukan karena gangguan mental lain, misal fobia sosial

PEDOMAN DIAGNOSTIK GANGGUAN PANIK

  • Serangan panik rekuren dan tidak diharapkan
  • Sekurangnya satu serangan , diikuti satu atau lebih : kekawatiran menetap akan mengalami serangan tambahan, ketakutan tentang arti serangan, perubahan perilaku bermakna berhubungan dengan serangan
  • Serangan panik bukan karena efek fisiologis langsung atau suatu kondisi medis umum
  • Serangan panik tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan mental lain. misal gangguan obsesif – kompulsif.
  • Gangguan panik bisa dengan agorafobia atau tanpa agorafobia

TERAPI

Konseling dan medikasi.
Konseling: ajari pasien untuk diam ditempat sampai serangan panik berlalu, konsentrasikan diri untuk mengatasi anxietas bukan pada gejala fisik, rileks, latihan pernafasan. Identifikasikan rasa takut selama serangan. Diskusikan cara menghadapi rasa takut saya tidak mengalami serangan jantung, hanya panik, akan berlalu.

Medikasi : banyak pasien tertolong melalui konseling dan tidak membutuhkan medikasi. Bila serangan sering dan berat, atau secara bermakna dalam keadaan depresi beri antidepresan (imipramin 25 mg malam hari, dosis bisa sampai 100 150 mg malam selama 2 minggu ). Bila serangan jarang dan terbatas beri anti anxietas, jangka pendek (lorazepam 0,5 1 mg 3 dd 1 atau alprazolam 0,25 1 mg 3 dd 1) hindari pemberian jangka panjang dan pemberian medikasi yang tidak perlu.
  

GANGGUAN FOBIK

Penelitian epidemiologis di Amerika Serikat menemukan 5 10 persen populasi menderita gangguan ini.  FOBIA adalah suatu ketakutan yang tidak rasional yang menyebabkan penghindaran yang disadari terhadap obyek, aktivitas, atau situasi yang ditakuti.
Fobia spesifik: takut terhadap binatang, badai, ketinggian, penyakit, cedera, dsb
Fobia sosial: takut terhadap rasa memalukan di dalam berbagai lingkungan sosial seperti berbicara di depan umum, dsb
  

PEDOMAN DIAGNOSTIK

  • Rasa takut yang jelas, menetap dan berlebihan atau tidak beralasan (obyek /situasi)
  • Pemaparan dengan stimulus fobik hampir selalu mencetuskan kecemasan
  • Menyadari bahwa rasa takut adalah berlebihan
  • Situasi fobik dihindari

TERAPI

Konseling dan medikasi: dorong pasien untuk dapat mengatur pernafasan, membuat daftar situasi yang ditakuti atau dihindari, diskusikan cara-cara menghadapi rasa takut tersebut. Dengan konseling banyak pasien tidak membutuhkan medikasi. Bila ada depresi bisa diberi antidepresan lmipramin 50 150 mg/ hari. Bila ada anxietas beri antianxietas dalam waktu singkat, karena bisa menimbulkan ketergantungan. Beta blokerdapat mengurangi gejala fisik.  Konsultasi spesialistik bila rasa takut menetap
 

GANGGUAN OBSESIF-KOMPULSIF

Prevalensi seumur hidup gangguan obsesif-kompulsif pada populasi umum diperkirakan adalah 2-3 persen.
OBSESIF adalah pikiran, perasaan, ide yang berulang, tidak bisa dihilangkan dan tidak dikehendaki.
KOMPULSIF adalah tingkah-laku yang berulang, tidak bisa dihilangkan dan tidak dikehendaki.
 

PEDOMAN DIAGNOSIS

= Pikiran, impuls, yang berulang
= Perilaku yang berulang
= Menyadari bahwa obsesif-kompulsif adalah berlebihan atau tidak beralasan
= Obsesif-kompulsif menyebabkan penderitaan
= Tidak disebabkan oleh suatu zat atau kondisi medis umum.
 

DIAGNISIS BANDING

Kondisi fisik
- Gangguan neurologis (epilepsi lobul temporalis, komplikasi trauma, dsb)
Kondisi psikiatrik
- Skizofrenia, gangguan kepribadian obsesif-kompulsif, fobia, gangguan depresif.
 

TERAPI

Konseling dan medikasi : mengenali, menghadapi, menantang pikiran yang berulang dapat mengurangi gejala obsesd, yang pada akhirnya mengurangi perilaku kompulsif. Latihan pernafasan. Bicarakan apa yang akan dilakukan pasien untuk mengatasi situasi, kenali dari perkuat hal yang berhasil mengatasi situasi. Bila diperlukan bisa diberi Klomipramin 100 – 150 mg, atau golongan Selected Serotonin Reuptake Inhibitors.
Konsultasi spesialistik bila kondisi tidak berkurang atau menetap.
 

GANGGUAN STRES PASCA-TRAUMA

Pasien dapat diklasifikasikan mendenta gangguan stres pasca-trauma, bila mereka mengalami suatu stres yang akan bersifat traumatik bagi hampir semua orang. Trauma bisa berupa trauma peperangan, bencana alam, penyerangan, pemerkosaan, kecelakaan.

Gangguan stres-pasca trauma terdiri dari: – pengalaman kembali trauma melalui mimpi dan pikiran, penghindaran yang persisten oleh penderita terhadap trauma dan penumpulan responsivitas pada penderita tersebut, kesadaran berlebihan dan persisten. Gejala penyerta yang sering dan gangguan stres pasca-trauma adalah depresi, kecemasan dan kesulitan kognitif(contoh pemusatan perhatian yang buruk)

Prevalensi seumur hidup gangguan stres pasaca-trauma diperkirakan I sampai 3 persen populasi umum, 5 sampai 15 persen mengalami bentuk gangguan yang subklinis. Walaupun gangguan stres pasca-trauma dapat terjadi pada setiap usia, namun gangguan paling menonjol pada usia dewasa muda.
 

PEDOMAN DIAGNOSTIK STRES PASCATRAUMA

  1. Telah terpapar dengan peristiwa traumatik, didapati:
    • mengalami, menyaksikan, dihadapkan dengan peristiwa yang berupa ancaman kematian, atau kematian yang sesungguhanya atau cedera yang serius,atau ancaman integritas fisik diri sendiri atau orang lain
    • respon berupa rasa takut yang kuat, rasa tidak berdaya
  2. Keadan traumatik secara menetap dialami kembali dalam satu atau lebih cara berikut:
    • rekoleksi yang menderitakan, rekuren dan mengganggu tentang kejadian
    • Mimpi menakutkan yang berulang tentang kejadian
    • berkelakuan atau merasa seakan-akan kejadian traumatik terjadi kembali
    • penderitaan psikologis yang kuat saat terpapar dengan tanda internal atau eksternal yang menyimbolkan atau menyerupai suatu aspek kejadian traumatik
    • reaktivitas psikologis saat terpapar dengan tanda internal atau eksternal yang menyimbolkan atau menyerupai aspek kejadian traumatik
  3. Penghindaran stimulus yang persisten yang berhubungan dengan trauma
  4. Gejala menetap, adanya peningkatan kesadaran , seperti dua atau lebih berikut:
    kesulitan tidur, irritabilitas, sulit konsentrasi, kewaspadaan berlebihan, respon kejut
    yang berlebihan.
  5. Lama gangguan gejala B,C,D adalah lebih dari satu bulan.
  6. Gangguan menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.

 REAKSI STRES AKUT

Suatu gangguan sementara yang cukup parah yang terjadi pada seseorang tanpa adanya gangguan jiwa lain yang nyata, sebagai respons terhadap stres fisik maupun mental yang luar biasa dan biasanya menghilang dalam beberapa jam atau hari. Stresornya dapat berupa pengalaman traumatik yang luar biasa . Kerentanan individu dan kemampuan menyesuaikan diri memegang peranan dalam terjadinya dan keparahannya suatu reaksi stres akut.
 

PEDOMAN DIAGNOSTIK

Harus ada kaitan waktu yang langsung dan jelas antara terjadinya pengalaman stresor luar biasa dengan onset dan gejala. Onset biasanya setelah beberapa menit atau bahkan segera setelah kejadian. Selain itu ditemukan (a) terdapat gambaran gejala campuran yang biasanya berubah-ubah; selain gejala permulaan berupa keadaan “ terpaku” , semua gejala berikut mungkin tampak: depresif, anxietas, kemarahan, kekecewaan, overaktif dan penarikan diri, akan tetapi tidak satupun dan jenis gejala tersebut yang mendominasi gambaran klinisnya untuk waktu lama. (b) pada kasus-kasus yang dapat dialihkan dan stresomya, gejala-gejalanya dapat menghilang dengan cepat (dalam beberapa jam); dalam hal dimana stres tidak dapat dialihkan, gejala-gejala biasanya baru mulai mereda setelah 24 – 48 jam dan biasanya menghilang setelah 3 hari.
 

GANGGUAN ANXIETAS MENYELURUH

Gambaran esensial dan gangguan ini adalah adanya anxietas yang menyeluruh dan menetap (bertahan lama), Gejala yang dominant sangat bervariasi, tetapi keluhan tegang yang berkepanjangan, gemetaran, ketegangan otot, berkeringat, kepala terasa ringan, palpitasi, pusing kepala dan keluhan epigastnik adalah keluhan­keluhan yang lazim dijumpai. Ketakutan bahwa dirinya atau anggota keluarganya akan menderita sakit atau akan mengalami kecelakaan dalam waktu dekat, merupakan keluhan yang seringkali diungkapkan
 

PEDOMAN DIAGNOSTIK

Pasien harus menunjukan gejala primer anxietas yang berlangsung hampir setiap hari selama beberapa minggu, bahkan biasanya sampai beberapa bulan. Gejala-gejala ini biasanya mencakup hal-hal berikut : kecemasan tentang masa depan, ketegangan motorik, overaktivitas otonomik
 

TERAPI

Konseling dan medikasi: informasikan bahwa stres dan rasa khawatir keduanya mempunyai efek fisik dan mental. Mempelajari keterampilan untuk mengurangi dampak stres merupakan pertolongan yang paling efektif. Mengenali, menghadapi dan menantang kekhawatiran yang berlebihan dapat mengurangi gejala anxietas. Kenali kekhawatiran yang berlebihan atau pikiran yang pesimistik. Latihan fisik yang teratur sering menolong. Medikasi merupakan terapi sekunder, tapi dapat digunakan jika dengan konseling gejala menetap.  Medikasi anxietas : misal Diazepam 5 mg malam hari, tidak lebih dari 2 minggu, Beta bloker dapat membantu mengobati gejala fisik, antidepresan bila ada depresi. Konsultasi spesialistik bila anxietas berat dan berlangsung lebih dan 3 bulan.
 

GANGGUAN CAMPURAN ANXIETAS DAN DEPRESI

Kategori campuran ini harus digunakan bilamana terdapat gejala anxietas maupun depresi, di mana masing-masing tidak menunjukkan rangkaian gejala yang cukup berat untuk menegakkan diaognosis tersendiri.

 

 

 

 

 

 

 

GANGGUAN SOMATOFORM
dr. Engelberta Pardamean, SpK

JI. Kikir 57/75, Kayu Putih, Jakarta Timur

1975-1976 : Dokter Umum di RS Metro, Lampung Tengah, 1976-1980 Puskesmas Mardi Waluyo, Metro Lampung Tengah

1980-1984 : Palang Merah Indonesia Pusat

1984-1986: Direktorat RS Khusus dan Swasta Direktorat Jendral Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI , Jakarta.

1986 -1989: Direktorat Kesehatan Jiwa, DirJen Pelayanan Medik, Departemen Kesehatan RI, Jakarta

1992-2000 : Psikiater di Direktorat Kesehatan Jiwa DirJen Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI , Jakarta.

1991 – sekarang Psikiater RS Omni Medical Center

2001 – sekarang Dosen tidak tetap Fakultas Kedokteran FK UKRIDA Jakarta.

 

Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik (sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis yang adekuat. Gejala dan keluhan somatik adalah cukup serius untuk menyebabkan penderitaan emosional yang bermakna pada pasien atau gangguan pada kemampuan pasien untuk berfungsi di dalam peranan sosial atau pekerjaan. Suatu diagnosis gangguan somatoform mencerminkan penilaian klinisi bahwa faktor psikologis adalah suatu penyumbang besar untuk onset, keparahan, dan durasi gejala. Gangguan somatoform adalah tidak disebabkan oleh pura-pura yang disadari atau gangguan buatan.

Ada lima gangguan somatoform yang spesifik adalah:

  • Gangguan somatisasi ditandai oleh banyak keluhan fisik yang mengenai banyak sistem organ.
  • Gangguan konversi ditandai oleh satu atau dua keluhan neurologis.
  • Hipokondriasis ditandai oleh fokus gejala yang lebih ringan dan pada kepercayaan pasien bahwa ia menderita penyakit tertentu.
  • Gangguan dismorfik tubuh ditandai oleh kepercayaan palsu atau persepsi yang berlebih-lebihan bahwa suatu bagian tubuh mengalami cacat.
  • Gangguan nyeri ditandai oleh gejala nyeri yang semata-mata berhubungan dengan faktor psikologis atau secara bermakna dieksaserbasi oleh faktor psikologis.
    DSM-IV juga memiliki dua kategori diagnostik residual untuk gangguan somatoform:
  • Undiferrentiated somatoform, termasuk gangguan somatoform, yang tidak digolongkan salah satu diatas, yang ada selama enam bulan atau lebih.

Kriteria diagnostik untuk Gangguan Somatisasi

  1. Riwayat banyak keluhan fisik yang dimulai sebelum usia 30 tahun yang terjadi selama periode beberapa tahun dan membutuhkan terapi, yang menyebabkan gangguan bermakna dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
  2. Tiap kriteria berikut ini harus ditemukan, dengan gejala individual yang terjadi pada sembarang waktu selama perjalanan gangguan:
    1. Empat gejala nyeri: riwayat nyeri yang berhubungan dengan sekurangnya empat tempat atau fungsi yang berlainan (misalnya kepala, perut, punggung, sendi, anggota gerak, dada, rektum, selama menstruasi, selama hubungan seksual, atau selama miksi)
    2. Dua gejala gastrointestinal: riwayat sekurangnya dua gejala gastrointestinal selain nyeri (misalnya mual, kembung, muntah selain dari selama kehamilan, diare, atau intoleransi terhadap beberapa jenis makanan)
    3. Satu gejala seksual: riwayat sekurangnya satu gejala seksual atau reproduktif selain dari nyeri (misalnya indiferensi seksual, disfungsi erektil atau ejakulasi, menstruasi tidak teratur, perdarahan menstruasi berlebihan, muntah sepanjang kehamilan).
    4. Satu gejala pseudoneurologis: riwayat sekurangnya satu gejala atau defisit yang mengarahkan pada kondisi neurologis yang tidak terbatas pada nyeri (gejala konversi seperti gangguan koordinasi atau keseimbangan, paralisis atau kelemahan setempat, sulit menelan atau benjolan di tenggorokan, afonia, retensi urin, halusinasi, hilangnya sensasi atau nyeri, pandangan ganda, kebutaan, ketulian, kejang; gejala disosiatif seperti amnesia; atau hilangnya kesadaran selain pingsan).
  3. Salah satu (1)atau (2):
    1. Setelah penelitian yang diperlukan, tiap gejala dalam kriteria B tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh sebuah kondisi medis umum yang dikenal atau efek langsung dan suatu zat (misalnya efek cedera, medikasi, obat, atau alkohol)
    2. Jika terdapat kondisi medis umum, keluhan fisik atau gangguan sosial atau pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkirakan dan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium.
  4. Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti gangguan buatan atau pura-pura).

Kriteria diagnostik untuk Gangguan Konversi

  1. Satu atau lebih gejala atau defisit yang mengenai fungsi motorik volunter atau sensorik yang mengarahkan pada kondisi neurologis atau kondisi medis lain.
  2. Faktor psikologis dipertimbangkan berhubungan dengan gejala atau defisit karena awal atau eksaserbasi gejala atau defisit adalah didahului oleh konflik atau stresor lain.
  3. Gejala atau defisit tidak ditimbulkkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau berpura-pura).
  4. Gejala atau defisit tidak dapat, setelah penelitian yang diperlukan, dijelaskan sepenuhnya oleh kondisi medis umum, atau oleh efek langsung suatu zat, atau sebagai perilaku atau pengalaman yang diterima secara kultural.
  5. Gejala atau defisit menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain atau memerlukan pemeriksaan medis.
  6. Gejala atau defisit tidak terbatas pada nyeri atau disfungsi seksual, tidak terjadi semata-mata selama perjalanan gangguan somatisasi, dan tidak dapat diterangkan dengan lebih baik oleh gangguan mental lain.
    Sebutkan tipe gejala atau defisit:
    Dengan gejata atau defisit motorik
    Dengan gejala atau defisit sensorik
    Dengan kejang atau konvulsi

    Dengan gambaran campuran

Kriteria Diagnostik untuk Hipokondriasis

  1. Pereokupasi dengan ketakutan menderita, atau ide bahwa ia menderita, suatu penyakit serius didasarkan pada interpretasi keliru orang tersebut terhadap gejala­gejala tubuh.
  2. Perokupasi menetap walaupun telah dilakukan pemeriksaan medis yang tepat dan penentraman.
  3. Keyakinan dalam kriteria A tidak memiliki intensitas waham (seperti gangguan delusional, tipe somatik) dan tidakterbatas pada kekhawatiran tentang penampilan (seperti pada gangguan dismorfik tubuh).
  4. Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara kilnis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
  5. Lama gangguan sekurangnya 6 bulan.
  6. Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan kecemasan umum, gangguan obsesif-kompulsif, gangguan panik, gangguan depresif berat, cemas perpisahan, atau gangguan somatoform lain.

Sebutkan jika:

Dengan tilikan buruk: jika untuk sebagian besar waktu selama episode berakhir, orang tidak menyadari bahwa kekhawatirannya tentang menderita penyakit serius adalah berlebihan atau tidak beralasan.
 

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Dismorfik Tubuh

  1. Preokupasi dengan bayangan cacat dalam penampilan. Jika ditemukan sedikit anomali tubuh, kekhawatiran orang tersebut adalah berlebihan dengan nyat.
  2. Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
  3. Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya, ketidakpuasan dengan bentuk dan ukuran tubuh pada anorexia nervosa).

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Nyeri

  1. Nyeri pada satu atau lebih tempat anatomis merupakan pusat gambaran klinis dan cukup parah untuk memerlukan perhatian klinis.
  2. Nyeri menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
  3. Faktor psikologis dianggap memiliki peranan penting dalam onset, kemarahan, eksaserbasi atau bertahannnya nyeri.
  4. Gejala atau defisit tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau berpura-pura).
  5. Nyeri tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mood, kecemasan, atau gangguan psikotik dan tidak memenuhi kriteria dispareunia.

Tuliskan seperti berikut:

Gangguan nyeri berhubungan dengan faktor psikologis: faktor psikologis dianggap memiliki peranan besar dalam onset, keparahan, eksaserbasi, dan bertahannya nyeri.
Sebutkan jika:
Akut: durasi kurang dari 6 bulan
Kronis: durasi 6 bulan atau lebih
  

Gangguan nyeri berhubungan baik dengan faktor psikologls maupun kondisi medis umum
Sebutkan jika:
Akut: durasi kurang dari 6 bulan

Kronis: durasi 6 bulan atau lebih
Catatan: yang berikut ini tidak dianggap merupakan gangguan mental dan dimasukkan untuk mempermudah diagnosis banding.
 

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Somatoform yang Tidak Digolongkan

  1. Satu atau lebih keluhan fisik (misalnya kelelahan, hilangnya nafsu makan, keluhan
    gastrointestinal atau saluran kemih)
  2. Salah satu (1)atau (2)
    1. Setelah pemeriksaan yang tepat, gejala tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh kondisi medis umum yang diketahui atau oleh efek langsung dan suatu zat (misalnya efek cedera, medikasi, obat, atau alkohol)
    2. Jika terdapat kondisi medis umum yang berhubungan, keluhan fisik atau gangguan sosial atau pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkirakan menurut riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratonium.
  3. Gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
  4. Durasi gangguan sekurangnya enam bulan.
  5. Gangguan tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya gangguan somatoform, disfungsi seksual, gangguan mood, gangguan kecemasan, gangguan tidur, atau gangguan psikotik).
  6. Gejala tidak ditimbulkan dengan sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau berpura-pura)

 

GANGGUAN PSIKOSOMATIK

Penggunaan kata “psikosomatik “baru digunakan pada awal tahun 1980-an. Istilah tersebut dapat ditemukan pada abad ke-19 pada penulisan oleh seorang psikiater Jerman Johann Christian Heinroth dan psikiater lnggns John Charles Bucknill.
 

Nosologi DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) Psikosomatis

Untuk membuat kategori secara klinis, DSM-IV mengandung format subkategorisasi yang membuat dokter dapat menspesifikasikan jenis faktor psikologis atau tingkah laku yang mempengaruhi kondisi medis pasien. Faktor-faktor tersebut dirancang sedemikian mencakup jangkauan yang luas dari fenomena psikologis dan tingkah laku yang tampaknya mempenganuhi kesehatan fisik.

Kriteria Diagnostik Faktor Psikologis yang Mempengaruhi Kondisi Medis

  1. Adanya suatu kondisi medis umum (dikodekan dalam Aksis III)
  2. Faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi medis umum dengan salah satu cara berikut:
    1. Faktor yang mempengaruhi perjalanan kondisi medis umum ditunjukkan oleh hubungan erat antara faktor psikologis dan perkembangan atau eksaserbasi dan, atau keterlambatan penyembuhan dan, kondisi medis umum.
    2. Faktor yang mengganggu pengobatan kondisi medis umum.
    3. Faktor yang membuat risiko kesehatan tambahan bagi individu.
    4. Respons fisiologis yang berhubungan dengan stres menyebabkan atau mengeksaserbasi gejala-gejala kondisi medis umum.

Pilihlah nama bendasarkan sifat faktor psikologis (bila terdapat lebih dan satu faktor, nyatakan yang paling menonjol)
Gangguan mental mempengaruhi kondisi medis (seperti gangguan depresif berat memperiambat  pemulihan dan infark miokardium)
Gejala psikologis mempengaruhi kondisi medis (misalnya gejala depresif memperlambat pemulihan dan pembedahan; kecemasan mengeksaserbasi asthma)
Sifat kepribadlan atau gaya menghadapi masalah mempengaruhi kondisi medis (misalnya penyangkaian psikologis terhadap pembedahan pada seorang pasien kanker, perilaku bermusuhan dan tertekan menyebabkan penyakit kandiovaskular).

Perilaku kesehatan maladaptif mempengaruhi kondisi medis (misalnya tidak olahraga, seks yang tidak aman, makan benlebihan).
Respon fisiologis yang berhubungan dengan stres mempengaruhi kondisi medis umum (misalnya eksaserbasi ulkus, hipertensi, aritmia, atau tension headache yang berhubungan dengan stres).
Faktor psikologis lain yang tidak ditentukan mempengaruhi kondisi medis (misalnya faktor interpersonal, kultural, atau religius)
 

I.   Gangguan Gastrointestinal

  1. Ulkus Peptikum
    • Merupakan ulserasi pada membran mukosa lambung atau duodenum, berbatas jelas, menemus ke mukosa muskularis dan terjadi di daerah yang terkena asam lambung dan pepsin.
    • Etiologi
      Teori spesifik
    • Alexander menghipotesiskan bahwa frustasi kronis dari kebutuhan ketergantungan yang kuat menyebabkan konflik bawah sadar yang spesifik.
    • Konflik bawah sadar tersebut menyinggung ketergantungan kuat akan keinginan reseptif-oral untuk disayangi dan dicintai, menyebabkan rasa lapar dan kemarahan bawah sadar yang regresif dan kronis.
    • Reaksi dimanifestasikan secara psikologis oleh hiperaktivitas vagal persisten yang menyebabkan hipersekresi asam lambung, yang terutama jelas pada orang yang memiliki predisposisi genetik. Pembentukan ulkus dapat terjadi.
    • Faktor genetik dan kerusakan atau penyakit organ yang telah ada sebelumnya (contohnya gastritis)adalah penyebab yang penting.
    • Terapi
    • Psikoterapi diarahkan pada konflik ketergantungan pasien.
    • Biofeedback dan terapi relaksasi berguna.
    • Terapi medis dengan cimetidine (Tagamet), ranitidine (Zantac), sucralfate (Carafate), atau famotidine (Pepcid), serta pengendalian diet diindikasikan dalam penatalaksanaan ulkus. Obat antimikrobial pada ulkus akibat H. Pylon.
  2. Kolitis Ulseratif
    • Penyakit ulseratif inflamatoris kronis pada kolon, biasanya disertai diare berdarah. Insidensi familial dan faktor genetik penting.
    • Tipe kepribadian: sifat kepribadian kompulsif yang menonjol. Pasien adalah seorang yang pembersih, tertib, rapi, tepat waktu, hiperintelektual, malu­malu, dan terinhibisi dalam mengungkapkan kemarahan.
    • Etiologi
      Teori spesifik:
    • Alexander menggambarkan kumpulan konflik spesifik pada kolitis ulseratif yaitu ketidakmampuan untuk memenuhi suatu kewajiban (biasanya tidak patuh) sampai kepada inti ketergantungan. Ketergantungan yang mengalami frustasi menstimulasi perasaan agresif-oral, menyebabkan rasa bersalah dan kecemasan. Menghasilkan pemulihan melalui diare.
    • Terapi
    • Psikoterapi yang tidak konfrontatif dan suportif diindikasikan pada kolitis ulseratif.
    • Terapi medis seperti obat antikolinergik dan antidiare.
  3. Obesitas
    • Akumulasi lemak berlebihan; berat badan melebihi 20 % berat badan seharusnya.
    • Pertimbangan psikosomatik
    • Terdapat predisposisi genetik dan faktor perkembangan awal ditemukan pada obesitas masa anak-anak.
    • Faktor psikologis penting pada obesitas hiperfagik (makan berlebihan), khususnya pada makan pesta pora.
    • Faktor psikodinamika yang diajukan antara lain fiksasi oral, regresi oral, dan penilaian berlebihan terhadap makanan.
    • Pasien memiliki riwayat penghindaran terhadap citra tubuh dan kebiasaan awal yang buruk dalam asupan makanan.
    • Terapi
    • Dikendalikan melalui pembatasan diet dan penurunan asupan kalori.
    • Dukungan emosional dan modifikasi perilaku membantu mengatasi kecemasan dan depresi yang berhubungan dengan makan berlebihan dan diet.
  4. Anoreksia Nervosa
    Perilaku yang diarahkan untuk:

    • Menghilangkan berat badan.
    • Pola aneh dalam menangani makanan.
    • Penurunan berat badan.
    • Rasa takut yang kuat terhadap kenaikan berat badan.
    • Gangguan citra tubuh.
    • Amenore pada wanita.

II.  Gangguan Kardlovaskular

  1. Penyakit Arteri Koroner
    • Penurunan aliran darah ke jantung. Ditandai oleh rasa nyeri, tidak nyaman, tekanan pada dada dan jantung secara episodik.
    • Biasanya ditimbuikan oleh penggunaan tenaga dan stres.
    • Tipe kepribadian
    • Flanders Dunbar: pasien penyakit koroner berkepribadian agresif­kompulsif, cendenung bekerja dengan waktu panjang, dan untuk meningkatkan kekuasaan.
    • Meyer Fiedman dan Ray Rosenman: kepriibadian tipe A dan B.
    • Kepribadian tipe A berhubungan kuat dengan penyakit jantung koroner.
      Orang yang berorientasi tindakan berjuang keras untuk mencapai tujuan dengan cara permusuhan yang kompetitif. Memiliki peningkatan jumlah lipoprotein densitas rendah, kolesterol serum, trigliserida, dan 17- hidroksikolestenol.
    • Kepribadian tipe B: santai, kurang agresif, kurang aktif berjuang mencapai tujuannya.
    • Terapi: Jika terjadi oklusi koroner, digunakan berbagai medikasi bagi status jantung pasien. Untuk menghilangkan ketegangan psikis, digunakan psikotropika (contoh diazepam / valium). Rasa sakit diobati dengan analgesik (contoh morfin). Terapi medis harus suportif dengan penekanan psikologis untuk menghilangkan stres psikis, kompulsif, dan ketegangan.
  2. Hipertensi Esensial
    • Tipe kepribadian
    • Orang hipertensif tampak dari luar menyeriangkan, patuh, dan kompulsif; walaupun kemarahan mereka tidak diekspresikan secara terbuka, memiliki banyak kekerasan yang terhalangi.
    • Predisposisi genetik untuk hipertensi; yaitu bila terjadi stres kronis pada kepribadian kompulsif yang telah merepresi dan menekan kekerasan.
    • Terapi: Psikoterapi suportif dan teknik perilaku (contoh: biofeedback, meditasi, terapi relaksasi). Pasien harus patuh dengan regimen medikasi anti hipertensi.
  3. Gagal Jantung Kongestif
    • Gangguan di mana jantung gagal memompa darah secara normal, menyebabkan kongesti paru dan menurunkan aliran darah jaringan dengan penurunan curah Jantung.
    • Faktor psikologis, seperti stres dan konflik emosional nonspesifik, seringkali bermakna dalam mulainya atau eksaserbasi gangguan.
    • Psikoterapi suportif penting dalam pengobatannya.
  4. Sinkop Vasomotor (Vasodepresor)
    • Ditandai oleh kehilangan kesadaran (pingsan) secara tiba-tiba yang disebabkan oleh serangan vasovagal.
    • Menurut Franz Alexander, rasa khawatir atau takut menghambat impuls untuk berkelahi atau melarikan diri. Dengan demikian menampung darah di anggota gerak bawah, dari vasodilatasi pembuluh darah di dalam tungkai. Reaksi tersebut menyebabkan penurunan pengisian ventrikel, penurunan pasokan darah ke otak, dan akibatnya hipoksia otak dan kehilangan kesadaran.
    • Terapi: Psikoterapi harus digunakan untuk menentukan penyebab ketakutan atau trauma yang berhubungan dengan sinkop
  5. Aritmia Jantung
    • Aritmia yang potensial membahayakan hidup (seperti palpitasi, takikardi ventrikular, dan fibrilasi ventrikular), kadang-kadang terjadi bersama dengan luapan emosional.
    • Juga berhubungan dengan trauma emosional adalah takikardi sinus, perubahan gelombang ST dan gelombang T, peningkatan katekolamin plasma, dan konsentrasi asam lemak bebas.
    • Stres emosional tidak spesifik, dan penjelasan kepribadian yang berhubungan dengan gangguan.
    • Terapi: Psikoterapi dan obat penghambat beta (propanolol, dll)
  6. Fenomena Raynaud
    • Sianosis bilateral paroksismal idiopatik pada jail karena kontraksi arteniolan.
    • Kontraksi arteniolar seringkali disebabkan oleh stres ekstemal.
    • Terapi: dapat diobati dengan psikoterapi suportif, relaksasi progresif, atau biofeedback dengan melindungi tubuh dari dingin dan menggunakan sedatif ringan.
    • Merokok harus dihentikan.
  7. Jantung Psikogenik Bukan Penyakit
    • Pasien menunjukkan keprihatinan morbid tentang jantungnya dan rasa takut akan penyakit jantung yang meningkat.
    • Rasa takut dapat timbul dan masalah kecemasan, yang dimanifestasikan oleh fobia atau hipokondriasis parah, sampai keyakinan vaham bahwa mereka menderita penyakit jantung.
    • Banyak pasien menderita akibat sindroma yang kurang jelas ini seringkali dinamakan astenia neurosirkulatorik.
    • Astenia neurosirkulatonik pertama kali digambarkan tahun 1871 oleh Jacob M. DaCosta, yang menamakannya jantung iritabel (irritable hearth).
    • Dokter psikiatrik cenderung memandang sebagai varian klinik dari gangguan kecemasan, walaupun tidak ditemukan dalam DSM-IV.
    • >Kriteria diagnostik astenia neurosirkulatorik:
    • Keluhan pemapasan seperti pemapasan yang resah, tidak dapat menarik napas dalam, tercekik dan tersedak, dan sesak napas.
    • Palpitasi, nyeri dada, atau rasa tidak enak.
    • Kegugupan, pening, pingsan, atau rasa tidak enak di puncak kepala.
    • Kelelahan yang tidak hilang-hilang atau pembatasan aktivitas.
    • Keringat berlebihan, insomnia, dan iritabilitas.
    • Gejala biasanya mulai pada mulai masa remaja atau pada awal usia 20-an.
    • Gejala tertentu adalah dua kali lebih sering pada wanita dan cenderung kronis, dengan eksaserbasi akut rekuren.
    • Terapi:
    • Penatalaksanaan astenia neurosirkulatorik mungkin sulit. Elemen fobik adalah menonjol.
    • Psikoterapi ditujukan untuk mengungkapkan faktor psikodinamik-seringkali menghubungkan dengan permusuhan, impuls seksual yang tidak dapat diterima, ketergantungan, rasa bersalah, dan kecemasan akan mati. Tetapi mungkin efektif pada beberapa kasus, karena beberapa pasien mungkin menghindari bantuan psikiatrik.
    • Teknik perilaku lain mungkin berguna. Program latihan fisik ditujukan untuk mengkoreksi kebiasaan pemapasan yang buruk dan secara bertahap meningkatkan toleransi kerja pasien. Program ini dapat dikombinasikan dengan psikoterapi kelompok.

III. Gangguan Pemapasan

  1. Asma Bronkialis
    • Penyakit obstruktif rekuren pada jalan napas bronkial, cenderung berespon terhadap berbagai stimuli dengan konstriksi bronkial, edema, dan sekresi yang berlebihan.
    • Faktor genetika, alergik, infeksi, dan stres akut dan kronis berkombinasi untuk menimbulkan penyakit.
    • Faktor psikologis: tidak ada tipe kepribadian spesifik yang telah diidentifikasi. Alexander mengajukan faktor konfliktual psikodinamika, karena ia menemukan pada banyak pasien asma adanya harapan yang tidak disadari akan perlindungan dan untuk diselubungi oleh ibu atau pengganti ibu. Tokoh ibu cenderung bersikap melindungi adan cemas secara berlebihan, perfeksionis, berkuaasa, dan menolong. Jika proteksi tersebut tidak didapatkan, serangan asthma terjadi, karena ia menemukan pada banyak pasien asma adanya harapan yang tidak disadari akan perlindungan dan untuk diselubungi oleh ibu atau pengganti ibu. Tokoh ibu cenderung bersikap melindungi adan cemas secara berlebihan, perfeksionis, berkuaasa, dan menolong. Jika proteksi tersebut tidak didapàtkan, serangan asma terjadi.
    • Terapi: beberapa pasien asma membaik dengan dipisahkan dan ibu (disebut parentektomi). Semua psikoterapi standar digunakan: individual, kelompok, perilaku(desensitisasi sistematik), dan hipnotik.6,8,9
  2. Hay Fever
    • Faktor psikologis yang kuatberkombinasi dengan elemen alengi.
    • Terapi: faktor psikiatrik, medis, dan alergik harus dipertimbangkan.
  3. Sindroma Hiperventilasi
    • Pasien hiperventilasi bennapas cepat dan dalam selama beberapa menit, merasa ningan, dan selanjutnya pingsan karena vasokonstriksi serebral dan alkalosis respiratonik.
    • Differential diagnosis pada psikiatrik adalah serangan kecemasan, panik, skizofnenia, gangguan kepribadian histnionik, dan keluhan fobik atau obsesif
    • Terapi: harus diberikan instruksi atau latihan ulang benhubungan dengan gejala tertentu dan bagaimana gejala tersebut ditimbulkan oleh hiperventilasi, sehingga pasien secana sadar menghindani pencetus gejala. Bemafas ke dalam sebuah kantong dapat menghentikan serangan. Psikoterapi suportif juga diindikasikan.
  4. Tuberkulosis
    • Onset dan perburukan tubenkulosis seringkali berhubungan dengan stres akutdan kronis.
    • Faktor psikologis mempenganuhi sistem kekebalan dan mungkin mempengaruhi dayatahan pasien terhadap penyakit.
    • Penanan stres pada insidensi tuberkulosis belum dipelajari secara menyeluruh, tetapi sebagian besan pasien AIDS memiliki komplikasi psikiatrik dan neunologis dan besar kemungkinannya mengalami stres.
    • Psikoterapi suportif berguna karena adanya peranan stres dan situasi psikososial yang rumit.

IV. Gangguan Endokrin

  1. Hipertiroidisme
    • Suatu sindroma yang ditandai oieh perubahan biokimiawi danpalkologis yang terjadi sebagai akibat dan kelebihan hormon_tiroid~eñdogen atau eksogen yang kronis.
    • Pertimbangan psikosomatik
    • Pada orang yang terpredisposisi secara genetik, stres seringkali disentai dengan onset hipertiroidisme.
    • Menurut teori psikoanalitik, selama masa anak-anak, pasien hipertiroid memiliki penlekatan yang tidak lazim dan ketergantungan pada onangtua, biasanya kepada ibu. Mereka menjadi tidak tahan terhadap ancaman penolakan dani ibu. Sebagai anak-anak, pasien tersebut seringkali memiliki dukungan yang tidak adekuat karena stres ekonomi, perceraian, kematian, atau banyak saudara kandung. Keadaan ml menyebabkan stres awal dan pemakaian benlebihan sistem endoknin dan frustrasi lebih lanjut.
      Dukungan yang tidak adekuat karena stres ekonomi, perceraian, kematian, atau banyak saudara kandung. Keadaan ml menyebabkan stnes awal dan pemakaian benlebihan sistem endoknin dan frustrasi lebih lanjut.
    • Terapi: medikasi antitiroid, tranquilizer, dan psikotenapi suportif.
  2. Diabetes Melitus
    • Gangguan metabolisme dan sistem vaskular dimanifestasikan gangguan pengaturan giukosa, lemak, dan protein tubuh
    • Onset yang mendadak seringkali berhubungan dengan stres emosional, yang mengganggu keseimbangan homeostatik pada pasien yang terpredisposisi.
    • Faktor psikologis yang tampaknya penting adalah faktor yang mencetuskan perasaan fnustnasi, kesepian, dan kesedihan.
    • Pasien diabetik biasanya mempertahankan kontnol diabetiknya. Jika mengalami depresi atau merasa sedih, mereka seringkaii makan atau ininum benlebihan yang merusak diri sendini, sehingga diabetes menjadi tidak terkendali.
    • Terapi: psikotenapi suportif dipenlukan untuk mencapai kerjasama dalam penatalaksanaan medis dani penyakit kompleks. Terapi harus mendorong pasien diabetik untuk menjalani kehidupan senonmal mungkin, dengan menyadari bahwa mereka memiliki penyakit kronis yang dapat ditangani.
  3. Gangguan Endokrin Wanita

                                 i.            Sindroma pramenstruasi (Premenstrual Syndrome! PMS)

  1.  
    1.  
      • Merupakan gangguan disforik pramenstruasi, ditandai oleh perubahan subjektmfsikiis dalam mood dan rasa kesehatan fisik dan psikologis umum yang berhubungan dengan siklus menstruasi.
      • Gejala biasanya dimulai segera setelah ovulasi, meningkat secana bertahap, dan mencapai intensitas maksimum kira-kira lima han sebelum menstruasi dimulai.
      • Faktor psikologis, sosial, dan biologis telah terlibat di dalam patogenesis gangguan.
      • Perubahan kadar estrogen, progesteron, androgen, dan proiaktin telah dihipotesiskan berperan penting dalam penyebab.
      • Peningkatan prostaglandin tenlibat dalam rasa nyerii yang benhubungan dengan gangguan.
      • Gangguan disfonik paramenstruasi juga terjadi pada wanita setelah menopause dan setelah histerektomi.

                               ii.            Penderltaan Menopause (Menopause Distress)

  1.  
    1.  
      • Peristiwa fisiologis alami, terjadi setelah tidak ada peniode menstnuasi selama satu tahun. Juga teijadi segera setelah pengangkatan ovarium.
      • Gejala psikologis tenmasuk kelelahan, kecemasan, ketegangan, labilitas emosional, initabilitas (mudah marah), depresi, dan insomnia.
      • Tanda dan gejala fisik adalah keringat malam, muka merah, rasa panas (hot flushes)
      • Faktor psikologis dan psikososial
      • Wanita yang sebelumnya mengalami kesulitan psikologis, seperti harga diri yang rendah dan kepuasan hidup rendah, kemungkinan rentan terhadap kesulitan selama menopause.
      • Respon seorang wanita terhadap menopause telah ditemukan sejalan dengan responnya  dengan peristiwa kehidupan panting di dalam hidupnya, seperti pubertas dan kehamilan.
      • Wanita yang tenikat pada banyak melahirkan anak dan aktivitas mengasuh anak paling rentan untuk mendenita selama tahun-tahun menopause.
      • Permasalahan tentang ketuaan, kehilangan kemampuan metahinkan anak, dan perubahan penampilan dipusatkan pada kepentingan sosial dan simbolik yang melekat pada perubahan fisik menopause.
      • Penelitian epidemiologis tidak menunjukkan peningkatan gejala gangguan mental atau depresi selama tahun-tahun menopause, dan penelitian tentang keluhan psikologis tidak menemukan adanya frekuensi yang lebih besar pada wanita menopause.
      • Terapi: gangguan psikologis harus dipeniksa dan diobati tenutama oleh tindakan psikotenapetik dan sosioterapettik yang sesuai. Psikoterapi harus tenmasuk penggalian stadium kehidupan dan anti ketuaan dan reproduksi bagi pasien. Pasien harus didorong untuk menenima menopause sebagai penistiwa kehidupan alami dan untuk mengembangkan aktivitas, ininat, dan kepuasaan baru. Psikoterapi juga harus memperhatikan dinamika keluarga. Sistem pendukung keluarga dan sosial Iainnya jika diperlukan.

                              iii.            Amenore Idiopatik

  1.  
    1.  
      • Hilangnya siklus menstruasi normal pada wanita yang tidak hamil dan pramenopause tanpa adanya kelainan stuktural otak, hipofisis, atau ovarium.
      • Amenore dapat teijadi sebagai salah satu cmi sindroma psikiatrik klinis yang kompleks, seperti anoneksia nervosa dan pseudokiesis.
      • Fungsi menstruasi yang terganggu (menstruasi yang lebih cepat atau lambat) adalah respons seorang wanita sehat terhadap stres. Stres ringan seperti meninggalkan numah untuk masuk ke perguruan tinggi atau stres berat dapat berpenganuh.
      • Sebagian besar wanita, siklus menstruasi kembali normal tanpa adanya intervensi medis, walaupun kondisi stres terus berjalan.
      • Psikoterapi dilakukan untuk alasan psikologis, bukan hanya sebagai nespon terhadap gejala amenone. Jika amenore sukar diobati, psikoterapi dapat membantu memulihkan menstruasi yang teratur.

V.  GANGGUAN KULIT

  1. Pruritus menyeluruh
    • lstilah “pruritus psikogenik menyeluruh” (generalized psychogenic pruritis) menyatakan bahwa tidak ada penyebab organik.
    • Konflikemosional tampaknya menyebabkan terjadinya gangguan.
    • Emosi yang paling sering menyebabkan pruritus psikogenik menyeluruh adalah kemarahan dan kecemasan yang terepresi. Kebutuhan akan perhatian merupakan karakteristik umum pada pasien.
    • Menggaruk kulit memberikan kepuasaan pengganti utnuk kebutuhan yang mengalami frustrasi, dan menggaruk mencerminkan agresi yang dibalikkan kepada diri sendiri
  2. Pruritus setempat
    • Pruritus ani. Penelitian menunjukkan riwayat iritasi lokal atau faktor sisemik umum. Keadaan ini merupakan keluhan yang mengganggu pekerjaan dan aktivitas sosial. Penelitian terhadap sejumlah besar pasien mengungkapkan bahwa penyimpangan kepribadian seringkali mendahului kondisi dan gangguan emosional seringkali mencetuskan gejala ini.
    • Pruritus vulva. Pada beberap pasien, kesenangan yang didapat dani menggosok dan menggaruk adalah disadani. Mereka menyadari bahwa ml adalah simbolik dan masturbasi. Tetapi elemen kesenangan dinepresi. Sebagian besar pasien yang diteliti memberikan riwayat panjang frustrasi seksual, seringkali diperkuat pada saat onset pruritus.
  3. Hiperhidrosis
    • Keadaan takut, marah, dan tegang dapat menyebabkan meningkatnya sekresi keringat.
    • Benkeringat pada manusia memiliki dua bentuk berbeda: termal dan emosional.
    • Berkeringat emosional terutama pada telapak tangan, telapak kaki, dan aksiia. Berkeringat termal paling jelas pada dahi, leher, batang tubuh, punggung tangan, dan lengan bawah.
    • Kepekaan nespon berkeringat emosional merupakan dasan untuk pengukunan keringat melalui respon kulit galvanik (alat penting dalam penelitian psikosomatik),  biofeedback, dan poligrafi (tes detektor kebohongan.
    • Di bawah keadaan stres emosional, hipenhidnosis menyebabkan perubahan kulitsekunder, warn kulit, lepuh, dan infeksi.
    • Hiperhidrosis dapat dipandang sebagal fenomena kecemasan yang diperantarai oleh sistern sanafotonom.

VI. GANGGUAN MUSKULOSKELETAL

  1. Artrltls Rematold
    • Ditandai oleh nyeri muskuloskeletal kronis yang disebabkan oleh penyakit peradangan pada sendi.
    • Memiliki faktor penyebab herediter, alergik, mmunologi, dan psikologi yang penting.
    • Stres psikologis mempredisposisikan pasien pada artritis rematoid dan penyakitautoimun lain melalui supresi kekebalan.
    • Pasien merasa tenkekang, terikat, dan terbatas. Mereka seringkali memiliki rasa marah yang terepresi karena terbatasnya fungsi otot-otot mereka, sehingga memperberatkekakuan dan imobilitas mereka.
    • Terapi: psikoterapi suportif selama serangan kronis. Istirahat dan latihan harus terstnuktur, dan pasien harus didorong untuk tidak menjadi tenikat pada tempat tidur dan kembali ke aktivitas mereka sebelumnya.
  2. LowBackPain
    • Nyeri punggung bawah seringkali dilaponkan pasien bahwa nyerinya dimulai pada saat trauma psikologis atau stres.
    • Reaksi pasien terhadap nyeri tidak sebandmng secara emosional, dengan kecemasan dan depresi yang berlebihan.
    • Terapi berupa psikotenapi suportif tentang trauma emosional pencetus, terapi relaksasi, dan biofeedback. Pasien harus didorong kembali ke aktivitas mereka segera mungkin.

VII .PSIKO-ONKOLOGI

Karena kemajuan pengobatan telah mengubah bahwa kanker dari tidak dapat disembuhkan menjadi penyakit yang seringkali kronis dan sering dapat diobati, aspek psikiatrik dan kanker (reaksi terhadap diagnosis dan terapi) semakin penting.
 

Masalah Paslen

Jika pasien mengetahui bahwa mereka menderita kanken, reaksi psikologis mereka adalah rasa takut akan kematian, cacat, ketidakmampuan, rasa takut ditelantarkan dan kehilangan kemandirian, rasa takut diputuskan dan hubungan, fungsi peran, dan finansial; dan penyangkalan, kecemasan, kemarahan, dan rasa bersalah. Kira-kira separuh pasien kanken menderita gangguan mental. Di antaranya gangguan penyesuaian (68%). Dengan gangguan depresif berat (13%) dan delirium (8%) merupakan diagnosis selanjutnya yang tersering. Walaupun pikiran dan keinginan bunuh diri sering ditemukan pada pasien kanker, insidensi bunuh din sebenarnya hanya 1.4 sampai 1.9 kali dari yang ditemukan pada populasi umum
 

Faktor Kerentanan Bunuh Diri pada Paslen Kanker

  • Depresi dan putus asa
  • Nyeri yang tidakterkendali baik
  • Delirium ringan (disinhibisi)
  • Perasaan hilang kendali
  • Kelelahan
  • Kecemasan
  • Psikopatologi yang telah ada sebelumnya (penyalahgunaan zat, patologi karakter, gangguan psikiatrik utama)
  • Masalah keluarga
  • Ancaman dan riwayat usaha bunuh din sebelumnya
  • Riwayat positif bunuh diri pada keluarga
  • Faktor risiko lain yang biasanya digambarkan pada pasien psikiatrik

CONSULTATION – LIAISON PSYCHIATRY (PSIKIATRI KONSULTASI­PENGHUBUNG)

Dalam psikiatri konsultasi-penghubung (consultation-liaison I C-L psychiatiy), yaitu suatu bidang keahlian yang berkembang dengan cepat dan semakin diperhatikan. Dokter psikiatrik berperan sebagai konsultan bagi sejawat kedokteran atau profesional kesehatan mental lainnya. Pada umumnya, psikiatnl C-L adalah berhubungan dengan semua diagnosis, terapetik, riset, dan pelayanan pendidikan yang dilakukan dokter psikiatrik di rumah sakit umum dan berperan sebagaijembatan antara psikiatrik dan spesialisasi lainnnya.

Dokter psikiatrik C-L harus mengerti banyak penyakit medis yang dapattampak dengan gejala psikiatrik. Alat yang dimiliki oleh dokter psikiatrik C-L adalah wawancara dan observasi klinis serial. Tujuan diagnosis adalah untuk mengidentifikasi gangguan mental dan respon psikologis tenhadap penyakit fisik, mengidentifikasi diri kepribadian pasien, dan mengidentifikasi teknik mengatasi masalah yang karakteristik dari pasien..
Rentang masalah yang dihadapi dokter psikiatrik C-L adaiah luas. Penelitian menunjukkan bahwa sampal 65 % pasien nawat map medis memiliki gangguan psikiatrik. Gejala paling sering adalah kecemasan, depresi, dan diorientasi.
  

Masalah konsultasl-penghubuñg yang serlng:

  • Usaha atau ancaman bunuh din
  • Depresi
  • Agitasi
  • Halusinasi
  • Gangguantidur
  • Gejala tanpa dasar onganmk
  • Disonientasi
  • Ketidakpatuhan atau menolak menyetujui suatu prosedur

TERAPI GANGGUAN PSIKOSOMATIS

Konsep penggabungan psikoterapetik dan pengobatan medis, yaitu pendekatan yang menekankan hubungan pikiran dan tubuh dalam penbentukan gejala dan gangguan, memerlukan tanggung jawab bersama di antara berbagai profesi. Permusuhan, depresi, dan kecemasan dalam berbagai proporsi adalah akar dan sebagian besar gangguan psikomatik. Kedokteran psikosomatik terutama mempermasalahkan penyakit-penyakit tersebut yang menampakkan manifestasi somatik.

Terapi kombinasi merupakan pendekatan di mana dokter psikiatrik menangani aspek psikiatrik, sedangkan dokter ahli penyakit dalam atau dokter spesialis lain menangani aspek somatik. Tujuan terapi medis adalah membangun keadaan fisik pasien sehingga pasien dapat berperan dengan berhasil, serta psikoterapi untuk kesembuhan totalnya. Tujuan akhirnya adalah kesembuhan, yang berarti resolusi gangguan struktural dan reorganisasi kepribadian. Psikoterapi kelompok dan terapi keluarga. Terapi keluarga menawarkan harapan suatu perubahan dalam hubungan keluarga dan anak, mengingat kepentingan psikopatologis dari hubungan ibu-anak dalam perkembangan gangguan psikosomatik. keluarga dan anak, mengingat kepentingan psikopatologis dari hubungan ibu-anak dalam perkembangan gangguan psikosomatik.
  

KESIMPULAN

  • Gangguan psikosomatis merupakan gangguan yang melibatkan antara pikiran dan tubuh. Hal ini berarti bahwa adanya faktor psikologis yang mempengaruhi kondisi medis.
  • Komponen emosional memainkan penanan penting pada gangguan psikosomatis.
  • Manifestasi penyakit fisik juga sering diturunkan dan kepnibadian seseorang.
  • Gangguan psikosomatis dapat rnelibatkan berbagai sistem organ di dalam tubuh sehingga
    memerlukan penanganan secara terintegrasi dari ahli medis dan ahli psikiatri.
  • Pengobatan gangguan psikosomatik dani sudut pandang psikiatrik adalah tugas yang sulit.
  • Tujuan terapi haruslah mengerti motivasi dan mekanisme gangguan fungsi dan untuk membantu pasien mengerti sifat penyakitnya.
  • Tilikan tersebut harus menghasilkan pola perilaku yang berubah dan lebih sehat.
  • Terapi kombinasi sangat bermanfaat untuk mencapai resolusi gangguan struktural dan reorganisasi gangguan kepribadian.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Kaplan, H.l dan Saddock B.J. 1993. Comprehensive Textbook of Psychiatry vol.2 6th edition. USA: Williams and Wilikins Baltimore.
  2. Wiguna, Imade (editor). 1997. Sinopsis Psikiatri jilid 2. Jakrta: BinanupaAksara.
  3. “Psychosomatic Medicine: The Puzzling Leap”. Diakses dan:
    http://www.nlm.nih.gov/hmd/emotions/images/2b25b.jpg pada tanggal 20 Agustus 2007 pukul 17.00 WIB.
  4. “Physiology of Stress I Psychosomatic Medicine.” Diakses dan:
    http://home.earthlink.netl—gniesinger/nillness.htm pada tanggal 20 Agustus 2007 pukul 17.10 WIB.
  5. KoIb, Lawrence. 1968. Noyes’ Modern Clinical Psychiatry 7th edition Asman edition. Philadelpia : W.B Saunders Company.
  6. “Psychosomatic Disorders.” Diakses dan:
    http://www.surgerydoor.co.uk/medical_conditions/lndiceslP/psychosomatic_disor dens.htm pada tanggal 21 Agustus 2007 pukul 20.05 WIB.
  7. “Psychosomatic Disoders.” Diakses dan:
    http:llwww.patient.co.uk/showdoc/27000225/ pada tanggal 21 Agustus 2007 pukul 19.50 WIB
  8. “Psychosomatic Disorders.” Diakses dani:
    http://en.wikipedia.org/wiki/Medically_unexplained_physical_symptoms pada tanggal 2oAgustus 2007 pukul I 8.45 WIB.
  9. Indonesia, Departemen Kesehatan. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. 1993. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia Ill cetakan pertama. Jakarta: Departemen Kesehatan.
  10. Wittkower, Enic.D dan Hector Wannes (editor). 1977. Psychosomatic Medicine Its Clinical Applications. USA: Hanperand Row Publishers, Inc.

 

 

 

 

GEJALA, LATAR BELAKANG PERMASALAHAN DAN KEBUTUHAN ANAK
DENGAN GANGGUAN PEMUSATAN PERHATIAN DAN HIPERAKTVITAS
(GPPH) DAN GANGGUAN SPEKTRUM AUTISTIK 
Dr. Tjhin Wiguna, SpKJ(K)
Psikiater Anak dan Remaja

Pendahuluan

GPPH dan gangguan spektrum autistik merupakan dua buah kasus yang cukup sering ditemukan dalam praktik sehari-hari. Walaupun berbeda dalam gejala dan perjalanan penyakitnya, namun ke dua gangguan ini termasuk dalam gangguan perkembangan.

Sejak bayi dilahirkan, ia sudah berhadapan dengan proses belajar yang sangat tergantung pada tingkat perkembangan yang telah dicapainya, yang akan menentukan kemampuan yang ada dalam dirinya. Hal ini akan berjalan terus sampai anak masuk sekolah dan mengikuti proses pembelajaran formal yang ada. Saat inilah, anak akan dirangsang untuk mengembangkan rasa cinta akan belajar, kebiasaan­kebiasaan belajar yang baik dan rasa percaya diri sebagai pelajar yang sukses. Namun tidak semua hal di atas selalu berjalan dengan lancar dan mulus, apalagi pada anak dengan GPPH dan gangguan spektrum autistik yang mengalami berbagai permasalahan dalam mengontrol perilaku dan emosinya.
 

1. Tinjauan singkat dan Gangguan Pemusatan Perhatian dan/Hiperaktivitas (GPPH)

Anak dengan Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) adalah anak yang menunjukkan perilaku hiperaktif, impulsif serta sulit memusatkan perhatian dengan tingkat yang lebih beratjika dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. Di samping itu, kondisi di atas juga disertai dengan beberapa gejala lain seperti adanya ambang toleransi frustrasi yang rendah, disorganisasi, dan perilaku agresif. Kondisi ini tentunya menimbulkan penderitaan dan hambatan bagi anak dalam menjalankan fungsinya sehari-hari, seperti berinteraksi dengan teman sebaya, keluarga dan yang terpenting adalah mengganggu kesiapan anak untuk belajar. Semua kondisi ini tentunya akan mengganggu prestasi belajar anak dan secara keseluruhan akan membuat penurunan kualitas hidup anak dengan GPPH di kemudian hari.

Dalam berbagai penelitian epidemiologi yang telah dilakukan, didapatkan angka rata-rata prevalensi berkisar antara 3-11%. Angka prevalensi untuk GPPH di Jakarta Pusat adalah 4.2 %. Berdasarkan penelitian Saputro D (2004) dengan menggunakan instrumen Diagnostic and Statistical Manual for Mental Disorder IV (DSM-IV) didapati angka sebesar 2.2 % untuk tipe hiperaktif & impulsif, 5.3% untuk tipe campuran hiperaktif-impulsif dan inatensi, serta 15.3 % untuk GPPH tipe inatensi. Walaupun demikian jumlah kasus yang datang untuk mencari pengobatan umumnya masih sangat rendah oleh karena pengetahuan dan kepedulian orang tua, guru dan masyarakat sekitar masih sangat rendah
 

1.1.  Kriteria Diagnostik

Untuk membuat diganosis maka dibutuhkan data perilaku dan respons emosi anak baik di rumah maupun di sekolah. Untuk keperluan ini maka dilakukan wawancara psikiatrik dengan berbagai sumber seperti orang tua, guru dan pengasuh serta kelompok teman sebayanya atau saudara kandung. Disamping itu juga dilakukan observasi serta wawancara psikiatrik langsung pada anak, sehingga didapatkan data yang akurat untuk membuat diagnosis. Sampai saat ini diagnosis dibuat berdasarkan kriteria dan DSM­IV.
 

Berdasarkan DSM IV maka kriteria diagnostik GPPH adalah sebagai berikut;

  1. Salah satu dari (1) atau (2):
    1. Terdapat minimal enam (atau lebih) gejala-gejala inatensi berikut yang menetap dan telah berlangsung sekurang­kurangnya 6 (enam) bulan sampai ke tingkat yang maladatif dan tidak sesuai dengan tingkat perkembangan anak;
      1. Sering gagal untuk memberikan perhatian yang baik terhadap hal-hal yang rinci atau sering melakukan kesalahan yang tidak seharusnya/ceroboh terhadap pekerjaan sekolah, pekerjaan lain atau aktivitas-aktivitas lainnya
      2. Seringkali mengalami kesulitan untuk mempertahankan perhatian dalam melakukan tugas tanggung jawabnya atau dalam kegiatan bermain
      3. Seringkali tampak tidak mendengarkan (acuh) pada waktu diajak berbicara
      4. Seringkali tidak mampu mengikuti aturan atau instruksi dan gagal dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah, kegiatan sehari-hari atau pekerjaan di tempat kerja (tidak disebabkan oleh karena Gangguan Perilaku Menentang atau kesulitan untuk memahami instruksi)
      5. Seringkali mengalami kesulitan dalam mengorganisasikan tugas tanggung jawabnya atau aktivitas-aktivitasnya
      6. Seringkali menghindar, tidak suka atau menolak dalam kegiatan-kegiatan yang memerlukan konsentrasi yang lama seperti dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah
      7. Seringkali kehilangan barang-barang yang perlu digunakan untuk kegiatan-kegiatan atau aktivitas-aktivitasnya (seperti mainan, pekerjaan sekolah, pensil, buku-buku, atau peralatan-peralatan lainnya)
      8. Mudah teralih perhatiannya oleh stimulus yang datang dari luar
      9. Mudah lupa akan kegiatan yang dilakukan sehari-hari
    2. Terdapat minimal enam (atau lebih) gejala-gejala hiperaktivtas­impulsivitas beriikut yang menetap dan telah berlangsung sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan sampai ke tingkat yang maladatif dan tidak sesuai dengan tingkat perkembangan anak:
      Hiperaktivitas

      1. Seringkali tidak bisa duduk diam atau kaki-tangannya bergerak-gerak terus dengan gelisah
      2. Seringkali tidak mampu duduk diam di kursinya di dalam kelas atau pada situasi dimana anak diharapkan duduk diam
      3. Seringkali berlari-lari atau memanjat-manjat secara berlebihan pada situasi-situasi yang tidak sesuai atau pada situasi-situasi yang tidak seharusnya (misalnya pada remaja atau orang dewasa, mungkin dibatasi oleh perasaan kegelisahan yang subjektif)
      4. Seringkati mengalami kesulitan dalam bermain atau dalam kegiatan menyenangkan bersama yang memerlukan ketenangan
      5. Seringkali ‘bergerak’ atau sepertinya ‘digerakkan oleh mesin’
      6. Seringkali berbicara berlebihan

        Impulsivitas

      7. Seringkali memberikan jawaban sebelum pertanyaan selesai diajukan
      8. Seringkali mengalami kesulitan dalam menunggu giliran
      9. Seringkali menginterupsi atau mengintrusi orang lain (misalnya dalam bermain atau berbicara dengan orang di sekitarnya)
  2. Beberapa gejala-gejala hiperaktif-impulsif atau inatensi yang menyebabkan gangguan ini sudah timbul sebelum anak berusia 7 tahun
  3. Gejala-gejala yang menyebabkan gangguan ini terjadi minimal pada 2 (dua) situasi/ tempat yang berbeda (misalnya di sekolah atau tempat kerja dan di rumah)
  4. Ada bukti yang jelas bahwa gejala-gejala ini menimbulkan gangguan klinis yang signifikan di bidang sosial, akademik dan fungsi pekerjaan lainnya
  5. Gejala-gejala tidak timbul secara eksklusif selama perjalanan penyakit Gangguan Perkembangan Pervasif, Skizofrenia, atau Gangguan Psikotik lainnya dan tidak dapat dijelaskan oleh gangguan mental lainnya (seperti gangguam mood, gangguan cemas, gangguan disosiatif, atau gangguan kepribadian)

1.2.  Permasalahan

  • Anak dengan GPPH seringkali mengalami kesulitan dalam memenuhi berbagai tugas dan tanggung jawabnya oleh karena adanya disfungsi pada aspek monitoring, persepsi, memon dan kontrol motonknya. Banyak teon yang berusaha untuk menjelaskan hal mi dengan berbagai kelemahan dan kekuatannya, namun hampir semuanya setuju bahwa fokus kelainan pada GPPH adalah bersumber pada kompleksitas dan dimensi fungsi kognitif anak, sehingga dapat dikatakan sebagai gangguan dengan adanya defisit dalam fungsi metakognisi anak. Dengan demikian, anak dengan GPPH seringkali menunjukkan adanya defisit dalam proses perencanaan, monitor dan regulasi perilaku. Oleh karena itu, led Virginia Douglas menyatakan bahwa GPPH merupakan gangguan negulasi din dengan dampak yang pervasif pada fungsi anak sehari-hari.
  • Dan sudut pandang lain dikatakan bahwa, anak dengan GPPH menunjukkan adanya defisit dan responsterhadap kontrol motorik, defisit pada pemenuhan gerakan motorik halus, dan defisit dalam proses inhibisi terhadap pola respons perilaku yang sedang dilakukan. Hal ini dikaitkan dengan adanya inhibisi perilaku yang kurang aktif dan gangguan pada proses sistim pengembalian perilaku (behavioraireward system) pada anak dengan GPPH. Dengan demikian, anak dengan GPPH senngkali menunjukkan masalah dalam berbagai tugas yang memerlukan konsentrasi yang optimal dan akurasi serta aturan-aturan tententu. Hal ini tentunya juga akan berkaitan dengan sikap motivasi yang rendah serta masalah dalam sistim regulasi diri.
  • Akibat yang terjadi adalah anak dengan GPPH seringkali mengalami kesulitan dalam berbagai aspek kehidupannya seperti kesulitan belajar, kesulitan berinteraksi dengan teman sebaya serta lingkungannya. Semua ini tentunya akan menurunkan kualitas hidup anak baik saat ini maupun di kemudian hari

1.3.  Tatalaksana

National Intistute of Mental Heaflh, dan juga organisasi professional lainnya di dunia seperti AACAP (American Academy of Child and Adolescent Psychiatry) sepakat bahwa penatalaksanaan anak dengan GPPH membutuhkan pendekatan yang multimodal, yang mencakup pemberian obat-obatan, terapi perilaku, serta pemberian edukasi pada orang tua dan guru. Berdasarkan pengalaman, hal di atas tampaknya sesuai dengan kenyataan yang ditemui dalam praktik sehari-hari. Walaupun sudah tersedia beberapa obat pilihan untuk anak dengan GPPH yang cukup baik seperti metilfenidat dengan mekanisme kerja jangka panjang maupun OROS (Osmotic Release Oral System) yang mempunyai efektivitas sekitar 12 jam. Namun orang tua, guru maupun anak dengan GPPH ternyata juga memerlukan beberapa pendekatan penatalaksanaan lainnya.
  

2.  Tinjauan Singkat dan Gangguan Spektrum Autistik

Merupakan salah satu jenis gangguan perkembangan pada anak yang kompleks dan berat (termasuk dalam gangguan perkembangan pervasif). Biasanya gejala sudah tampak sebelum anak berusia 3 tahun. Gejala utama meliputi beberapa gangguan perkembangan dalam bidang; komunikasi, interaksi resiprokal dan adanya perilaku yang terbatas atau perilaku stereotipik lainnya.
 

Angka kejadian;

  • Victor Lotter (1966), prevalensi diperkirakan sekitar 0.2-0.4 per mil. Namun saat ini prevalensi diperkirakan sekitar 1.5-2.0 per mil.
  • Ratio antara anak alaki-laki dan perempuan sekitar 2.6-4: 1
  • Tidak ada perbedaan yang jelas dan antara ras, etnik, tingkat sosial ekonomi dan pendidikan dalam terjadinya Gangguan Spektrum Autistik.

Study, Year

Country

Size of target
 Population

Criteria

Prevalence Rate
(Per 10.000)

Lotter, 1966

UK

78 ribu

Kanner

4.5

Wing et al, 1976

UK

25 ribu

Kanner

4.8

Hoshino et al, 1984

Japan

610 ribu

Kanner

2.3

Gillberg et al, 1984

Sweden

128 ribu

DSM II

4

Bryson et al, 1988

Canada

20 ribu

DSM III R

10.1

Sugiyama, Abe, ’89

Japan

12 ribu

DSM III

13

Gillberg et al, 1991

Sweden

78 ribu

DSM III R

9.5

Fombonne et al, ’97

France

32 ribu

ICD X

5.3

2.1.   Kriteria Diagnostik

2.2.   Permasalahan

Anak dengan gangguan spektrum autistik mempunyai gambaran yang unik mengenai diri dan lingkunganya. Hal ini merupakan satu permasalahan yang serius dan memerlukan penanganan yang serius oleh karena akan memberikan dampak negatif terhadap perkembangan anak selanjutnya. Beberapa kecenderungan yang dapat diamati seperti;

  1. Selektif berlebihan terhadap rangsang yang datang dan sekitarnya sehingga anak mengalami kemampuan yang terbatas dalam menangkap stimulus tersebut.
  2. Kurangnya motivasi, hal ini tidak hanya disebabkan oleh karena mereka mengisolasikan dirinya serta asyik dengan dunianya sendiri, tetapi merekajuga cenderung tidak mempunyai motivasi untuk mengenal dunia di luar dirinya sendiri. Kondisi ini membuat anak dengan gangguan spektrum autistik tidak mapu atau kurang mau menjelajahi lingkungan baru.
  3. Adanya perilaku stimulasi diri yang merupakan suatu perilaku yang tidak produktif dan akan mengganggu interaksi sosial, juga mengganggu proses belajar
  4. Respons terhadap imbalan yang unik dan bersifat individualistik dan seringkali sulit diidentifikasi
  5. Adanya perilaku yang berlebihan seperti tantrum dan perilaku stimulasi diri, agresivitas, serta melukai diri sendiri,
  6. Adanya perilaku berkekurangan seperti tidak mau berbicara, tidak mau berinteraksi sosial dengan lingkungan sosialnya, defisit dan sistem indera, fungsi keterampilan motonk yang buruk

2.3.  Tatalaksana

Bersifat komprehensif dan harus dilakukan sediri mungkin segera setelah diagnosis ditegakkan. Keberhasilan tatalaksana tergantung dari;

  1. Berat ringannya gejala
  2. Diagnosis dini dan tatalaksana dini akan memberikan keberhasilan yang lebih baik
  3. Kecerdasan anak, makin cerdas anak maka kemampuan untuk menangkap pelajaran yang diberikan akan bertambah baik dan cepat
  4. Tingkat kemampuan berbicara dan berbahasa
  5. Intensitas dan terapi

Berbagai jenis terapi yang umumnya dijalankan secara terpadu ialah;

  • Terapi medikamentosa
  • Terapi wicara (Speech-language Therapy)
  • Terapi perilaku
  • Terapi okupasi
  • Terapi integrasi sensorik
  • Terapi Orthopaedagogik
  • Auditory integration training (AlT)
  • Terapi kelompok
  • Diet CFGF
  • dll

Tujuan pemberian terapi adalah;

  • Mengurangi, mengubah perilaku yg tak dikehendaki
  • Meningkatkan kemampuan anak untuk: belajar
    (berbahasa), berkomunikasi, kemampuan bantu dii dan fungsi sosial lainnya

Rujukan

  1. Furman RA. Attention deficit/hyperactivity disorder: An alternative viewpoint. J Int Child Adolesc Psychiatry 2002;2:1 25-144.
  2. Tanjung IS. Prevalensi Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) pada murid sekolah dasar kelas I-III di wilayah Jakarta Pusat. Departemen Psikiatri FKUI/RSCM. 2002 (tesis)
  3. Saputro D. Gangguan Hiperkinetik Pada Anak Di DKI Jakarta, Penyusunan lnstrumen baru, Penentuan Prevalensi, Penelitian Patifisologi dan Upaya Terapi. Desertasi Untuk Memperoleh Derajat Doktor dalam Iimu Kedokteran pada Universitas Gajah Mada. 2004
  4. Wiguna T. Parental perception and attitude toward their primary school age children’s hyperactivity problems. Mean Jour of Psychiatry 2006(7);1 :14-17
  5. American Psychiatric Association: Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder, Fourth Edition, Text Revision. Washington DC, American Psychiatric Association, 2000
  6. Waslick B, Greehill LL. Attention-deficit/hyperactive disorder. In Jerry M Wiener and Mina K. Dulcan, textbook of child and adolescent psychiatry, third addition. 2004. American psychiatric publishing, Inc. p.485-509
  7. Siegel B. The world of the autistic child. Oxford University Press, New York, 1996
  8. Vokmar F, KIm A. Pervasive developmental disorders, in Comprehensive textbook of psychiatry, 7’ eds (eds BJ Sadock, VA Sadock) Philadelphia-SA, 2000, p2659-2678

 

 

KEDARURATAN PSIKIATRI DAN TATALAKSANA
Dr. Oely Mardi Santoso, SpKJ

JI. Kikir 57/75, Kayuputih, Jakarta Timur

1980 – 1984 : Palang Merah Indonesia Pusat

1984 – 1986 :  Direktorat RS Khusus dan Swasta Direktorat Jendral Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI , Jakarta.

1986 – 1989 : Direktorat Kesehatan Jiwa, DirJen Pelayanan Medik, Departemen Kesehatan RI, Jakarta

1992 – 2000 : Psikiater di Direktorat Kesehatan Jiwa DirJen Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI , Jakarta.

1991 – sekarang : Psikiater RS Omni Medical Center

2001 – sekarang : Dosen tidak tetap Fakultas Kedokteran FK UKRIDA Jakarta.

 

KEDARURATAN PSIKIATRI

Adalah tiap gangguan pada pikiran, perasaan dan tindakan seseorang yang memerlukan intervensi terapeutik segera.

Diantara berbagai macam gangguan tersebut yang paling sering adalah SUICIDE (BUNUH DIRI) dan VIOLENCE AND ASSAULTIVE BEHAWOR (PERILAKU KEKERASAN DAN MENYERANG).
  

BUNUH DIRI

Di Amerika tiap tahun kasus bunuh diri yang berhasil mencapai 30.000 orang per tahun. Angka ini menunujukkan jumlah orang yang mencoba bunuh diri jauh lebih besar lagi, diperkirakan 8 sampai 10 kali lebih besar dan jumlah tersebut. Di Indonesia belum ada data mengenai hal ini.

Dan data yang ada, 95% kasus bunuh diri berkaitan dengan masalah kesehatan jiwa diantaranya 80% mengalami Depresi, 10% Skizofrenia dan 5% Dementia/Delirium. Sedangkan sekitar 25% lainnya mempunyai diagnosa ganda yang berkaitan dengan Ketergantungan Alkohol.

Menurut Adam.K mereka yang mempunyai resikotinggi untuk terjadinya bunuh diri adalah pria, usia diatas 45 tahun, tidak bekerja, bercerai atau ditinggal mati pasangan hidupnya, mempunyai nwayat keluarga yang bermasalah, mempunyai penyakit fisik kronis, mempunyai gangguan kesehatn jiwa, tidak mempunyai hubungan keluarga yang baik, miskin dalam hubungan sosial atau cenderung mengisolasi diri

Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menduga adanya resiko bunuh diri:

  • adanya ide bunuh diri atau percobaan bunuh diri sebelumnya
  • adanya kecemasan yang tinggi, depresi yang dalam dan kelelahan
  • adanya ide bunuh diri yang diucapkan<
  • ketersediaannya alat atau cara untuk bunuh diri
  • memepersiapkan warisan terutama pada pasien depresi yang agitatif
  • adanya krisis dalam kehidupan baik fisik maupun mental
  • adanya riwayat keluarga yang melakukan bunuh diri
  • adanya kecemasan terhadap keluarga jika terjadi bunuh diri
  • adanya keputus-asaan yang mendalam

Didalam menangani pasien yang mempunyai kecenderungan bunuh diri, pencegahan merupakan hal utama yang perlu diperhatikan.

Jika percobaan bunuh diri telah dilakukan dan tidak berhasil , sebagai klinisi kita harus melakukan pemeriksaan yang menyeluruh dan lengkap baik secara fisik dan mental. Pada saat itu juga harus diputuskan apakah pasien perlu dirawatatau tidak.

Hospitalisasi tergantung:

  • Diagnosis
  • Beratnya Depresi
  • Kuatnya ide bunuh diri
  • Kemampuan pasien dan keluarga mengatasi masalahnya
  • Keadaan kehidupan pasien
  • Tersedianya support sosial bagi pasien
  • Ada tidaknya faktor resiko bunuh diri pada saat kejadian

Yang bisa dilakukan DOKTER KELUARGA /UMUM jika menjumpai pasien dengan percobaan bunuh diri sebaiknya lakukan pertolongan pertama jika diperlukan, rujuk pasien ke rumah sakit terdekat sambil membenkan penjelasan ke keluarganya bahwa kondisi pasien perlu evaluasi dan pertolongan lebih jauh baik fisik maupun mentalnya (tergantung kondisi pasien).
  

PERILAKU KEKERASAN DAN MENYERANG

Pada keadaan seperti ini yang paling utama kita harus bisa menentukan apakah karena gangguan fisik ataukah karena masalah mental. Untuk masalah mentalnya bisa disebabkan oleh:

  • Gangguan proses pikir misal Skizofrenia
  • Gangguan Manik/Episode Manik
  • Depresi Agitatif/Episode Depresi
  • Gangguan Cemas
  • Reaksi Ekstra Piramidal

Gambaran diatas tidak selalu mudah untuk bisa langsung diidentifikasi karena bisa terjadi overlaping gejala satu dengan yang lainnya.

Tanda-tanda adanya penilaku kekerasan yang mengancam:

  • Kata-kata keras /kasar atau ancaman akan kekerasa
  • Adanya perilaku agitatif
  • Membawa benda-benda tajam atau senjat
  • Adanya pikiran dan perilaku paranoid
  • Adanya penyalah gunaan zat/intoksikasi alkohol
  • Adanya halusinasi dengar yang memerintahkan untuk melakukan tindak kekerasan.
  • Kegelisahan katatonik
  • Episode Manik
  • Episode DepresiAgitatif
  • Gangguan Kepnibadian tertentu
  • Adanya penyakit di Otak(terutama di lobus frontal)

Untuk menduga kemungkinan terjadinya perilaku kekerasan pada seorang pasien tidak mudah. Namun ada beberapa hal yang bisa menjadi petunjuk untuk diperhatikan, misalnya:

  • Adanya ide-ide kekerasan disertai rencana dan sarana yang tersedia
  • Adanya riwayat kekerasan sebelumnya
  • Adanya riwayat gangguan impuls termasuk penjudi, pemabuk, penyalahgunaan zat psikoaktif,percobaan bunuh diri ataupun melukai diri sendiri, Psikosis.
  • Adanya masalah dalam kehidupan pribadi yang nyata.

Yang bisa dilakukan DOKTER KELUARGA UMUM dalam menghadapai kasus perilaku kekerasan dan menyerang seperti ini adalah rujuk ke Rumah Sakit Jiwa terdekat jika sudah bisa dipastikan bukan disebabkan masalah fisik. Seandainya masih meragukan antara masalah fisik dan mental rujuk ke Rumah Sakit Umum terdekat yang lengkap fasilitasnya. Jika kondisi pasien tidak terlalu berat, masih bisa dilakukan pemeriksaan dengan cukup terang dan cukup kooperatif serta kondisi gangguan flsik bisa disingkirkan , bisa diberikan:

  • Haloperidol oral 0.5 mg/3 x sehari
  • Atau Chlorpromazine oral 25 mg/3x sehari
  • Atau Bensodiasepin oral 5 mg /3 x sehari
  • Tergantung diagnosis pasien.
    Dengan saran secepatnya konsul ke Ahlinya ( Psikiater).

Hal lain yang sangat penting diingat adalah merupakan kontra indikasi memberikan obat antipsikotik pada pasien dengan trauma kepala walaupun menunjukkan gejala gaduh gelisah. Pada keadaan seperti ini secepatnya dinujuk ke Rumah Sakit Umum terdekat yang lengkap fasilitasnya.

Dengan saran secepatnya konsul ke Ahlinya (Psikiater).

 

 

 

PELAYANAN KESEHATAN JIWA INTEGRATIF
Dr. Dan Hidayat SpKJ(K)

1969 : Dokter Umum FKUl

1970 – 1999 : Karyawan RS Jiwa Jakarta

1976 : Psikiater FKUl

1980 – 1995 : Psikiater Pembina Dokter Puskesmas DKI Jakarta

1981 – 1993 : Kepala Bidang Pelayanan Medis RS Jiwa Jakarta

1993 – 1994 : Kepala Bidang Perawatan RS Jiwa Pusat Jakarta

1994 – 1999 : Wakil Direktur Administrasi dan Keuangan RSJPJ

1996 – 1999 : Anggota Tim Asistensi Pembangunan RS Jiwa Duren Sawit Dinas Kesehatan DKI Jakarta

I Agustus 1999 : Pensiun PNS dg Pangkat Pembina Utama Muda, Gol lV/C

1999- 1 April 2002 : Kepala Diklat RSJ Pusat Jakarta

 

Pendahuluan

Prinsip pelayanan kesehatan jiwa dapat dibagi dalam tiga jenis pelayanan:

  1. Pelayanan bersifat mediko-psiko-sosial, dimana digunakan pendekatan eklektik­holistik yaitu pendekatan secara terinci dan secara menyeluruh; juga mengetrapkan prinsip-prinsip ilmu kedokteran, ilmu kedokteran jiwa (psikiatri), ilmu perilaku (psikologi) dan ilmu sosial (sosiologi)
  2. Pelayanan bersifat komprehensif, berupa pelayanan promosi kesehatan jiwa, pelayanan prevensi, kurasi dan rehabilitasi gangguan kesehatan jiwa
  3. Pelayanan paripurna yang terdiri dari
    • Pelayanan kesehatan jiwa spesialistik yang dilakukan oleh psikiater dan ada di RS Jiwa, RS Ketergantungan Obat, RS Umum kelas A dan B, praktik swasta.
    • Pelayanan kesehatan jiwa terpadu atau pelayanan kesehatan jiwa integratif yang dilakukan oleh dokter umum di Puskesmas dan RS Umum kelas C dan D, praktik umum swasta.
    • Pelayanan kesehatan jiwa yang bersumber daya masyarakat di Posyandu, PKK, LKMD, PMR, Pramuka, dilaksanakan oleh guru, orangtua, tokoh masyarakat

Pada kali ini akan dibahas khusus pelayanan kesehatan jiwa integratif, yaitu pelayanan kesehatan jiwa yang dilakukan oleh dokter umum dalam praktik sehari­harinya.

Menurut The World Health Report 2001 dikatakan bahwa prevalensi gangguan mental dan perilaku adalah:

  • 25 % dari seluruh penduduk pada suatu masa dari kehidupannya pernah mengalami gangguan jiwa
  • 40 % diantaranya didiagnosis secara tidak tepat, sehingga menghabiskan biaya untuk pemeriksaan laboratonium dan pengobatan yang tidak tepat
  • 10 % populasi dewasa pada suatu ketika dalam kehidupannya mengalami gangguan jiwa
  • 24% pasien pada pelayanan kesehatan dasar

Sedangkan hasil survei kesehatan rumah tangga (SKRT) pada tahun 1995 oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Departemen Kesehatan RI dengan menggunakan rancangan sampel dan Sensus Nasional (Susenas) Biro Pusat Statistik (BPS) terhadap 65.664 rumah tangga, didapatkan prevalensi gangguan jiwa per 1000 anggota keluarga yaitu pada usia 5-14 tahun 104 orang, pada usia diatas 15 th 140 /1000. Sedangkan prevalensi diatas 100 /1000 anggota rumah tangga dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian (priority public health problem). Dengan demikian gangguan jiwa sudah merupakan masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian.

Hasil penelitian th 2002 di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (daerah konflik) di 20
Puskesmas dan 10 kabupaten/kota terhadap pasien yang pertama kali datang berobat: 51,10% mengalami gangguan kesehatan jiwa.

Penelitian terakhir di Jawa Barat th 2002 (point prevalence – unpublished) ditemukan 36 % pasien yang berobat ke Puskesmas mengalami gangguan kesehatan jiwa.
 

Penyakit atau Gangguan 

Penyakit atau gangguan secara dikotomis dapat dibagi dalam penyakit fisik atau penyakit organik dan penyakit mental atau penyakit fungsional. Bila karena penyakit fisik timbul gangguan mental maka dikatakan gangguan mental organik; sebaliknya bila karena adanya gangguan/ masalah mental timbul gangguan fisik maka dikatakan gangguan psikosomatik(istilah yang masih banyak digunakan di kalangan medik); bila karena ada masalah flsik kemudian timbul masalah kejiwaan secara tidak langsung, disebut gangguan somato psikis; bila gangguan fisik dan gangguan mental berada bersamaan tanpa hubungan sebab akibat, dikatakan sebagai komorbiditas.

Sesungguhnya gangguan fisik dan gangguan mental tidak bisa dipisah-pisahkan, upaya memisahkan fisik dan mental merupakan upaya dikotomis dan hal ini tidak tepat dalam pendekatan eklektik-holistik; dan semua gangguan itu sesungguhnya dapat dilakukan dengan pendekatan psikosomatik. Gangguan fungsional mempunyai komponen organik, misalnya perasaan sedih dapat mengeluarkan air mata; gangguan fisik pun mempunyai komponen psikologik, misalnya karena adanya virus HIV dalam darah sudah dapat menimbulkan depresi (somatopsikis), walaupun virus HIV belum menyerang otaknya.Pembagian organik dan fungsional dalam praktik umum, hanya untuk kemudahan pemeriksaan saja, sedangkan pendekatannya tetap secara ekietik holistik.
 

Pengertian dasar

Untuk dapat melakukan deteksi dini gangguan mental, diperlukan beberapa pengertian dasar seperti berikut : yang dimaksud dengan gangguan organik atau penyakit fisik adalah gangguan mengenai organ tubuh, ada gejala dan tanda-tanda obyektif, ada gangguan faali atau kerusakan jaringan atau struktural pada organ tubuh, dapat dibuktikan dengan pemeriksaan fisik, laboratonium, radiologi, EEG, CT scan, USG, MRI, PET-scan dan sebagainya.

Sedangkan gangguan psikologik atau gangguan mental adalah gangguan pada fungsi mental(jiwa) yaitu fungsi yang berkaitan dengan emosi (perasaan), kognisi (pikiran), konasi (perilaku); juga ada gejala dan tanda-tanda obyektif (psikopatologi yang nyata secara klinis), bisa disertai dengan/tanpa kerusakan struktur/jaringan susunan saraf pusat; juga ada keluhan atau penderitaan (distres) dan pasien dan/atau keluanganya; biasanya disertai disabilitas atau disfungsi yaitu ganguan pada fungsi pekerjaan, fungsi sosial, dan fungsi sehari-hari. Etiologinya multi faktorial yaitu secara organobiologik, psikologik, pendidikan, dan sosial-budaya.
 

Etiologi Organobiologik

Penyakit Otak (Intraserebral) seperti gangguan degeneratif, infeksi pada otak, ganguan cerebrovaskular, trauma kapitis, epilepsi, neoplasma, toksik (NAPZA), dan herediter.

Penyakit Sistemik (Ekstraserebral) seperti gangguan metabolisme, endokrin/hormonal, infeksi sistemik, atau penyakit autoimum. 
 

Etiologi Psikologik

Seperi krisis yaitu suatu kejadian yang mendadak; konflik, suatu pertentangan batin; tekanan khususnya dan dalam dirinya, seperti kondisi fisik yang tidak ideal; frustrasi, suatu kegagalan dalam mencapai tujuan; dan sudut pendidikan dan perkembangan seperti salah asih, salah asah, salah asuh; dan takterpenuhinya kebutuhan psikologik seperti: rasa aman, nyaman, perhatian, kasih-sayang.
   

Etiologl Sosio-kultural

Problem keluarga, problem dengan lingkungan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, ekonomi, akses ke pelayanan kesehatan, problem hukum / kriminal dan problem psikososial lainnya. 
   

Tanda/gejala organik 

Faktor organik spesifik yang diduga ada kaitannya dengan gangguan kejiwaan seperti penyakit/gangguan sistemik atau otak yaitu yang berkaitan dengan etiologi organobiologik. Tanda dan gejalanya adalah penurunan kesadaran patologik dan delinum, apathia, somnolen, sopor, sampai koma; adanya gangguan fungsi intelektual atau fungsi kognitif, seperti gangguan daya ingat, daya pikir, daya belajar, gangguan perhatian yaitu berkurangnya kemampuan mengarahkan, memusatkan, mempertahankan dan mengalihkan perhatian; ada gangguan orientasi tempat, waktu dan perorangan; bisa disertai gangguan persepsi seperti halusinasi visual.
 

Tanda/Gejala Penggunaan NAPZA 

Keparahannya dan intoksikasi tanpa komplikasi dan penggunaan yamg merugikan, sampai gangguan psikotik dan demensia. Ada riwayat penggunaan zat psikoaktif secara patologik artinya setiap hari harus menggunakan zat psikoaktif agar dapat berfungsi secara adekuat/memadai minimal satu bulan.

Intoksikasi adalah suatu gangguan mental dimana terdapat tingkah laku maladaptive akibat penggunaan zat psikoaktif.

Penyalahgunaan zat tanpa ketergantungan: pola penggunaan zat psikoaktif secara patologik disertai hendaya dalam fungsi sosial atau pekerjaan dan telah berlangsung paling kurang satu bulan.

Ketergantungan bila ada ketergantungan fisiologik yang dibuktikan dengan adanya toleransi dan sindrom putus zat dan hampir selalu disertai penggunaan patologik yang mengakibatkan hendaya dalam fungsi sosial atau pekerjaan.

Toleransi berarti untuk mendapatkan efek yang sama dan zat tersebut, diperlukan peningkatan dosis.

Sindrom putus zat (withdrawal) terjadi bila ada pengurangan yang cukup banyak dan zat yang rutin digunakan atau mendadak menghentikan penggunaan zat tersebut.
 

Gejala-gejala Psikotik

  • Waham: keyakinan menetap yang tak sesuai dengan kenyataan dan selalu dipertahankan
  • Halusinasi: persepsi pancaindera tanpa sumber rangsangan sensorik eksternal
  • Inkoherensi: pembicaraan/tulisan yang tidak dapat dimengerti
  • Katatonla: gangguan psikomotor seperti mematung, fleksibilitas lilin, stupor, furor (kegelisahan yang muncul secara mendadak), gerakan stereotipik
  • Perilaku kacau: telanjang, gelisah, mengamuk, menarik diri, perilaku aneh
  • Gejala negatif (kehilangan kemampuan yang biasanya ada pada orang yang tidak sakit) pada skizofrenia kronis seperti inatensi, afek mendatar, abulia, alogia, avoliition, asosialiitas, tak merawat diri, apatis terhadap lingkungan. 

Gejala Afektif

Afek/mood adalah suasana perasaan internal yang berkepanjangan dan meresap, yang sering mempengaruhi perilaku dan persepsi individu akan dunia luar seperti anxietas (cemas patologik), depresi dan mania

  • Anxietas : rasa khawatir yang berlebihan, disertai dengan ketegangan motorik dan hiperaktivitas otonom seperti berdebar-debar, keringat dingin, dan tensi naik.
  • Fobia : ketakutan irasional yang menetap terhadap suatu obyek atau situasi
    • fobia sosial : takut diperhatikan, salah tindak dan sebagainya
    • agorafobia : fobia terhadap keramaian dan kesendirian
    • klaustrofobia : fobia terhadap ruang tertutup, seperti dalam lift
    • akrofobia : fobia terhadap ketinggian
  • Panik : kecemasan yang memuncak dan sesaat saja, pada situasi yang tak berbahaya
  • Obsesif-kompulsif : pikiran dan perbuatan berulang yang tak bisa dihindarkan
  • Depresi: rasa sedih yang berlebihan dan berkepanjangan, kehilangan minat dan kegembiraan, dan berkurangnya enersi, sehingga mudah lelah, aktivitas berkurang. Gejala-gejala depresif :
    • rasa sedih, murung, putus asa, rendah diri
    • kehilangan gairah kerja, gairah belajar, gairah seks, lesu, aktivitas berkurang
    • gangguan makan dan gangguan tidur, keluhan fisik lainnya
    • menyendiri, tak suka bergaul, kurang komunikasi
    • ingin mati, rasa bersalah, tak ada semangat
  • Mania: suasana perasaan yang meningkat, disertai peningkatan daham jumlah dan kecepatan aktivitas fisik dan mental, dalam berbagai derajat keparahan, gejalanya:
    • Rasa senang yang berlebih
    • Enersi yang bertambah, timbul hiperaktif, kebutuhan tidur berkurang
    • Psikomotilitas meningkat: banyak bicara, ide kebesaran, sangat optimistik 

Pelayanan kesehatan jiwa integratif dalam praktik umum 

Dalam praktik kedokteran, pasien yang datang berobat selalu mempunyai keluhan utama. Keluhan utama itu dapat kita bagi dalam:

  • Keluhan fisik yaitu keluhan fisik tanpa jelas ada faktor mental emosional. Seperti: kurus, kurang gizi; penglihatan kabur, katarak; bisul, koreng, demam, muntaber; varices, wasir, perdarahan; patah tulang, cedera kepala; kencing manis; benjolan di buah dada; keracunan singkong beracun; kelainan bawaan, thalasemia. Pada keluhan fisik, bilajelas tak ada masalah mental emosional dibalik keluhan fisiknya, langsung diterapi sesuai dengan diagnosis flsik.
  • Keluhan psikosomatik yaitu keluhan fisik yang berlatar belakang faktor mental emosional. Keluhan Psikosomatik berkaitan dengan sistem organ:
    • Kardio-vaskuler: keluhan jantung berdebar-debar, cepat lelah
    • Gastro-intestinal: keluhan ulu hati nyeri, mencret kronis
    • Respiratorlus: keluhan sesak napas, asma
    • Dermatologi: keluhan gatal, eksim
    • Muskulo-skeletal: keluhan encok, pegal, kejang
    • Endokrinologl: keluhan hipertiroidi, hipotiroidi, dismenorea
    • Urogenital: kehuhan masih ngompoh, gangguan gairah seks
    • Serebro vaskuler: keluhan pusing, sering lupa, sukar konsentrasi, kejang epilepsi

Pada keluhan psikosomatik, biasanya dibalik keuhan flsiknya ada masalah kejiwaannya; masalah kejiwaan yang paling sering menyertai keluhan psikosomatik ini adalah gejala anxietas, dan gejala depresi.
   

  • Keluhan mental emosional yaitu keluhan yang berkaitan dengan fungsi mental seperti emosi, kognisi dan konasi. Keluhan mental emosional dapat berupa:
    • Gejala psikotik: halusinasi, waham, inkoherensi, katatonia, perilaku kacau, gejala negatif
    • Gejala anxletas: cemas, khawatir, berdebar, keringat dingin
    • Gejala depresif: murung, tak bergairah, putus asa, menyendiri, pasif, tak banyak bicara
    • Gejala manik: gembira, banyak bicara, aktif sekali
    • Retardasi mental: bodoh, tak bisa mengikuti pelajaran, sukar mengadakan adaptasi, sejak usia dibawah 18 tahun
    • Pemakaian NAPZA: teler, sakau, curiga (‘parno’), takut
    • Anak dan remaja: kesulitan belajar, gangguan perkembangan, gangguan makan, gangguan perilaku, masih mengompol pada anak diatas 5 tahun, gangguan interaksi, komunikasi, gangguan pemusatan perhatian dengan hiperaktivitas

Pada pasien yang datang dengan keluhan psikosomatik dan keluhan mental emosional maka yang perlu dilakukan oleh dokter adalah menetapkan:

  • Stresor (etlologi) nya: organobiologik atau psikososial
  • Ada atau. tidak adanya distres/penderitaan/keluhan pada pasien, dan/atau lingkungan/keluarga
  • Ada atau tidak adanya gangguan fungsi seperti fungsi pekerjaan/akademik, fungsi sosial, fungsi sehari-hari

Hal-hal yang berkaitan dengan pembuatan diagnosis:

  • Gejala kejiwaan yang disertai dengan distres/penderitaan dan/atau gangguan fungsi disebut Gangguan Mental
  • Gangguan Mental yang disebabkan stresor organobiologik disebut Gangguan Mental Organik(GMO)
  • Gangguan Mental yang disebabkan stresor psikososial disebut Gangguan Mental Non Organik (GMNO)

Pembuatan diagnosis (kode diagnosis lCD 10)secara cepat dan petunjuk terapi:

  1. Kalau pasien hanjut usia (diatas 65 th) datang dengan keluhan utama: gangguan daya ingat, tanpa penurunan kesadaran secara patologik => Demensia (F00#)
    Pedoman praktis terapi demensia, prinsip umumnya adalah:
    Identifikasi dan obati kondisi medik umum seperti tiroid, B12, HIV; pasien kontrol satu kali setiap minggu, kemudian satu kahi setiap bulan; evaluasi potensi bunuh diro dan cedera diri; dilarang mengemudikan kendaran bermotor; jangan biarkan pergi sendirian sertakan identitas diri yang melekat pada tubuhnya seperti gelang dengan nomor telepon dan alamat; beritahu keluarga tentang penyakitnya, keputusan keuangan, surat wasiat, kelompok pendukung, organisasi masyarakat. Obat yang bisa diberikan adalah vitamin E, neurotropik, nootropik, ginkobiloba, ergot mesylate (hidergine), tacrine, donepezil (Aricept), rivastigmine (Exelon), galantamine (Reminyl)
  2. Kalau pasien datang dengan kesadaran berkabut (penurungan kesadaran secara patologik, dan kesadaran berkabut sampai koma), berkurangnya kemampuan mengarahkan, memusatkan, mempertahankan dan mengalihkan perhatian, bisa disertai halusinasi, waham, berlangsung kurang dari 6 bulan => Delirium (F05) Terapi delirium adalah terapi kausal. Perlu dukungan fisik agar tidak timbul kecelakaan, dukungan sensor agar tidak terlalu dirangsang atau terialu kurang dirangsang, dan dukungan lingkungan yaitu perlu pendamping atau pengasuh biasa. Bila disertai gejala psikotik rujuk saja ke RS Jiwa. Gejala insomnia dapat diterapi dengan benzodiazepin kerja singkat (lorazepam) atau hidroxyzine (lterax/bestalin). Pada delirium karena putus alkohol dapat diberikan benzodiazepin kerja panjang (diazepam).
  3. Kalau pasien datang dengan nwayat penggunaan zat psikoaktif sampai saat ini => Gangguan Penggunaan Zat Psikoaktif (F10 alkohol, F11 opioida, F12 ganja, F13 hipnotika, F15 stimulansia); kemudian tentukan kondisi pada saat datang apakah dalam keadaan intoksikasi akut, penggunaan yang merugikan, sindrom ketergantungan, keadaan putus zat dengan / tanpa delirium, gangguan psikotik, atau sindrom amnesik.
    Terapi intoksikasi alkohol: muntahkan bila belum lama, berikan kopi kental, aktivitas fisik atau mandi air dingin-hangat. Bila berat seperti intoksikasi alkohol idiosinkratik dan stupor alkoholik sebaiknya dirujuk ke RS Ketergantungan Obat atau RS Jiwa. lntoksikasi opioida diterapi dengan Naloxone HCI di rumah sakit
    Intoksikasi ganja, lntoksikasi kokain atau amfetamin atau stimulansia diterapi dengan diazepam 10-30 mg im/ oral; clobazam 3 x 10 mg , bila palpitasi beri propanolol 3 dd 10-40 mg; bila disertai gejala psikotik berikan antipsikotik.
    Terapi terhadap kondisi kelebihan dosis pada dasarya simtomatik; masalah yang membahayakan kehidupan pasien rujuk ke unit gawat darurat dengan memperhatikan kondisi A (irways) B(reathing) C (irculation)
    Terapi terhadap gejala putus zat bisa dilakukan secara simtomatik, kalau tidak berhasil dirujunk ke rumah sakit jiwa atau rumah sakit ketergantungan obat
  4. Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala psikotik yang berlangsung lebih dan satu bulan => Skizofrenia (F20#)
    Terapi: obat antipsikotik seperti haloperidol 3 dd 5 mg; bila dalam keadaan gaduh gelisah diberikan suntikan haloperidol im 5 mg setiap jam bersama dengan diazepam 10 mg im (di RS Jiwa). Bila psikosis kronik dapat diberikan antipsikosis long acting seperti fluphenasin decanoas (Modecate) 25 mg im setiap 4 minggu atau Haldol decanoas 50 mg im setiap 4 minggu. Untuk gejala negatif dan skizofrenia dapat diberikan obat antipsikotik atipikal seperti risperidon (Risperdal), quetiapine (Seroqueh), olanzepin (Zyprexa), aripiprazole (Abilify), zotepine (Lodopin), clozapine (Clozani). Antipsikosis atipikal juga dapat untuk gejala positif seperti waham, halusinasi, inhoherensi, perihaku kacau. 
  5. Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala psikotik yang berlangsung kurang dari satu bulan => Gangguan Psikotik Akut(F23)
    Terapi: lihat terapi pada skizofrenia 
  6. Kahau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala manik yang berlangsung lebih dari satu minggu => Mania (Gangguan Bipolar) (F31)
    Terapi: berikan mood stabilizers seperti lithium karbonat, karbamazepin, vaiproat; bila disertai gejala psikotik dapat berikan obat antipsikotik
  7. Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala depresi yang berlangsung lebih dari dua minggu =>Gangguan Depresif (F32#), Terapi: obat antidepresan, bila berat disertai dengan tentamen suicidum rujuk ke RS Jiwa untuk mendapat terapi kejang listrik.
    Antidepressant Drugs menurut cara bekerjanya dapat digolongkan dalam:

    • NA & 5-HT re-uptake inhibitors (imipramine-Tofranil, amytriptyline-Laroxyl)
    • NA-RI (mianserine-Tolvon, maprotiline-Ludiomil)
    • NA-RI: Dibenzoxazepine (amoxapin-Asendin)
    • 5-HT RI/receptor blockers (trazodone-Trazone, clomipramine-Anafranil)
    • SSRI : Selective 5-HT RI (fluoxetine-Prozac, sertraline-Zoloft, paroxetine­Seroxat, fluvoxamine-Luvox, citalopram-Cipram, escitalopram-Cipralex)
    • SNRI: 5-HT-NARI (venlafaxine-Effexor, duloxetine-Cymbalta)
    • RIMA : Reversible inhibition of MAO-A (moclobemide -Aurorix)
    • NaSSA : NA and Specific Serotonergic Antidepressant (Mirtazapine – Remeron)
    • SRE: Serotonin re-uptake enhancer (tianeptine – Stablon)
    • SDRI: Selective DA RI (bupropion-Wellbutrin)
      Keterangan: NA, N (Noradrenergik, Norepinephrine); 5-HT (Serotonin); RI (ReuptakeInhibitor); DA(Dopamin)
  8. Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala fobik (takut terhadap sesuatu obyek atau situasi tertentu) => Gangguan Fobik(F40)
    Terapi: obat golongan benzodiazepin, antidepresan, SSRI, venlafaxine, dulocetine disertai dengan terapi psikologik(terapi perilaku)
  9. Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala panik (gejala cemas yang memuncak dan berlangsung sesaat saja) => Gangguan Panik (F41.0) Terapi: alprazolam 3 dd 0,5 mg atau antidepresan golongan SSRI, atau imipramine, dan terapi psikologik 
  10. Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala anxietas (cemas disertai gejala debar-debar, keringat dingin, tegang) => Gangguan Anxietas (F41.1)
    Terapi: Benzodiazepin seperti chlordiazepoxide, diazepam, clobazam, bromazepam, alprazolam, lorazepam; non-benzodiazepin seperti buspirone, hydroxyzine (Iterax)
  11. Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala obsesif kompulsif (pikiran dan/atau perilaku yang berulang, disertai kecemasan, dan tak bisa dihindarkan) => Gangguan Obsesif Kompulsif (F42)
    Terapi: SSRI, clomipramin (Anafranil), clonazepam; kadang-kadang perlu obat antipsikotik seperti haloperidol.
  12. Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala anxietas atau gejala depresi yang timbul segera setelah suatu kejadian/stresor berat => Reaksi Stres Akut(F43.0)
    Terapi: obat antianxietas dan/atau antidepresan dan terapi psikologik
  13. Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala anxietas atau gejala depresi yang timbul dalam kurun waktu 6 bulan setelah suatu kejadian traumatik/stresor/berat => Gangguan Stres Pasca Trauma (F43.1) Terapi: obat antianxietas dan/atau antidepresan dan terapi psikologik
  14. Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala anxietas ataugejala depresi yang timbul karena perubahan situasi atau lingkungan => Gangguan Penyesuaian dengan gejala anxietas/depresif(F43.2)
    Terapi: obat antianxietas dan/atau antidepresan dan terapi psikologik 
  15. Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala fisik tanpa kelainan struktural/organ yang dilatarbelakangi oleh gejala anxietas atau depresi => Gangguan Somatoform (F45)
    Terapi: obatantianxietas dan/atau antidepresan danterapi psikologik 
  16. Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala fisik dengan penyakit fisik yang dihatarbelakangi oleh gejala anxietas atau depresi => Gangguan Psikosomatik, Gangguan Makan, Gangguan Tidur, Disfungsi Seksual(F50#) Terapi: obat antianxietas dan/atau antidepresan dan terapi psikologik; juga gangguan fisiknya
  17.  Kalau pasien datang dengan keluhan sesuai dengan gejala perilaku yang cenderung menetap dan merupakan pola hidup yang khas dalam hubungan dengan diri sendiri maupun pada orang lain, sehingga mengganggu norma sosial, penaturan, etika, kewajiban => Gangguan kepribadian (F60#) Terapi: gejala periakunya dengan obat antipsikotik dan terapi perilaku
  18. Kalau pasien datang dengan keluhan kecerdasan yang kurang, disertai kemampuan adaptasi yang kurang, sejak sebelum usia 18 tahun => Retardasi Mental (F70#)
    Terapi: sekolah Iuarbiasa. Bila ada gangguan perilaku diterapi simtomatik
  19. Kalau pasien anak datang dengan keluhan gangguan perkembangan khas berbicara, berbahasa, mengeja, membaca, berhitung, motorik => Gangguan Perkembangan Psikologis (F80#)
    Terapi: Pendidikan khusus (remedial teaching)
  20. Kalau pasien anak datang dengan keluhan adanya gangguan interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku yang terbatas dan berulang, sejak sebelum usia 3 tahun=> Autisme Masa Kanak(F84.O)
    Terapi: pendidikan keluarga, terapi perilaku, terapi pendidikan khusus untuk bahasa. 
  21. Kalau pasien anak datang dengan keluhan adanya gejala berkurangnya kemampuan memusatkan perhatian, disertai dengan hiperaktivitas > Gangguan Hiperkinetik(F90) atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
    Terapi: Methylphenidate
  22. Kalau pasien anak datang dengan keluhan adanya kenakalan pada anak dan remaja => Gangguan tingkah laku pada anak dan remaja(F91)
    Terapi: pendidikan keluarga dan terapi perilaku 
  23. Kahau pasien anak datang dengan keluhan adanya gejaha mengompol pada anak diatas 5tahun => Enuresis Non-organik(F98.0)
    Terapi: Imipramine I dd 25 mg sebelum tidur dan terapi perilaku
  24. Kalau pasien datang dengan keluhan kejang / tanpa kejang, sadar/tak sadar, berulang => Epilepsi (G40#)
    Terapi: Antiepileptikum

Penutup

Moga-moga makalah ini dapat membantu dokter dalam melakukan praktik pelayanan kesehatan jiwa yang terpadu dalam praktik umum sehingga banyak pasien yang dapat pelayanan yang lebih baik. 

Dibawakan pada symposium “Deteksi dini dan penatalaksanaan terapi gangguan jiwa dalam praktik umum” pada tanggal 27 Oktober 2007, di Hotel Redtop, Jakarta

 

 

SUSUNAN PENGURUS
IDI CABANG JAKARTA BARAT
PERIODE 2005 – 2008

 

JABATAN

NAMA

Penasehat

Dr. Robert Imam Soetedja
Dr. Arry F. Ramba
Dr. Robert Gandasentana, MS
Dr. Budiyanto Sutejo, Sp.A

Ketua Umum

Dr. Tony S. Natakarman

Ketua I

Dr. Cecilia R. Padang, PhD, FACR

Ketua II

Dr. Saiful Jazan, MSc

Ketua Ex Officio BP2A

Dr. Budi Sampurna, Sp.F, SH

Wakil Ketua BP2A

Dr. D. Aji Kadarmo, Sp.F, DFM

Sekretaris BP2A

Dr. Evi Untoro

Anggota BP2A

Dr. Robert Imam Soetedja
Dr. Arry F. Ramba

Anggota BP2A

Dr. Robert Gandasentana, MS
Dr. Dan Hidayat, Sp.KJ
Dr. Raditya Wratsangka, Sp.OG

Sekretaris

Dr. Kevin Gunawan

Wakil Sekretaris

Dr. Evi Untoro

Bendahara

Dr. Retno Praptijani

Wakil Bendahara

Dr. Evi Narulita

Seksi Ilmiah

Dr. Raditya Wratsangka, Sp.OG
Dr. Oktavianus Ch. Salim
Dr. Inggriwati Komala, Sp.PK
Dr.med.Lie A. Dharmawan, Sp.B,Sp.BT
Dr. Tuti Kusumadewi
Dr. Kiki Madiapermana, Sp.A

Seksi Pengembangan Profesi

Dr. Sutopo Widjaja, MS
Dr. Harjanto Sidharta
Dr. Anthio Kuswanto|
Dr. Yusak Liong

Seksi Pengabdian Masyarakat

Dr. Laymena Yusak
Dr. Zamni Abbas
Dr. Chairudin
Dr. Stephanus Junardi Sarmili, Sp.A

Seksi Komite Rekomendasi Ijin Praktek

Dr. Robert Imam Soetedja
Dr. Tony S. Natakarman
Dr. Trifena Ekowati
Dr. Darwisyah Harahap
Dr. Saiful Jazan, MSc

Seksi Komite Rekomendasi Ijin Praktek

Dr. Minamad Rapa, MM
Dr. Joyce Tjakraatmadja
Dr. Budiyanto Sutejo, Sp.A

Seksi Kesejahteraan

Dr. Agus Tanjung, MHA
Dr. Enrico Adhitya Rinaldi
Dr. Lianawati

Seksi Olah Raga

Dr. Danny A. Hermawan
Dr. Rusddy
Dr. Minamad Rapa, MM

KOMISARIAT :

FK. Universitas Trisakti

Dr. Eveline Margo

FK. Universitas Tarumanegara

Dr. Magdalena Linaria Juniwati

FK. Universitas Kristen Krida Wacana

Dr. Indriani Kurniadi

Rumah Sakit Sumber Waras

Dr. Tjandra Gunawan

Rumah Sakit Jiwa Jakarta

Dr. Handy Sosilo

Rumah Sakit Medika Permata Hijau

Dr. Safyuni Naswati Sahupala

Rumah Sakit Pelni Petamburan

Dr. Sulastri

Rumah Sakit Graha Medika

Dr. Evi Narulita

Rumah Sakit Husada

Dr. Frans Wanahita

Sudinkes Jakarta Barat

Dr. Julianti Sutanto, M.Kes

 

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: