SIMPOSIUM SEHARI KESEHATAN JIWA
DALAM RANGKA MENYAMBUT HARI KESEHATAN JIWA SEDUNIA
Penyelenggara:
IKATAN DOKTER INDONESIA CABANG JAKARTA BARAT
Bekerjasama dengan:
FK UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
FK UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
FK UNIVERSITAS PELITA HARAPAN
27 OKTOBER 2007
HOTEL RED TOP, JAKARTA
SUSUNAN PANITIA
|
Penasehat : |
|
|
Dekan FK UKI |
Dr. Angkasa Sebayang MPH |
|
Dekan FK UKRIDA |
DR. Dr. Mardi Santoso, DTM&H, SpPD-KEMD |
|
Dekan FK UPH |
Dr. Eka Julianta Wahjoepramono Sp.BS |
|
Ketua IDI Jak – Bar |
Dr. Tony S. Natakarman |
|
Panitia Pengarah : |
|
|
Ketua |
Dr. W.M. Roan DPM, Sp.KJ (K) |
|
Wakil Ketua |
Dr. Dan Hidayat Sp.KJ (K) |
|
Sekretaris |
Dr. Evalina Hutagalung Sp.KJ |
|
Anggota |
Semua Pembicara |
|
Panitia Pelaksana : |
|
|
Penanggung Jawab |
Dr. Saiful Jazan, MSc |
|
Ketua Pelaksana |
Dr. Laymena Yusak |
|
Wakil Ketua |
Dr. Eveline Margo |
|
Sekretaris I |
Dr. Kevin Gunawan |
|
Sekretaris II |
Dr. Joyce Tjakraatmadja, MSc |
|
Bendahara I |
Dr. Retno Praptijani |
|
Bendahara II |
Dr. Trifena Ekowati |
|
Seksi Ilmiah |
Dr. Sutopo Widjaja, MS Dr. Oktavianus Ch. Salim, MS |
|
Seksi Dana |
Dr. Dan Hidayat Sp.KJ (K) |
|
Seksi Konsumsi |
Dr. Magdalena Linaria Junitawati, MS |
|
Seksi Publikasi & Dokumentasi |
Dr. Chairudin Dr. Evi Untoro Dr. Indriani Kurniadi |
|
Seksi Perlengkapan |
Dr. Rusddy |
|
Pembantu Umum |
Dr. Robert Imam Soetedja Dr. Darwisyh Harahap |
|
Ikatan Dokter Indonesia Cabang Jakarta Barat mengucapkan terima kasih kepada perusahaan – perusahaan yang telah berpartisipasi sebagai sponsor pada acara Simposium Sehari Kesehatan Jiwa dengan tema “Deteksi Dini Dan Penatalaksanaan Terapi Gangguan Jiwa Dalam Praktek Umum” di Hotel Redtop Jakarta pada tanggal 27 Oktober 2007. |
|
|
PT. Boehringer Ingelheim Indonesia PT. Otsuka Indonesia PT. Ethica Industri Farmasi PT. Servier Indonesia PT. Mersi Farma PT. Wyeth Indonesia PT. Pfizer Indonesia PT. Interbat Lundbeck Indonesia Novartis PT. Pharos Indonesia Laboratorium Klinik Prodia PT. Indocore Perkasa PT. Schering Plough Indonesia PT. Dyasa Satria Mandiri |
|
Gangguan Mental Dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat Psikoaktif
Skizofrenia Dan Gangguan Psikotik Lainnya
Tatalaksana Diagnosis Dan Terapi Gangguan Anxietas
Kedaruratan Psikiatri Dan Tatalaksana
Pelayanan Kesehatan Jiwa Integratif
Susunan Pengurus IDI Jakarta Barat Periode 2005 – 2008
KATA PENGANTAR
dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas Berkat dan RahmatNya sehingga buku Prosiding Simposium Sehari Kesehatan Jiwa dengan judul : “Deteksi Dini dan Penatalaksanaan Terapi Gangguan Jiwa dalam Praktek Umum” dapat diselesaikan dengan baik. Buku prosiding ini merupakan kumpulan makalah selama berlangsungnya kegiatan Simposium pada tanggal 27 Oktober 2007 di Jakarta.
Simposium ini diselenggarakan oleh IDI Cabang Jakarta Barat bekerjasama dengan dosen-dosen dan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana dan Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia pada tanggal 10 Oktober.
Simposium ini memang tidak dalam lingkup nasional, namun topik kesehatan jiwa yang dibahas sangat bermanfaat bagi sejawat untuk dapat melakukan deteksi dini dan penatalaksanaan terapi gangguan jiwa dalam praktek umum. Disamping itu materi hukum dan etika merupakan hal penting bagi kita semua dalam menjalankan profesi dokter. Sedangkan materi Internasional Standard For Tuberculosis Care (ISTC) memuat standar diagnosis, standar pengobatan tuberkulosis dan standar tanggung jawab kesehatan masyarakat serta tidak kalah pentingnya merupakan kontribusi lkatan Dokter Indonesia dalam upaya penanggulangan masalah tuberkulosis global umumnya dan di Indonesia khususnya.
Harapan kami, buku prosiding ini dapat memberikan kontribusi dalam peningkatan pengetahuan peserta simposium dan juga bagi para sejawat dokter dalam praktek umum.
Tidak lupa kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselenggaranya simposium dan penyusunan buku prosiding ini.
Jakarta, 2 Oktober 2007
Dr. Tony S. Natakarman
Ketua IDI Jakarta Barat
LATAR BELAKANG
Akhir-akhir ini banyak kasus kekerasan, bunuh diri, kawin cerai, tawuran, pembunuhan, ibu membunuh anak-anaknya, Cucu membunuh kakek, pemerkosaan, penculikan anak, penggunaan NARKOBA, kecelakaan lalu lintas baik darat, udara, laut, korupsi, bencana alam seperti : tsunami, gempa bumi, tanah longsor, tayangan TV, smack down, dan sebagainya. Kejadian – kejadian ini ada kaitannya dengan masalah kesehatan jiwa dan gangguan jiwa, baik sebagai penyebab maupun sebagai akibat.
Penelitian mengenai gangguan jiwa yang pernah dilakukan oleh para psikiater dari Direktorat Kesehatan Jiwa, Dirjen Yanmed, Depkes, di Puskesmas Kecamatan Tambora, lebih dari 20 tahun yang lalu didapatkan bahwa prevalensi gangguan jiwadi Puskesmas adalah sekitar 30%, berarti dari setiap 10 orang yang berobat ke Puskesmas ada 3 orang yang mempunyai masalah kejiwaan.
Demikian pula pasien-pasien yang berobat ke praktik umum sedikitnya 10% pasien yang berobat mempunyai masalah kejiwaan dibalik keluhan fisiknya.
Fakta lainnya adalah orang lebih senang dikatakan sakit saraf daripada sakit jiwa. Sakit Jiwa masih merupakan stigma dalam masyarakat. Penderita gangguan jiwa lebih sering dibawa ke dukun atau “orang pintar”.
Sering kali penderita gangguan jiwa terlambat diterapi karena kurang kepekaan dokter dalam mendeteksinya, sehingga banyak biaya yang telah dikeluarkan pasien untuk pemeriksaan-pemeriksaan penunjang dan pengobatan yang kurang tepat.
Dokter umum sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan adalah yang pertama menerima pasien baru, kepada dokter umum ini perlu ditingkatkan kemampuan dan ketrampilannya dalam melakukan deteksi dini dari penatalaksanaan terapi masalah dan gangguan jiwa yang ditemuinya dalam praktek sehari-hari, sehingga pasien mendapat pelayanan medik yang optimal dan tepat.
TUJUAN
Meningkatkan kemampuan, ketrampilan mendeteksi dan terapi masalah kesehatan jiwa dan gangguan jiwa yang banyak dijumpai dalam praktek sehari-hari dari para petugas kesehatan khusus para teman sejawat dokter umum atau dokter keluarga ( sesuai kompetensi dokter umum).
Menghilangkan stigma gangguan jiwa di kalangan profesional dan masyarakat
DELIRIUM DAN DEMENSIA
Makalah yang disajikan pada seminar sehari dalam rangka memperingati
Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (10 Oktober 2007)
dilaksanakan di Jakarta, 27 Oktober 2007.
Oleh: Dr. Witjaksana Roan, DPM(Lond.), SpKJ(K)
Psikiater RS St. Carolus, RS Siloam West Jakarta dan Siloam Karawaci
DELIRIUM
Delirium juga disebut Kondisi bingung akut (Acute Confusional State) dan demensia merupakan penyebab yang paling sering dan gangguan atau hendaya kognitif, walaupun gangguan afektif (seperti depresi) juga bisa mengganggu kognisi. Delirium dan demensia merupakan dua gangguan yang berbeda, namun sering sukar dibedakan. Pada keduanya, fungsi kognitif terganggu, namun demensia biasanya memori yang terganggu, sedangkan delirium daya perhatiannya yang terganggu.
Beberapa ciri khas membedakan kedua gangguan tersebut (lihat tabel I). Delirium biasanya disebabkan oleh penyakit akut atau keracunan obat (kadang mengancam jiwa orang) dan sering reversibel, sedangkan demensia secara khas disebabkan oleh perubahan anatomik dalam otak, berawal lambat dan biasanya tidak reversibel. Delirium bisa timbul pada pasien dengan demensia juga.
Tabel I. Perbedaan klinis delirium dan Demensia
|
Gambaran |
Delirium |
Demensia |
|
Riwayat |
Penyakit akut |
Penyakit kronik |
|
Awal |
Cepat |
Lambat laun |
|
Sebab |
Terdapat penyakit lain (infeksi, |
Biasanya penyakit otak kronik (spt Alzheimer, demensia vaskular) |
|
Lamanya |
Ber-hari/-minggu |
Ber-bulan/-tahun |
|
Perjalanan sakit |
Naik turun |
Kronik progresif |
|
Taraf kesadaran |
Naik turun |
Normal |
|
Orientasi |
Terganggu, periodik |
Intak pada awalnya |
|
Afek |
Cemas dan iritabel |
Labil tapi tak cemas |
|
Alam pikiran |
Sering terganggu |
Turun jumlahnya |
|
Bahasa |
Lamban, inkoheren, inadekuat |
Sulit menemukan istilah tepat |
|
Daya ingat |
Jangka pendek terganggu nyata |
Jangka pendek & panjang terganggu |
|
Persepsi |
Halusinasi (visual) |
Halusinasi jarang kecuali sundowning |
|
Psikomotor |
Retardasi, agitasi, campuran |
Normal |
|
Tidur |
Terganggu siklusnya |
Sedikit terganggu siklus tidurnya |
|
Atensi & kesadaran |
Amat terganggu |
Sedikit terganggu |
|
Reversibilitas |
Sering reversibel |
Umumnya tak reversibel |
|
Penanganan |
Segera |
Perlu tapi tak segera |
Catatan: pasien dengan demensia amat rentan terhadap delirium, dan delirium yang bertumpang tindih dengan demensia adalah umum
DELIRIUM
Sindrom klinis akut dan sejenak dengan ciri penurunan taraf kesadaran, gangguan kognitif, gangguan persepsi, termasuk halusinasi & ilusi, khas adalah visual juga di pancaindera lain, dan gangguan perilaku, seperti agitasi. Gangguan ini berlangsung pendek dan ber-jam hingga berhari, taraf hebatnya berfluktuasi, hebat di malam hari, kegelapan membuat halusinasi visual & gangguan perilaku meningkat. Biasanya reversibel. Penyebabnya termasuk penyakit fisik, intoxikasi obat (zat). Diagnosis biasanya klinis, dengan laboratorium dan pemeriksaan pencitraan (imaging) untuk menemukan penyebabnya. Terapinya ialah memperbaiki penyebabnya dan tindakan suportif.
Delirium bisa timbul pada segala umur, tetapi sering pada usia lanjut. Sedikitnya 10% dari pasien lanjut usia yang dirawat inap menderita delirium; 15-50% mengalami delirium sesaat pada masa perawatan rumah sakit. Delirium juga sering dijumpai pada panti asuhan. Bila delirium terjadi pada orang muda biasanya karena penggunaan obat atau penyakit yang berbahaya mengancam jiwanya.
Etiologi dan patofisiologi
Banyak kondisi sistemik dan obat bisa menyebabkan delirium, contoh antikolinergika, psikotropika, dan opioida. Mekanisma tidak jelas, tetapi mungkin terkait dengan gangguan reversibilitas dan metabolisma oxidatif otak, abnormalitas neurotransmiter multipel, dan pembentukan sitokines (cytokines). Stress dari penyebab apapun bisa meningkatkan kerja saraf simpatikus sehingga mengganggu fungsi kolinergik dan menyebabkan delirium. Usia lanjut memang dasarnya rentan terhadap penurunan transmisi kolinergik sehingga lebih mudah terjadi delirium. Apapun sebabnya, yang jelas hemisfer otak dan mekanisma siaga (arousal mechanism)dari talamus dan sistem aktivasi retikular batang otak jadi terganggu.
Terdapat faktor predisposisi gangguan otak organik: seperti demensia, stroke. Penyakit parkinson, umur lanjut, gangguan sensorik, dan gangguan multipel. Faktor presipitasi termasuk penggunaan obat baru lebih dan 3 macam, infeksi, dehidrasi, imobilisasi, malagizi, dan pemakaian kateter buli-buli. Penggunaan anestesia juga meningkatkan resiko delirium, terutama pada pembedahan yang lama. Demikian pula pasien lanjut usia yang dirawatdi bagian ICU beresiko lebih tinggi.
Tanda dan gejala
Delirium ditandai oleh kesulitan dalam:
Konsentrasi dan memfokus
Mempertahankan dan mengalihkan daya perhatian
Kesadaran naik-turun
Disorientasi terhadap waktu, tempat dan orang
Halusinasi biasanya visual, kemudian yang lain
Bingung menghadapi tugas se-hari-hari
Perubahan kepribadian dan afek
Pikiran menjadi kacau
Bicara ngawur
Disartria dan bicara cepat
Neologisma
Inkoheren
Gejala termasuk:
Perilaku yang inadekuat
Rasa takut
Curiga
Mudah tersinggung
Agitatif
Hiperaktif
Siaga tinggi (Hyperalert)
Atau sebaliknya bisa menjadi:
Pendiam
Menarik diri
Mengantuk
Banyak pasien yang berfluktuasi antara diam dan gelisah
Pola tidur dan makan terganggu
Gangguan kognitif, jadi daya mempertimbangkan dan tilik-diri terganggu
Diagnosis
Biasanya klinis. Semua pasien dengan tanda dan gejala gangguan fungsi kognitif perlu dilakukan pemeriksaan kondisi mental formal.
Kemampuan atensi bisa diperiksa dengan:
Pengulangan sebutan 3 benda
Pengulangan 7 angka ke depan dan 5 angka ke belakang (mundur)
Sebutkan nama hari dalam seminggu ke depan dan ke belakang (mundur)
Ikuti kriteria diagnostik dari lCD-10 atau DSM-IV-TR
Confusion Assessment Method (CAM)
Wawancarai anggota keluarga
Penggunaan obat atau zat psikoaktif overdosis atau penghentian mendadak.
Prognosis
Morbiditas dan mortalitas lebih tinggi pada pasien yang masuk sudah dengan delirium dibandingkan dengan pasien yang menjadi delirium setelah di Rumah Sakit.
Beberapa penyebab delirium seperti hipoglikemia, intoxikasi, infeksi, faktor iatrogenik, toxisitas obat, gangguan keseimbangan elektrolit. Biasanya cepat membaik dengan pengobatan.
Beberapa pada lanjut usia susah untuk diobati dan bisa melanjutjadi kronik
Terapi
Terapi diawali dengan memperbaiki kondisi penyakitnya dan menghilangkan faktor yang memberatkan seperti:
Menghentikan penggunaan obat
Obati infeksi
Suport pada pasien dan keluanga
Mengurangi dan menghentikan agitasi untuk pengamanan pasien
Cukupi cairan dan nutrisi
Vitamin yang dibutuhkan
Segala alat pengekang boleh digunakan tapi harus segera dilepas bila sudah membaik, alat infuse sesederhana mungkin, lingkungan diatur agar nyaman.
Obat:
Haloperidoi dosis rendah dulu 0,5 1 mg per os, IV atau IV
Risperidone0,5 3mg perostiap l2jam
Olanzapine 2,5 15 mg per os 1 x sehari
Lorazepam 0,5 1mg per Os atau parenteral (tak tersedia di Indonesia), Perlu diingat obat benzodiazepine mi bisa memperburuk delirium karena efek sedasinya.
DEMENSIA
Demensia ialah kondisi keruntuhan kemampuan intelek yang progresif setelah mencapai pertumbuhan & perkembangan tertinggi (umur 15 tahun) karena gangguan otak organik, diikuti keruntuhan perilaku dan kepribadian, dimanifestasikan dalam bentuk gangguan fungsi kognitif seperti memori, orientasi, rasa hati dan pembentukan pikiran konseptual. Biasanya kondisi ini tidak reversibel, sebaliknya progresif. Diagnosis dilaksanakan dengan pemeriksaan klinis, laboratorlum dan pemeriksaan pencitraan (imaging), dimaksudkan untuk mencari penyebab yang bisa diobati. Pengobatan biasanya hanya suportif. Zat penghambat kolines terasa (Cholinesterase inhibitors) bisa memperbaiki fungsi kognitif untuk sementara, dan membuat beberapa obat antipsikotika lebih efektif daripada hanya dengan satu macam obat saja.
Demensia bisa terjadi pada setiap umur, tetapi lebih banyak pada lanjut usia (l.k 5% untuk rentang umur 65-74 tahun dan 40% bagi yang berumur >85 tahun). Kebanyakan mereka dirawat dalam panti dan menempati sejumlah 50% tempat tidur.
Etiologi dan klasifikasi
Menurut Umur:
Demensia senilis (>65th)
Demensia prasenilis (<65th)
Menurut perjalanan penyakit:
Reversibel
Ireversibel (Normal pressure hydrocephalus, subdural hematoma, vit B
Defisiensi, Hipotiroidisma, intoxikasi Pb.
Menurut kerusakan struktur otak
Tipe Alzheimer
Tipe non-Alzheimer
Demensia vaskular
Demensia Jisim Lewy (Lewy Body dementia)
Demensia Lobus frontal-temporal
Demensia terkait dengan SIDA(HIV-AIDS)
Morbus Parkinson
Morbus Huntington
Morbus Pick
Morbus Jakob-Creutzfeldt
Sindrom Gerstmann-Sträussler-Scheinker
Prion disease
Palsi Supranuklear progresif
Multiple sklerosis
Neurosifilis
Tipe campuran
Menurut sifat klinis:
Demensia proprius
Pseudo-demensia
Tanda dan gejala
Seluruh jajaran fungsi kognitif rusak.
Awalnya gangguan daya ingat jangka pendek.
Gangguan kepribadian dan perilaku, mood swings
Defisit neurologik motor & fokal
Mudah tersinggung, bermusuhan, agitasi dan kejang
Gangguan psikotik: halusinasi, ilusi, waham & paranoia
Agnosia, apraxia, afasia
ADL (Activities of Daily Living)susah
Kesulitan mengatur penggunaan keuangan
Tidak bisa pulang ke rumah bila bepergian
Lupa meletakkan barang penting
Sulit mandi, makan, berpakaian, toileting
Pasien bisa berjalan jauh dari rumah dan tak bisa pulang
Mudah terjatuh, keseimbangan buruk
Akhirnya lumpuh, inkontinensia urine & alvi
Tak dapat makan dan menelan
Koma dan kematian
Diagnosis
Diagnosis difokuskan pada 3 hal:
Pembedaan antara delirium dan demensia
Bagian otak yang terkena
Penyebab yang potensial reversibel
Perlu pembedaan dan depresi (ini bisa diobati relatif mudah)
Pemeriksaan untuk mengingat 3 benda yg disebut
Mengelompokkan benda, hewan dan alat dengan susah payah
Pemeriksaan laboratonium, pemeriksaan EEC
Pencitraan otak amat penting CT atau MRI
Terapi
Pertama perlu diperhatikan keselamatan pasien, lingkungan dibuat senyaman mungkin, dan bantuan pengasuh perlu.
Koridor tempat jalan, tangga, meja kursi tempat barang keperkuannya
Tidak diperbolehkan memindahkan mobil dsb.
Diberi keperluan yang mudah dilihat, penerangan lampu terang, jam dinding besar, tanggalan yang angkanya besar
Obat:
Nootropika:
Pyritinol (Encephabol) 1 x 100 – 3 x 200 mg
Piracetam (Nootropil) 1 x 400 – 3 x 1200 mg
Sabeluzole (Reminyl)
Ca-antagonist:
Nimodipine(Nimotop 1- 3 x 30 mg)
Citicholine (Nicholin) 1 – 2 x 100 – 300 mg i.v./i.m.
Cinnanzine (Stugeron) 1 – 3 x 25 mg
Pentoxifylline (Trental) 2 – 3 x 400 mg (oral), 200 – 300 mg infuse
Pantoyl-GABA
Acetylcholinesterase inhibitors
Tacnne 10 mg dinaikkan lambatlaun hingga 80 mg. Hepatotoxik
Donepezil (Aricept) centrally active reversible cholinesterase inhibitor, 5 mg 1x /hari
Galantamine (Riminil) 1 – 3 x 5 mg
Rivastigmin (Exelon) 1,5, 3, 4, 5, 6 mg
Memantine 2 x 5 mg 10 mg
Behavioural and Psychological Symptoms of Dementia (BPSD)
BPSD perlu dibahas di sini karena merupakan satu akibat yang merepotkan bagi pengasuh dan membuat payah bagi sang pasien karena ulahnya yang amat mengganggu:
Behavioural
Gangguan perilaku
agitasi
hiperaktif
Keluyuran
Perilaku yang tak adekuat
Abulia kognitif
Agresi
verbal, teriak
fisik
Gangguan nafsu makan
Gangguan ritme diurnal
Tidur/bangun
Perilaku tak sopan (social)
Perilaku sexual tak sopan
Deviasi sexual
Piromania
Psychological
Gangguan afektif
Anxietas
lritabilitas
Gejala depresif.
Depresi berat
Labilitas emosional
Apati
Sindrom waham & salah-identifikasi
Orang menyembunyikan dan mencuri barangnya
paranoid, curiga
Rumah lama dianggap bukan rumahnya
Pasangan / pengasuh
Palsu
Tak setia
Menelantarkan pasien
Cemburu patologik
Keluarga/kenalan yang mati masih hidup
Halusinasi
Visual
Auditorik
Olfaktoriik
Raba (haptik)
Terapi farmakologik
Antipsikotika tipik: Haldol 0,25 – 0,5 atau 1 – 2 mg
Antipsikotika atipik:
Clozaril 1 x 12.5 – 25 mg
Risperidone 0,25 – 0,5 mg atau 0,75 – 1,75
Olanzapine 2,5 – 5,0 mg atau 5 – 10 mg
Quetiapine 100 – 200 mg atau 400 – 600 mg
Abilify 1 x 10 – 15 mg
Anxiolitika
Clobazam 1 x 10 mg
Lorazepam 0,5 – 1.0 mg atau 1,5 – 2 mg
Bromazepam 1,5 mg – 6 mg
Buspirone HCI 10 – 30 mg
Trazodone 25 – 10 mg atau 50 – 100 mg
Rivotril 2 mg (1 x 0,5mg – 2mg)
Antidepresiva
Amitriptyline 25 – 50 mg
Tofranil 25 – 30 mg
Asendin 1 x 25 – 3 x 100 mg (hati2, cukup keras)
SSRI spt Zoloft 1x 50 mg, Seroxat 1×20 mg, Luvox 1 x 50 -100 mg, Citalopram 1 x 10 – 20 mg, Cipralex, Efexor-XR 1 x 75 mg, Cymbalta 1 x 60 mg.
Mirtazapine (Remeron) 7,5 mg – 30 mg (hati2)
Mood stabilizers
Carbamazepine 100 – 200 mg atau 400 – 600 mg
Divalproex 125 – 250 mg atau 500 – 750 mg
Topamate 1 x 50 mg
Tnileptal 1 x 300 mg – 3 x mg
Neurontin 1 x 100 – 3 x 300 mg bisa naik hingga 1800 mg
Lamictal 1 x 50 mg 2 x 50 mg
Priadel 2 – 3 x 400 mg
Obat anti-demensia
Obat anti-demensia pada kasus demensia stadium lanjut sebenarnya sudah tak berguna lagi, namun bila diberikan dapat mengefektifkan obat terhadap BPSD:
Nootropika:
Pyritinol (Encephabol) 1 x100 – 3 x 200 mg
Piracetam(Nootropil) 1 x 400 – 3 x 1200 mg
Sabeluzole (Reminyl)
Ca-antagonist:
Nimodipine (Nimotop 1 – 3 x 30 mg)
Citicholine (Nicholin) 1 – 2 x 100 – 300 mg i.v / i.m.
Cinnarizine(Stugeron) 1 – 3 x 25 mg
Pentoxifylline (Trental) 2 – 3 x 400 mg (oral), 200 – 300 mg infuse
Pantoyl-GABA
Acetylcholinesterase inhibitors
Tacrine 10 mg dinaikkan lambat laun hingga 80 mg. Hepatotoxik
Donepezil (Aricept) centrally active reversible cholinesterase inhibitor, 5 mg 1x/hari
Galantamine (Riminil) 1 – 3 x 5 mg
Rivastigmin (Exelon) 1,5, 3, 4, 5, 6 mg
Memantine 2 x 5 – 10 mg
GANGGUAN MENTAL DAN PERILAKU AKIBAT PENGGUNAAN ZAT PSIKOAKTIF
dr. Dharmady Agus, SpKJ
(021) 54373510 HP. 0816713026
Tamat Spesialis llmu Kedokteran Jiwa di FKUI tahun 2001
Ka.SMF Ilmu Kedokteran Jiwa dan Periilaku RS Atma Jaya tahun 2005- sekarang
Koordinator Academic Venture FKUAJ tahun 2006 – sekarang
Koordinator Tim PBL PSSK FKUAJ tahun 2007 – sekarang
Dosen Pembimbing Kepaniteraan Klinik Psikiatni FK-UPH di Sanatorium Dharmawangsa tahun 2006 – sekarang
1. Pendahuluan
Dalam PPDGJ III (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III), Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat Psikoaktif dikelompokkan dalam F1. Kelompok ini berisi gangguan yang bervariasi luas dan berbeda keparahannya (dan intoksikasi tanpa atau dengan komplikasi, penggunaan yang merugikan, sindrom ketergantungan, keadaan putus zat, sampai gangguan psikotik yang jelas dan demensia), dan semua itu diakibatkan oleh karena penggunaan satu atau lebih zat psikoaktif (dengan atau tanpa resep dokter).
Zat psikoaktif yang digunakan dinyatakan oleh karakter ketiga (yaitu dua digit pertama setelah huruf F), sedangkan karakter keempat dan kelima khusus untuk keadaan klinis. Untuk praktisnya, semua zat psikoaktif disebutkan lebih dahulu, baru diikuti oleh karakter keempat dan kelima, namun dengan catatan tidak semua kode pada karakter keempat dan kelima dapat digunakan untuk semua jenis zat.
Adapun ikhtisar dari F1 ini adalah sebagai berikut:
|
F10,- |
Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan alkohol |
|
|
F11,- |
Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan oploida |
|
|
F12,- |
Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan kanabinoida |
|
|
F13,- |
Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan sedativa atau hipnotika |
|
|
F14,- |
Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan kokain |
|
|
F15,- |
Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan stimulansia lain termasuk kafein |
|
|
F16,- |
Gangguan mental dan perilaku akibatpenggunaan halusinogenika |
|
|
F17,- |
Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan tembakau |
|
|
F18,- |
Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan pelarut yang mudah menguap |
|
|
F19,- |
Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat multipel dan penggunaan zat psikoaktif lainnya |
|
|
Karakter keempat dan kelima dapat digunakan untuk menentukan kondisi klinis sebagai berikut: |
||
|
F1x.0 |
intoksikasi akut |
|
|
|
00 |
Tanpa komplikasi |
|
|
01 |
Dengan trauma atau cedera tubuh lainnya |
|
|
02 |
Dengan komplikasi medis lainnya |
|
|
03 |
Dengan delirium |
|
|
04 |
Dengan distorsi persepsi |
|
|
05 |
Dengan koma |
|
|
06 |
Dengan konvulsi |
|
|
07 |
Intoksikasi patologis |
|
F1x.1 |
Penggunaan yang merugikan (harmful) |
|
|
F1x.2 |
Sindrom Ketergantungan |
|
|
|
20 |
Kini abstinen |
|
|
21 |
Kini abstinen tetapi dalam lingkungan terlindung |
|
|
22 |
Kini dalam pengawasan kiinis atau dengan pengobatan pengganti (ketergantungan terkendali) |
|
|
23 |
Kini abstinen tetapi mendapat terapi aversi atau obat penyekat (“blocking drugs”) |
|
|
24 |
Kini sedang menggunakan zat (ketergantungan aktif) |
|
|
25 |
Penggunaan berkelanjutan |
|
|
26 |
Penggunaan episodik (dipsomania) |
|
F1x.3 |
Keadaan putus zat |
|
|
|
30 |
Tanpa komplikasi |
|
|
31 |
Dengan konvulsi |
|
F1x.4 |
Keadaan putus zat dengan delirium |
|
|
|
40 |
Tanpa konvulsi |
|
|
41 |
Dengan konvulsi |
|
F1x.5 |
Gangguan psikotik |
|
|
|
50 |
Lir-skizofrenia |
|
|
51 |
Predominan waham |
|
|
52 |
Predominan halusinasi |
|
|
53 |
Predominan polimorfik |
|
|
54 |
Predominan gejala depresif |
|
|
55 |
Predominan gejala manik |
|
|
56 |
Campuran |
|
F1x.6 |
Sindrom amnesik |
|
|
F1x.7 |
Gangguan psikotik residual dan onset lambat |
|
|
|
70 |
Kilas balik (flashback) |
|
|
71 |
Gangguan kepribadian atau perilaku |
|
|
72 |
Gangguan afektif residual |
|
|
73 |
Demensia |
|
|
74 |
Hendaya kognitif menetap lainnya |
|
|
75 |
Gangguan psikotik onset lambat |
|
F1x.8 |
Gangguan mental dan perilaku lainnya |
|
|
F1x.9 |
Gangguan mental dan perilaku YTT |
|
Pada kesempatan kali ini, pembahasan hanya akan dititik beratkan pada F11 dan F15 karena kedua zat psikoaktif ini yang paling banyak disalahgunakan. Pembahasan pun hanya terbatas pada klasifikasi dan cara kerja opioida dan amfetamin, gambaran klinis penting perihal intoksikasi, overdosis, dan putus zat, dan penatalaksanaannya secara umum.
2. Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Opioida
2.1. Sekilas tentang Opioida
Opioida adalah nama segolongan zat, baik alamiah, semisintetik, maupun sintetik yang mempunyai khasiat seperti morfin. Opioida dibagi dalam tiga golongan menurut asalnya:
Opioida alamiah, seperti opium, morfin, dan kodein.
Opioida semisintetik, yaitu opioida yang diperoleh dari opium yang diolah melalui proses / perubahan kimiawi. Sebagai contoh, heroin (diasetil-morfin) dan hidromonfon (dilaudid)
Opioida sintetik, yang dibuat di pabrik,misalnya meperidin (petidin), metadon, propoksifen, levorfanol, dan levalorfan.
Selain mempunyai khasiat analgesik (menghilangkan rasa sakit), opioida juga mempunyal khasiat hipnotik (menidurkan) dan eufona (menimbuikan rasa gembira dan sejahtera). Penggunaan opioida berulang kali dapat menimbulkan toleransi dan ketergantungan. Biia sudah terjadi ketergantungan terhadap oploida, lalu jumlah penggunaan dikurangi atau dihentikan, maka akan timbul gejala putus zat (withdrawal). Pada umumnya, opioida dikonsumsi melalui suntikan intravena, inhalasi, dicampur dalam rokok tembakau, atau secara oral.
2.2 Gambaran Klinis
Gambaran klinis pemakaian oploida antara lain:
Euforia awal diikuti oleh suatu periode sedasi, dikenal dengan istilah jalanan sebagai “nodding off’
Euforik yang tinggi (“rush”)
Rasa berat pada anggota gerak
Mulut kering
Wajah gatal (khususnya hidung)
Kemerahan pada wajah
Untuk orang awam yang pertama kali memakai opioida: dapat menyebabkan disforia, mual, dan muntah
Efek flsik: depresi pernafasan, konstriksi pupil, kontraksi otot polos (termasuk ureter dan saluran empedu), konstipasi, perubahan tekanan darah, kecepatan denyut jantung dan temperatur tubuh
2.3. lntoksikasi dan Overdosis Oploida
lntoksikasi opioida ditandai dengan:
Pamakaian opioida yang belum lama terjadi
Perubahan perilaku maladaptif yang bermakna secara klinis
Perubahan mood
Retardasi psikomotor
Mengantuk
Bicara cadel (slurred speech)
Gangguan daya ingat dan perhatian
Gejala overdosis opioida ditandai dengan:
Hilangnya responsivitas yang nyata
Koma
Pin point pupil
Depresi pernafasan
Hipotermia
Hipotensi
Bradikardia
2.4 Putus Oploida
Gejala putus opioida ditandai dengan:
Penghentian (atau penurunan) opioida yang telah lama atau berat
Mood disforik
Mual atau muntah
Nyeri otot
Lakrimasi atau rinorea
Dilatasi pupil, piloreksi, atau berkeringat
Diare
Menguap
Demam
Insomnia
2.5 Penatalaksanaan lntoksikasi, Overdosis, dan Putus Opioida
Penatalaksanaan intoksikasi opioida:
Beri nalokson HCI (Narcan) sebanyak 0,2-0,4 mg atau 0,01 mg/kg berat badan secara intravena, intermuskular, atau subkutan.
Bila belum berhasil, dapat diulang sesudah 3-10 menit sampai 2-3 kali.
Oleh karena narcan mempunyai jangka waktu kerja hanya 2-3 jam, sebaiknya pasien tetap dipantau selama sekurang-kurangnya 24 jam bila pasien menggunakan heroin dan 72 jam bila pasien menggunakan metadon.
Waspada terhadap kemungkinan timbulnya gejala putus opioida akibat pemberian narcan.
Penatalaksanaan overdosis opmoida:
Pastikan jalan nafas yang terbuka.
Jaga tanda vital.
Usahakan peredaran darah berjalan lancar: bila jantung berhenti berdenyut, lakukan masase jantung ekstemal dan berikan adrenalin intrakardial; bila terjadi fibrilasi, gunakan defifrilator; bila sirkulasi darah tidak memadai, beri infus 50 cc sodium bikarbonat (3,75 gr)guna mengatasi asidosis.
Awasi kemungkinan terjadinya kejang.
Bila tekanan darah tidak kunjung naik menjadi normal, pertimbangkan untuk memberi plasma expander atau vasopresor.
Beri antagonis opiat, nalokson: 0,4 mg intravena. Dosis tersebut dapat diulang empat sampai lima kali dalam 30 sampai 45 menit pertama sampai menunjukkan respons yang adekuat.
Observasi ketat dan awasi kemungkinan relaps ke keadaan semikoma dalam empat sampai lima jam.
Penatalaksanaan putus opioida dapat ditempuh melalui beberapa cara antara lain: Terapi putus opioida seketika (abrupt withdrawal), yaitu tanpa memberi obat apa pun. Pasien merasakan semua gejala putus opiolda. Terapi ini diberikan dengan harapan pasien akan jera dan tidak akan menggunakan opiolda lagi. Cara ini tidak disukai pasien, tidak efektif, dan hampir tidak pernah dilakukan lagi di fasilitas kesehatan.
Terapi putus opioida dengan terapi simtomatik: untuk menghilangkan rasa nyeri berikan analgetik yang kuat; untuk gelisah berikan tranquilizer, untuk mual dan muntah berikan antiemetik; untuk kolik berikan spasmolitik; untuk rinore berikan dekongestan; untuk insomnia berikan hipnotik; untuk memperbaiki kondisi badan dapat ditambahkan vitamin. ]
Terapi putus opioida bertahap (gradual withdrawal): dengan memberikan opioida yang secara hukum boleh digunakan untuk pengobatan,misalnya morfin, petidin, kodein, atau metadon.
Kebanyakan metadon digunakan secana oral. Biasanya diberikan dosis awal 10-40 mg, bergantung pada berat ringannya ketergantungan pasien terhadap opioida, diberikan dalam dosis terbagi (start low go slow). Pada hari kedua dan seterusnya, dosis dikurangi 10 mg setiap hari sampai jumlah dosis sehari 10 mg. Sesudah itu, diturunkan menjadi 5 mg sehari selama 1-3 hari
Buprenorfin juga dapat dipakai untuk detoksiflkasi dengan cara yang sama dengan metadon, dengan dosis awal 4-8 mg. Dapat pula dipakai kodein dengan dosis 3-4 kali sehari @ 60-100 mg. Dosis diturunkan 5-10 mg tiap hari menjadi 3-4 kali sehari @ 55mg dan seterusnya.
Terapi putus opioida bertahap dengan substitut non-opioida, misalnya klonidin. Dosis yang diberikan 0,01 – 0,3 mg tiga atau empat kali sehari atau 17 mikrogram per kg berat badan per hari dibagi dalam tiga atau empat kali pemberian.
Terapi dengan memberikan antagonis opioida di bawah anestesi umum (rapid detoxification). Gejala putus zat timbul dalam waktu pendek dan hebat, tetapi pasien tidak merasakan karena pasien dalam keadaan terbius. Keadaan ini hanya berlangsung sekitar enam jam dan perlu dirawat satu sampai dua hari.
2.6 Terapi Pasca-detoksifikasi
Setelah detoksifikasi selesai, terapis harus memberitahukan bahwa proses penyembuhan belum selesai, pasien baru menyelesaikan tahap awal dan proses penyembuhan. Terapis harus senantiasa menyadarkan pasien bahwa perilaku penggunaan zat psikoaktif oleh pasien adalah perilaku yang merugikan kesehatan pasien, merugikan kehidupan sosial, dan merugikan keluarganya.
Sama seperti penyakit kronis lainnya, setelah diobati pasien harus mengubah pola hidupnya. Untuk mengubah perilaku, pasien masih harus mengikuti program pasca-detoksifikasi. Program pasca-detoksifikasi banyak ragamnya, yang pada umumnya menggunakan pendekatan farmakologi, non-farmakologi, konseling, dan psikoterapi. Bila pasien telah memutuskan akan mengikuti terapi pascadetoksifikasi, terapis bersama pasien dan keluarganya membicarakan terapi pasca-detoksifikasi mana yang sesuai untuk pasien.
Keberhasilan terapi pasca-detoksifikasi sangat dipengaruhi oleh motivasi pasien. Pasien yang dapat menyelesaikan program terapi pasca-detoksiflkasi biasanya hasilnya lebih baik daripada mereka yang tidak menyelesaikan program tersebut. Kemungkinan kambuh lebih kecil, dan bila kambuh, terjadi setelah abstinensi yang lebih lama. Program terapi pasca-detoksiflkasi ada yang non panti dan panti.
2.7 After Care
After care adalah perawatan lanjutan bagi seseorang yang telah mengikuti program terapi yang terstruktur. Hal ini perlu dilakukan mengingat eks-pasien rentan terpapar pada lingkungan yang mendorong mereka untuk kembali menggunakannya. Seringkaii pula eks-pasien berharap terlalu cepat dan terlalu yakin diri bahwa ia mampu melepaskan dirinya dan kebiasaan menggunakan zat psikoaktif saat ini. Dalam after care ini, eks-pasien selalu dikuatkan kembali dan didukung terus-menerus agar tetap tidak menggunakan zat psikoaktif lagi.
3. Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Amfetamin
3.1. Sekilas tentang Amfetamin
Amfetamin adalah suatu senyawa sintetik yang tergolong perangsang susunan saraf pusat.
Ada 3 jenis amfetamin, yaitu:
Laevoamfetamin (benzedrin)
Dekstroamfetamin (deksedrin)
Metilamfetamin (metedrin)
Banyak macam derivat amfetamin dibuat dengan sengaja oleh laboratorium dengan tujuan penggunaan rekreasional, misalnya yang banyak disalahgunakan di Indonesia saat ini adalah 3,4 metilen-di-oksi met-amfetamin (MDMA) atau lebih dikenal sebagai ekstasi, dan met-amfetamin (sabu-sabu). Metilfenidat (Ritalin) jarang disalahgunakan. Dalam bidang Psikiatri, metilfenidat digunakan untuk terapi anak dengan GPPH (Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktif).
Pada umumnya, amfetamin dikonsumsi melalui suntikan intravena atau subkutan, inhalasi uap, snorting, supositoria, atau secara oral.
3.2 Gambaran Klinis
Pengaruh amfetamin terhadap pengguna bergantung pada jenis amfetamin, jumlah yang digunakan, dan cara menggunakannya. Dosis kecil semua jenis amfetamin akan meningkatkan tekanan darah, mempercepat denyut nadi, melebarkan bronkus, meningkatkan kewaspadaan, menimbulkan euforia, menghilangkan kantuk, mudah terpacu, menghilangkan rasa lelah dan rasa lapar, meningkatkan aktivitas motorik, banyak bicara, dan merasa kuat.
Dosis sedang amfetamin (20-50 mg) akan menstimulasi pernafasan, menimbulkan tromor ringan, gelisah, meningkatkan aktivitas montorik, insomnia, agitasi, mencegah lelah, menekan nafsu makan, menghilangkan kantuk, dan mengurangi tidur.
Penggunaan amfetamin berjangka waktu lama dengan dosis tinggi dapat menimbulkan perilaku stereotipikal, yaitu perbuatan yang diulang terus-menerus tanpa mempunyai tujuan, tiba-tiba agresif, melakukan tindakan kekerasan, waham curiga, dan anoneksia yang berat.
3.3 lntoksikasi dan Putus Amfetamin
lntoksikasi amfetamin ditandai dengan:
Pamakaian amfetamin yang belum lama terjadi
Takikandia atau bradikardia
Perubahan perilaku maladaptif yang bermakna secara klinis
Dilatasi pupil
Peninggian atau penurunan tekanan darah
Berkeringat atau menggigil
Mual atau muntah
Tanda-tanda penurunan berat badan
Agitasi atau retardasi psikomotor
Kelemahan otot, depresi pernafasan, nyeri dada, atau aritmia jantung
Konvulsi, kejang, diskinesia, distonia, atau koma
Gejala putus amfetamin ditandai dengan:
Penghentian (atau penurunan) amfetamin yang telah lama atau berat
Depresi
Keleiahan
Mimpi yang gamblang dan tidak menyenangkan
Insomnia atau hipersomnia
Peningkatan nafsu makan
Retardasi atau agitasi psikomotor
3.4 Penatalaksanaan lntoksikasi dan Putus Amfetamin
Penatalaksanaan intoksikasi amfetamin:
Bila suhu badan naik, berikan kompres dingin, minum air dingin, atau selimut hipotermik.
Bila kejang, berikan diazepam 10-30 mg per oral atau parenteral; atau klordiazepoksid 10-25 mg per oral secara perlahan-lahan dan dapat diulang setiap 15-20 menit.
Bila tekanan darah naik, berikan obat anti hipertensi.
Bila terjadi takikardma, berikan beta-blocker, seperti propanolol, yang sekaligus juga untuk menurunkan tekanan darah.
Untuk mempercepat ekskresi amfetamin, lakukan asidifikasi air seni dengan memberi amonium klorida 500 mg per oral setiap 3-4 jam.
Bilatimbul gejala psikosis atau agitasi, beri halopendol 3 kali 2-5 mg
Penatalaksanaan putus amfetamin:
a Rawat di tempat yang tenang dan biarkan pasien tidur dan makan sepuasnya.
Waspada terhadap kemungkinan timbulnya depresi dengan ide bunuh diri.
Dapat diberikan anti depresi.
3.5 Terapi pada PsikosisAkibat Penggunaan Amfetamin
Psikosis akibat penggunaan amfetamin sangat mirip dengan skizofrenia paranoid. Pada psikosis akibat penggunaan amfetamin dapat diberikan klorpromazin tiga kali 50-I 50 mg per oral atau 25-50 mg intra muskular yang dapat diulang setiap empat jam. Dapat juga dipakai halopenidol tiga kali 1-5 mg.
4. Penutup
Telah disampaikan Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Opioida dan Amfetamin. Kiranya hal ini dapat menambah wawasan, pengetahuan, dan ketrampilan dokter umum di dalam menangani pasien dengan gangguan yang berhubungan dengan zat psikoaktif, khususnya opioida dan amfetamin.
Dokter umum perlu mencamkan bahwa identifikasi dan zat psikoaktif yang digunakan dapat dilakukan berdasarkan data laporan individu, analisis obyektif dari spesimen urin, darah, dan sebagainya, atau bukti lain (adanya sampel obat yang ditemukan pada pasien, manifestasi tanda dan gejala klinis yang tampak, atau dari laporan pihak ketiga). Selalu disarankan untuk mencari bukti yang menguatkan lebih dan satu sumber, yang berkaitan dengan penggunaan zat.
Analisis obyektif yang mampu memberikan bukti yang paling handal adalah anatisis perihal adanya penggunaan zat akhir-akhir ini atau saat ini, meskipun data ini mempunyai keterbatasan terhadap penggunaan zat di masa lalu atau sejauh apa tingkat penggunaan zat saat itu.
Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah banyak pengguna zat psikoaktif yang menggunakan lebih dari satu jenis zat. Namun demikian, bila memungkinkan, diagnosis gangguan harus diklasifikasikan sesuai dengan zat tunggal yang paling penting yang digunakannya. Hal ini biasanya dilakukan dengan memperhatikan pemakaian zat psikoaktif tertentu dan dengan memperhatikan tanda dan gejala yang tampak.
Akhirya, cermati juga apakah telah ada komplikasi medis pada pengguna zat tersebut. Komplikasi medis ini harus ditangani secara komprehensif dan terintegrasi. [o]
SKIZOFRENIA DAN GANGGUAN PSIKOTIK LAINNYA
dr. Luana Nantingkaseh A, SpKJ
Perumahan JatiAgung I BlokB III/no.18, RTOO3/0I0, Jati Bening Baru, PondokGede
021-8482030, HP: 0813 81348522
Asisten Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSU FKUKI 1985- 1998
Kepata Unit Pelayanan Fungsional Psikiatri RSU FKUKI 2004 – sekarang
Staf Pengajar Psikiatri FKUKI 2004- sekarang
Anggota TIM POKJA HIV AIDS RSU FKUKI 2005 – sekarang
|
Pendahuluan. |
|
Skizofrenia merupakan gangguan mental yang kompleks dan banyak aspek tentang skizofrenia sampai saat ini belum dapat dipahami sepenuhnya. Sebagai suatu sindrom, pendekatan skizofrenia harus dilakukan secara holistik dengan melibatkan aspek psikososiai, psikodinamik, genetik, farmakologi, dan lain-lain. Mengingat kompleksnya gangguan skizofrenia, untuk mendapatkan hasil terapi yang optimal, klinikus perlu memperhatikan beberapa fase simptom gangguan skizofrenia, yaitu : fase prodromal, fase aktif dan fase residual. Hasil akhir yang ingin dicapai adalah penderita skizofrenia dapat kembali berfungsi dalam bidang pekerjaan, sosial dan keluarga. |
|
Skizofrenla |
|
Skizofrenia adalah suatu sindrom klinis dengan variasi psikopatologi, biasanya berat, berlangsung lama dan ditandai oleh penyimpangan dari pikiran, persepsi serta emosi |
|
Epidemioiogi |
|
Prevalensi skizofrenia di Amerika Serikat dilaporkan bervariasi terentang dari 1 sampai 1,5 persen dengan angka insidens 1 per 10.000 orang per tahun. Berdasarkan jenis kelamin prevalensi skizofrenia adalah sama, perbedaannya terlihat dalam onset dan perjalanan penyakit. Onset untuk laki laki 15 sampai 25 tahun sedangkan wanita 25-35 tahun. Prognosisnya adalah lebih buruk pada laki laki dibandingkan wanita. Beberapa penelitian menemukan bahwa 80% semua pasien skizofrenia menderita penyakit fisik dan 50% nya tidak terdiagnosis. Bunuh diri adalah penyebab umum kematian diantara penderita skizofrenia, 50% penderita skizofrenia pernah mencoba bunuh diri 1 kali seumur hidupnya dan 10% berhasil melakukannya. Faktor risiko bunuh diri adalah adanya gejala depresif, usia muda dan tingkat fungsi premorbid yang tinggi. Komorbiditas Skizofrenia dengan penyalahgunaan alkohol kira kina 30% sampai 50%, kanabis 15% sampal 25% dan kokain 5%-10%. Sebagian besar penelitian menghubungkan hal ini sebagai suatu indikator prognosis yang buruk karena penyalahgunaan zat menurunkan efektivitas dan kepatuhan pengobatan. Hal yang biasa kita temukan pada penderita skizofrenia adalah adiksi nikotin, dikatakan 3 kali populasi umum (75%-90% vs 25%-30%). Penderita skizofrenia yang merokok membutuhkan anti psikotik dosis tinggi karena rokok meningkatkan kecepatan metabolisme obat tetapi juga menurunkan parkinsonisme. Beberapa laporan mengatakan skizofrenia lebih banyak dijumpai pada orang orang yang tidak menikah tetapi penelitian tidak dapat membuktikan bahwa menikah memberikan proteksi terhadap Skizofrenia. |
|
Etiologi |
|
Model diatesis -stress Menurut teori ini skizofrenia timbul akibat faktor psikososial dan lingkungan. Model ini berpendapat bahwa seseorang yang memiliki kerentanan (diatesis) jika dikenai stresor akan lebih mudah menjadi skizofrenia.
|
|
Faktor Biologi |
|
Komplikasi kelahiran Hipotesis Dopamin Hipotesis Serotonin Struktur Otak |
|
|
|
Genetika |
|
Para ilmuwan sudah lama mengetahui bahwa skizofrenia diturunkan, 1% dari populasi umum tetapi 10% pada masyarakat yang mempunyai hubungan derajat pertama seperti orang tua, kakak laki laki ataupun perempuan dengan skizofrenia. Masyarakat yang mempunyai hubungan derajat ke dua seperti paman, bibi, kakek / nenek dan sepupu dikatakan lebih sering dibandingkan populasi umum. Kembar identik 40% sampai 65% berpeluang menderita skizofrenia sedangkan kembar dizigotik 12%. Anak dan kedua orang tua yang skizofrenia berpeluang 40%, satu orang tua 12%. |
|
Gambaran klinis |
|
Perjalanan penyakit Skizofrenia dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu fase prodromal, fase aktif dan fase residual. Pada fase prodromal biasanya timbul gejala gejala non spesifik yang lamanya bisa minggu, bulan ataupun lebih dari satu tahun sebelum onset psikotik menjadi jelas. Gejala tersebut meliputi : hendaya fungsi pekerjaan, fungsi sosial, fungsi penggunaan waktu luang dan fungsi perawatan diri. Perubahan perubahan ini akan mengganggu individu serta membuat resah keluarga dan teman, mereka akan mengatakan “orang ini tidak seperti yang dulu”. Semakin lama fase prodromal semakin buruk prognosisnya. Pada fase aktif gejala positif / psikotik menjadi jelas seperti tingkah laku katatonik, inkoherensi, waham, halusinasi disertai gangguan afek. Hampir semua individu datang berobat pada fase ini, bila tidak mendapat pengobatan gejala gejala tersebut dapat hilang spontan suatu saat mengalami eksaserbasi atau terus bertahan. Fase aktif akan diikuti oleh fase residual dimana gejala gejalanya sama dengan fase prodromal tetapi gejala positif / psikotiknya sudah berkurang. Disamping gejala gejala yang terjadi pada ketiga fase diatas, pendenta skizofrenia juga mengalami gangguan kognitif berupa gangguan berbicara spontan, mengurutkan peristiwa, kewaspadaan dan eksekutif (atensi, konsentrasi, hubungan sosial) |
|
Diagnosis: |
|
Pedoman Diagnostik PPDGJ-lll |
penginderaan khusus);
|
|
Prognosis |
|
Walaupun remisi penuh atau sembuh pada skizofrenia itu ada, kebanyakan orang mempunyai gejala sisa dengan keparahan yang bervariasi. Secara umum 25% individu sembuh sempurna, 40% mengalami kekambuhan dan 35% mengalami perburukan. Sampai saat ini belum ada metode yang dapat memprediksi siapa yang akan menjadi sembuh siapa yang tidak, tetapi ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya seperti : usia tua, faktor pencetus jelas, onset akut, riwayat sosial / pekerjaan pramorbid baik, gejala depresi, menikah, riwayat keluarga gangguan mood, sistem pendukung baik dan gejala positif ini akan memberikan prognosis yang baik sedangkan onset muda, tidak ada faktor pencetus, onset tidak jelas, riwayat sosial buruk, autistik, tidak menikah/janda/duda, riwayat keluarga skizofrenia, sistem pendukung buruk, gejala negatif, riwayat trauma prenatal, tidak remisi dalam 3 tahun, sering relaps dan riwayat agresif akan memberikan prognosis yang buruk. |
|
Terapi / Tatalaksana |
|
I. Psikofarmaka |
|
|
II. Terapi Psikososial |
|
Ada beberapa macam metode yang dapat dilakukan antara lain : |
|
|
Gangguan Psikosis lainnya |
|
Gangguan Waham |
|
|
Gangguan Psikotlk Akut dan Sementara |
|
Pedoman Diagnostik |
|
|
Gangguan Skizoafektif |
|
Pedoman Diagnostik : |
|
|
DAFTAR PUSTAKA |
|
GANGGUAN AFEKTIF
Dr. R. Surya Widya, SpKJ
Jl. Raya Kelapa Kopyor Blok CE.2, No.10, Jakarta Utara
Dosen Pembimbing Kepaniteraan Psikiatri FK UKI, FK Yarsi & FK Ukrida
Dosen Psikologi STAB Nalanda
Dosen Agama Buddha FK/FKG Usakti
Menulis buku 300 tanya jawab tentang kesehatan jiwa tahun 2006
EPISODE DEPRESI
|
Biasanya berlangsung paling sedikit 2 minggu lamanya, memperlihatkan paling sedikit empat dari gejala-gejala berikut ini, yaitu: |
|
|
ETIOLOGI |
|
Faktor psikososial : ada teori yang menjelaskan bahwa situasi stres akan menyebabkan perubahan pada beberapa jenis neurotransmitter dan pemindaian intraneuronal di otak, yang selanjutnya menyebabkan kehilangan fungsi neuron tertentu dan hambatan yang berlebihan pada hubungan dalam synaps. Menurut catatan yang ada di USA, peristiwa kehidupan yang paling banyak menyebabkan depresi adalah kehilangan orang tua sebelum berusia 11 tahun, kemudian kehilangan pasangan hidup, dan kehilangan pekerjaan. |
|
GAMBARAN KLINIK |
|
Episode depresi dapat terjadi pada gangguan depresi dan gangguan mania. Hanya dengan memperhatikan riwayat penyakit terdahulu dan riwayat keluarga, maka kita baru dapat membedakannya dengan jelas. Gejala pokok dan depresi adalah perasaan yang sedih dan kehilangan interes terhadap segala sesuatu. Pasien dapat mengungkapkan bahwa mereka merasa murung, tidak ada harapan, terbuang dan tidak berharga. Pasien sering mengaku bahwa perasaannya sakit sekali, dan kadang-kadang sampai tidak bisa menangis. Hampir 2/3 pasien depresi memikirkan untuk bunuh diri dan hanya 10-15 % yang melakukan percobaan bunuh diri. Mereka yang dibawah ke rumah sakit karena percobaan bunuh diri akan lebih berhasil bunuh diri daripada mereka yang belum pernah dirawat di rumah sakit. Beberapa pasien yang tidak menyadari bahwa mereka menderita depresi, namun terlihat bahwa mereka menjauh dari keluarga, temanteman dan aktivitas yang mereka sukai. Hampir semua pasien (97%) mengeluh bahwa mereka kekurangan energi, sukar menyelesaikan tugas mereka, prestasi belajar menurun, prestasi pekerjaan menurun, kurang motivasi untuk menerima tugas atau proyek baru. Sekitar 80% pasien depresi mengeluh tentang kesulitan tidur, terutama suka terbangun diri hari atau sering terbangun di malam hari, ketika mereka sedang merenungkan tentang masalah mereka. Banyak pasien depresi kehilangan nafsu makan dan kehilangan berat badan, tetapi ada juga yang mengalami penambahan nafsu makan dan kenaikan berat badan, juga tidur lebih lama dari biasanya. Cemas adalah gejala yang juga dialami oleh 90% pasien depresi. Perubahan dari pola makan dan pola istirahat dapat menyebabkan timbulnya penyakti lain seperti diabetes, hipertensi, gangguan sesak napas kronik dan gangguan jantung. Ada juga yang mengalami gangguan haid dan penurunan gairah seksual. Masalah seksual kadang-kadang pasien dirujuk secara keliru kepada penasehat perkawinan dan terapi seksual, oleh karena dokter yang merujuk gagal mengenali gangguan depresi yang menjadi landasan dari gangguan seksual tersebut. Dalam beberapa studi ditemukan bahwa terdapat 84% pasien depresi mengalami gangguan untuk berkonsentrasi dan 67% mengalami gangguan dalam berpikir. Fobia sekolah, kemelekatan pada orang tua boleh jadi merupakan gejala depresi pada anak. Prestasi akademis yang buruk, penyalahgunaan zat, tingkah laku antisosial, seks bebas, bolos sekolah dan kabur dari rumah mungkin merupakan gejala depresi pada remaja. Depresi lebih sering dialami oleh orang tua, terutama yang berhubungan dengan tingkat sosial ekonomi yang rendah, kehilangan pasangan hidup, penyakit fisik yang tidak ada harapan untuk sembuh dan isolasi sosial. Pada umumnya gangguan depresi pada orang tua tidak terdiagnosis dan tidak diterapi secara adekuat. |
|
STATUS MENTAL |
|
|
PERJALANAN PENYAKIT |
|
Penyakit gangguan depresi yang tidak diobati bisa benlangsung sampai 6-13 bulan lamanya; apabila diobati bisa berlangsung sampai 3 bulan. Setelah obat antidepresi dihentikan, tidak sampai 3 bulan biasanya bisa kumat lagi. |
|
PROGNOSIS |
|
Pada umumnya gangguan depresi cenderung menjadi gangguan yang menahun, kumat-kumatan. Rata-rata 25 % pasien kumat dalam waktu 6 bulan setelah keluar dan perawatan di rumah sakit jiwa. Yang tidak sembuh-sembuh biasanya berlanjut menjadi pasien dengan gangguan disthymic. |
|
TERAPI |
|
Ada 3 hal yang perlu diperhatikan |
|
|
Perawatan di rumah sakit : indikasi rawat adalah untuk penegakkan diagnosis, menghindarkan resiko bunuh diri atau bunuh orang dan untuk mengatasi perawatan diri yang terabaikan |
|
EPISODE MANIA
|
Biasanya paling sedikit belangsung selama satu minggu, afeknya meningkat, lebih gembira, mudah tersinggung atau membumbung tinggi. Ditambah dengan : |
|
|
Pasien mania yang tidak dirawat seringkali minum alkohol secara berlebihan, pasien sukar dicegah untuk menggunakan telepon secara berlebihan (interiokal di pagi hari). Mereka juga suka berjudi secara patologik, buka baju di tempat umum, mengenakan baju atau perhiasan yang warnanya sangat mencolok, juga suka mengabaikan hal-hal kecil seperti tidak meletakkan gagang telepon secara benar ditempatnya. Pasien suka terlibat secara berlebihan dengan masalah keagamaan, politik, keuangan, seksual dan ide pengejaran yang berkembang dalam sistem waham yang kompleks. Terkadang mereka juga bisa regresi seperti bermain dengan urine dan feces sendiri. |
|
GAMBARAN KLINIK |
|
Tampilan umum : Alam perasaan, emosi : Cara bicara: Gangguan persepsi: Gangguan pikiran: Gangguan sensorium dan fungsi kognitif: Gangguan pengendalian diri: Tilikan: Reliabilitas: |
|
DIAGNOSIS |
|
Biasanya telah berlangsung menahun, afek yang hiperthym, banyak bicara (logorhoe), gerak gerik motorik yang aktif, flight of ideas, kurang tidur, agresif dan boros. |
|
PERJALANAN PENYAKIT |
|
Biasanya berlangsung menahun, kumat-kumatan. Pasien biasanya kumat oleh karena hal-hal yang tidak berarti yang menyinggung hatinya. Sekitar 30 % mengalami kemerosotan fungsinya sebagai manusia. |
|
TERAPI |
|
|
Bahan bacaan: |
TATALAKSANA DIAGNOSIS DAN TERAPI GANGGUAN ANXIETAS
Dr. Evalina Asnawi Hutagalung, Sp.KJ
(021) 7328321, HP.: 08128378757
Sensasi anxietas / cemas sering dialami oleh hampir semua manusia. Perasaan tersebut ditandai oleh rasa ketakutan yang difius, tidak menyenangkan, seringkali disertai oleh gejala otonomik, seperti nyeri kepala, berkeringat, palpitasi, gelisah, dan sebagainya. Kumpulan gejala tertentu yang ditemui selama kecemasan cenderung bervaniasi, pada setiap orang tidak sama.
Dalam praktek sehari-hani anxietas sering dikenal dengan istilah perasaan cemas, perasaan bingung, was-was, bimbang dan sebagainya, dimana istilah tersebut lebih merujuk pada kondisi normal. Sedangkan gangguan anxietas merujuk pada kondisi patologik.
Anxietas sendiri mempunyai rentang yang luas dan normal sampai level yang moderat misalnya pertandingan sepak bola, ujian, wawancara untuk masuk kerja mempunyai tingkat anxietas yang berbeda.
Anxietas sendiri dapat sebagai gejala saja yang terdapat pada gangguan psikiatrik, dapat sebagai sindroma pada neurosis cemas dan dapat juga sebagai kondisi normal.
Anxietas normal sebenarnya sesuatu hal yang sehat, karena merupakan tanda bahaya tentang keadaan jiwa dan tubuh manusia supaya dapat mempertahankan diri dan anxietas juga dapat bersifat konstruktif, misalnya seorang pelajar yang akan menghadapi ujian, merasa cemas, maka ia akan belajar secara giat supaya kecemasannya dapat berkurang.
Anxietas dapat bersifat akut atau kronik. Pada anxietas akut serangan datang mendadak dan cepat menghilang. Anxietas kronik biasanya berlalu untuk jangka waktu lama walaupun tidak seintensif anxietas akut, pengalaman penderitaan dari gejala cemas ini oleh pasien biasanya dirasakan cukup gawat untuk mempenganuhi prestasi kerjanya.
Bila dilihat dan segi jumlah, maka orang yang menderita anxietas kronik jauh lebih banyak daripada anxietas akut.
DIFINISI ANXIETAS
“Anxietas adalah perasaan yang difius, yang sangat tidak menyenangkan, agak tidak menentu dan kabur tentang sesuatu yang akan terjadi. Perasaan ini disertai dengan suatu atau beberapa reaksi badaniah yang khas dan yang akan datang berulang bagi seseorang tertentu. Perasaan ini dapat berupa rasa kosong di perut, dada sesak, jantung berdebar, keringat berlebihan, sakit kepala atau rasa mau kencing atau buang air besan. Perasaan ini disertai dengan rasa ingin bergerak dan gelisah. “ ( Harold I. LIEF)
“Anenvous condition of unrest” ( Leland E. HINSIE dan Robert S CAMBELL)
“Anxietas adalah perasaan tidak senang yang khas yang disebabkan oleh dugaan akan bahaya atau frustrasi yang mengancam yang akan membahayakan rasa aman, keseimbangan, atau kehidupan seseorang individu atau kelompok biososialnya.” ( J.J GROEN)
|
GEJALA UMUM ANXIETAS |
|
Gejala psikologik: Gejala fisik: |
|
GANGGUAN ANXIETAS |
|
Beberapa teori tentang gangguan anxietas: |
|
|
Teori psikoanalitik: Teori perilaku: |
|
BENTUK GANGGUAN ANXIETAS |
|
|
GANGGUAN PANIK |
|
|
GAMBARAN KLINIS |
|
Serangan panik pertama seringkali spontan, tanpa tanda mau serangan panik, walaupun serangan panik kadang-kadang terjadi setelah luapan kegembiraan, kelelahan fisik, aktivitas seksual atau trauma emosional. Klinisi harus berusaha untuk mengetahui tiap kebiasaan atau situasi yang sering mendahului serangan panik. Serangan sering dimulai dengan periode gejala yang meningkat dengan cepat selama 10 menit. Gejala mental utama adalah ketakutan yang kuat, suatu perasaan ancaman kematian dan kiamat. Pasien biasanya tidak mampu menyebutkan sumber ketakutannya. Pasien mungkin merasa kebingungan dan mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian. Tanda fisik adalah takikardia, palpitasi, sesak nafas dan berkeringat. Pasien seringkali mencoba untuk mencari bantuan. Serangan biasanya berlangsung 20 sampai 30 menit. |
|
GEJALA PENYERTA |
|
Gejala depresi seringkali ditemukan pada serangan panik dan agorafobia, pada beberapa pasien suatu gangguan depresi ditemukan bersama-sama dengan gangguan panik. Penelitian telah menemukan bahwa resiko bunuh diri selama hidup pada orang dengan gangguan panik adalah lebih tinggi dibandingkan pada orang tanpa gangguan mental. |
|
DIAGNOSA BANDING |
|
Penyakit kardiovaskuler : anemia, hipertensi, infark iniokardium, dsb. |
|
PEDOMAN DIAGNOSTIK AGORAFOBIA |
|
|
PEDOMAN DIAGNOSTIK GANGGUAN PANIK |
|
|
TERAPI |
|
Konseling dan medikasi. Medikasi : banyak pasien tertolong melalui konseling dan tidak membutuhkan medikasi. Bila serangan sering dan berat, atau secara bermakna dalam keadaan depresi beri antidepresan (imipramin 25 mg malam hari, dosis bisa sampai 100 150 mg malam selama 2 minggu ). Bila serangan jarang dan terbatas beri anti anxietas, jangka pendek (lorazepam 0,5 1 mg 3 dd 1 atau alprazolam 0,25 1 mg 3 dd 1) hindari pemberian jangka panjang dan pemberian medikasi yang tidak perlu. |
|
GANGGUAN FOBIK |
|
Penelitian epidemiologis di Amerika Serikat menemukan 5 10 persen populasi menderita gangguan ini. FOBIA adalah suatu ketakutan yang tidak rasional yang menyebabkan penghindaran yang disadari terhadap obyek, aktivitas, atau situasi yang ditakuti. |
|
PEDOMAN DIAGNOSTIK |
|
|
TERAPI |
|
Konseling dan medikasi: dorong pasien untuk dapat mengatur pernafasan, membuat daftar situasi yang ditakuti atau dihindari, diskusikan cara-cara menghadapi rasa takut tersebut. Dengan konseling banyak pasien tidak membutuhkan medikasi. Bila ada depresi bisa diberi antidepresan lmipramin 50 150 mg/ hari. Bila ada anxietas beri antianxietas dalam waktu singkat, karena bisa menimbulkan ketergantungan. Beta blokerdapat mengurangi gejala fisik. Konsultasi spesialistik bila rasa takut menetap |
|
GANGGUAN OBSESIF-KOMPULSIF |
|
Prevalensi seumur hidup gangguan obsesif-kompulsif pada populasi umum diperkirakan adalah 2-3 persen. |
|
PEDOMAN DIAGNOSIS |
|
= Pikiran, impuls, yang berulang |
|
DIAGNISIS BANDING |
|
Kondisi fisik |
|
TERAPI |
|
Konseling dan medikasi : mengenali, menghadapi, menantang pikiran yang berulang dapat mengurangi gejala obsesd, yang pada akhirnya mengurangi perilaku kompulsif. Latihan pernafasan. Bicarakan apa yang akan dilakukan pasien untuk mengatasi situasi, kenali dari perkuat hal yang berhasil mengatasi situasi. Bila diperlukan bisa diberi Klomipramin 100 – 150 mg, atau golongan Selected Serotonin Reuptake Inhibitors. |
|
GANGGUAN STRES PASCA-TRAUMA |
|
Pasien dapat diklasifikasikan mendenta gangguan stres pasca-trauma, bila mereka mengalami suatu stres yang akan bersifat traumatik bagi hampir semua orang. Trauma bisa berupa trauma peperangan, bencana alam, penyerangan, pemerkosaan, kecelakaan. Gangguan stres-pasca trauma terdiri dari: – pengalaman kembali trauma melalui mimpi dan pikiran, penghindaran yang persisten oleh penderita terhadap trauma dan penumpulan responsivitas pada penderita tersebut, kesadaran berlebihan dan persisten. Gejala penyerta yang sering dan gangguan stres pasca-trauma adalah depresi, kecemasan dan kesulitan kognitif(contoh pemusatan perhatian yang buruk) Prevalensi seumur hidup gangguan stres pasaca-trauma diperkirakan I sampai 3 persen populasi umum, 5 sampai 15 persen mengalami bentuk gangguan yang subklinis. Walaupun gangguan stres pasca-trauma dapat terjadi pada setiap usia, namun gangguan paling menonjol pada usia dewasa muda. |
|
PEDOMAN DIAGNOSTIK STRES PASCATRAUMA |
|
|
REAKSI STRES AKUT |
|
Suatu gangguan sementara yang cukup parah yang terjadi pada seseorang tanpa adanya gangguan jiwa lain yang nyata, sebagai respons terhadap stres fisik maupun mental yang luar biasa dan biasanya menghilang dalam beberapa jam atau hari. Stresornya dapat berupa pengalaman traumatik yang luar biasa . Kerentanan individu dan kemampuan menyesuaikan diri memegang peranan dalam terjadinya dan keparahannya suatu reaksi stres akut. |
|
PEDOMAN DIAGNOSTIK |
|
Harus ada kaitan waktu yang langsung dan jelas antara terjadinya pengalaman stresor luar biasa dengan onset dan gejala. Onset biasanya setelah beberapa menit atau bahkan segera setelah kejadian. Selain itu ditemukan (a) terdapat gambaran gejala campuran yang biasanya berubah-ubah; selain gejala permulaan berupa keadaan “ terpaku” , semua gejala berikut mungkin tampak: depresif, anxietas, kemarahan, kekecewaan, overaktif dan penarikan diri, akan tetapi tidak satupun dan jenis gejala tersebut yang mendominasi gambaran klinisnya untuk waktu lama. (b) pada kasus-kasus yang dapat dialihkan dan stresomya, gejala-gejalanya dapat menghilang dengan cepat (dalam beberapa jam); dalam hal dimana stres tidak dapat dialihkan, gejala-gejala biasanya baru mulai mereda setelah 24 – 48 jam dan biasanya menghilang setelah 3 hari. |
|
GANGGUAN ANXIETAS MENYELURUH |
|
Gambaran esensial dan gangguan ini adalah adanya anxietas yang menyeluruh dan menetap (bertahan lama), Gejala yang dominant sangat bervariasi, tetapi keluhan tegang yang berkepanjangan, gemetaran, ketegangan otot, berkeringat, kepala terasa ringan, palpitasi, pusing kepala dan keluhan epigastnik adalah keluhankeluhan yang lazim dijumpai. Ketakutan bahwa dirinya atau anggota keluarganya akan menderita sakit atau akan mengalami kecelakaan dalam waktu dekat, merupakan keluhan yang seringkali diungkapkan |
|
PEDOMAN DIAGNOSTIK |
|
Pasien harus menunjukan gejala primer anxietas yang berlangsung hampir setiap hari selama beberapa minggu, bahkan biasanya sampai beberapa bulan. Gejala-gejala ini biasanya mencakup hal-hal berikut : kecemasan tentang masa depan, ketegangan motorik, overaktivitas otonomik |
|
TERAPI |
|
Konseling dan medikasi: informasikan bahwa stres dan rasa khawatir keduanya mempunyai efek fisik dan mental. Mempelajari keterampilan untuk mengurangi dampak stres merupakan pertolongan yang paling efektif. Mengenali, menghadapi dan menantang kekhawatiran yang berlebihan dapat mengurangi gejala anxietas. Kenali kekhawatiran yang berlebihan atau pikiran yang pesimistik. Latihan fisik yang teratur sering menolong. Medikasi merupakan terapi sekunder, tapi dapat digunakan jika dengan konseling gejala menetap. Medikasi anxietas : misal Diazepam 5 mg malam hari, tidak lebih dari 2 minggu, Beta bloker dapat membantu mengobati gejala fisik, antidepresan bila ada depresi. Konsultasi spesialistik bila anxietas berat dan berlangsung lebih dan 3 bulan. |
|
GANGGUAN CAMPURAN ANXIETAS DAN DEPRESI |
|
Kategori campuran ini harus digunakan bilamana terdapat gejala anxietas maupun depresi, di mana masing-masing tidak menunjukkan rangkaian gejala yang cukup berat untuk menegakkan diaognosis tersendiri. |
GANGGUAN SOMATOFORM
dr. Engelberta Pardamean, SpK
JI. Kikir 57/75, Kayu Putih, Jakarta Timur
1975-1976 : Dokter Umum di RS Metro, Lampung Tengah, 1976-1980 Puskesmas Mardi Waluyo, Metro Lampung Tengah
1980-1984 : Palang Merah Indonesia Pusat
1984-1986: Direktorat RS Khusus dan Swasta Direktorat Jendral Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI , Jakarta.
1986 -1989: Direktorat Kesehatan Jiwa, DirJen Pelayanan Medik, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
1992-2000 : Psikiater di Direktorat Kesehatan Jiwa DirJen Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI , Jakarta.
1991 – sekarang Psikiater RS Omni Medical Center
2001 – sekarang Dosen tidak tetap Fakultas Kedokteran FK UKRIDA Jakarta.
|
Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik (sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis yang adekuat. Gejala dan keluhan somatik adalah cukup serius untuk menyebabkan penderitaan emosional yang bermakna pada pasien atau gangguan pada kemampuan pasien untuk berfungsi di dalam peranan sosial atau pekerjaan. Suatu diagnosis gangguan somatoform mencerminkan penilaian klinisi bahwa faktor psikologis adalah suatu penyumbang besar untuk onset, keparahan, dan durasi gejala. Gangguan somatoform adalah tidak disebabkan oleh pura-pura yang disadari atau gangguan buatan. Ada lima gangguan somatoform yang spesifik adalah: |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Kriteria diagnostik untuk Gangguan Somatisasi |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Kriteria diagnostik untuk Gangguan Konversi |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Kriteria Diagnostik untuk Hipokondriasis |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Sebutkan jika: |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Dengan tilikan buruk: jika untuk sebagian besar waktu selama episode berakhir, orang tidak menyadari bahwa kekhawatirannya tentang menderita penyakit serius adalah berlebihan atau tidak beralasan. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Dismorfik Tubuh |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Nyeri |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Tuliskan seperti berikut: |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Gangguan nyeri berhubungan dengan faktor psikologis: faktor psikologis dianggap memiliki peranan besar dalam onset, keparahan, eksaserbasi, dan bertahannya nyeri. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Gangguan nyeri berhubungan baik dengan faktor psikologls maupun kondisi medis umum |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Somatoform yang Tidak Digolongkan |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
GANGGUAN PSIKOSOMATIK |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Penggunaan kata “psikosomatik “baru digunakan pada awal tahun 1980-an. Istilah tersebut dapat ditemukan pada abad ke-19 pada penulisan oleh seorang psikiater Jerman Johann Christian Heinroth dan psikiater lnggns John Charles Bucknill. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Nosologi DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) Psikosomatis |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Untuk membuat kategori secara klinis, DSM-IV mengandung format subkategorisasi yang membuat dokter dapat menspesifikasikan jenis faktor psikologis atau tingkah laku yang mempengaruhi kondisi medis pasien. Faktor-faktor tersebut dirancang sedemikian mencakup jangkauan yang luas dari fenomena psikologis dan tingkah laku yang tampaknya mempenganuhi kesehatan fisik. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Kriteria Diagnostik Faktor Psikologis yang Mempengaruhi Kondisi Medis |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Pilihlah nama bendasarkan sifat faktor psikologis (bila terdapat lebih dan satu faktor, nyatakan yang paling menonjol) |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
I. Gangguan Gastrointestinal |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
II. Gangguan Kardlovaskular |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
III. Gangguan Pemapasan |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
IV. Gangguan Endokrin |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
i. Sindroma pramenstruasi (Premenstrual Syndrome! PMS)
ii. Penderltaan Menopause (Menopause Distress)
iii. Amenore Idiopatik
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
V. GANGGUAN KULIT |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
VI. GANGGUAN MUSKULOSKELETAL |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
VII .PSIKO-ONKOLOGI |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Karena kemajuan pengobatan telah mengubah bahwa kanker dari tidak dapat disembuhkan menjadi penyakit yang seringkali kronis dan sering dapat diobati, aspek psikiatrik dan kanker (reaksi terhadap diagnosis dan terapi) semakin penting. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Masalah Paslen |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Jika pasien mengetahui bahwa mereka menderita kanken, reaksi psikologis mereka adalah rasa takut akan kematian, cacat, ketidakmampuan, rasa takut ditelantarkan dan kehilangan kemandirian, rasa takut diputuskan dan hubungan, fungsi peran, dan finansial; dan penyangkalan, kecemasan, kemarahan, dan rasa bersalah. Kira-kira separuh pasien kanken menderita gangguan mental. Di antaranya gangguan penyesuaian (68%). Dengan gangguan depresif berat (13%) dan delirium (8%) merupakan diagnosis selanjutnya yang tersering. Walaupun pikiran dan keinginan bunuh diri sering ditemukan pada pasien kanker, insidensi bunuh din sebenarnya hanya 1.4 sampai 1.9 kali dari yang ditemukan pada populasi umum |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Faktor Kerentanan Bunuh Diri pada Paslen Kanker |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
CONSULTATION – LIAISON PSYCHIATRY (PSIKIATRI KONSULTASIPENGHUBUNG) |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Dalam psikiatri konsultasi-penghubung (consultation-liaison I C-L psychiatiy), yaitu suatu bidang keahlian yang berkembang dengan cepat dan semakin diperhatikan. Dokter psikiatrik berperan sebagai konsultan bagi sejawat kedokteran atau profesional kesehatan mental lainnya. Pada umumnya, psikiatnl C-L adalah berhubungan dengan semua diagnosis, terapetik, riset, dan pelayanan pendidikan yang dilakukan dokter psikiatrik di rumah sakit umum dan berperan sebagaijembatan antara psikiatrik dan spesialisasi lainnnya. Dokter psikiatrik C-L harus mengerti banyak penyakit medis yang dapattampak dengan gejala psikiatrik. Alat yang dimiliki oleh dokter psikiatrik C-L adalah wawancara dan observasi klinis serial. Tujuan diagnosis adalah untuk mengidentifikasi gangguan mental dan respon psikologis tenhadap penyakit fisik, mengidentifikasi diri kepribadian pasien, dan mengidentifikasi teknik mengatasi masalah yang karakteristik dari pasien.. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Masalah konsultasl-penghubuñg yang serlng: |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
TERAPI GANGGUAN PSIKOSOMATIS |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Konsep penggabungan psikoterapetik dan pengobatan medis, yaitu pendekatan yang menekankan hubungan pikiran dan tubuh dalam penbentukan gejala dan gangguan, memerlukan tanggung jawab bersama di antara berbagai profesi. Permusuhan, depresi, dan kecemasan dalam berbagai proporsi adalah akar dan sebagian besar gangguan psikomatik. Kedokteran psikosomatik terutama mempermasalahkan penyakit-penyakit tersebut yang menampakkan manifestasi somatik. Terapi kombinasi merupakan pendekatan di mana dokter psikiatrik menangani aspek psikiatrik, sedangkan dokter ahli penyakit dalam atau dokter spesialis lain menangani aspek somatik. Tujuan terapi medis adalah membangun keadaan fisik pasien sehingga pasien dapat berperan dengan berhasil, serta psikoterapi untuk kesembuhan totalnya. Tujuan akhirnya adalah kesembuhan, yang berarti resolusi gangguan struktural dan reorganisasi kepribadian. Psikoterapi kelompok dan terapi keluarga. Terapi keluarga menawarkan harapan suatu perubahan dalam hubungan keluarga dan anak, mengingat kepentingan psikopatologis dari hubungan ibu-anak dalam perkembangan gangguan psikosomatik. keluarga dan anak, mengingat kepentingan psikopatologis dari hubungan ibu-anak dalam perkembangan gangguan psikosomatik. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
KESIMPULAN |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
DAFTAR PUSTAKA |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
GEJALA, LATAR BELAKANG PERMASALAHAN DAN KEBUTUHAN ANAK
DENGAN GANGGUAN PEMUSATAN PERHATIAN DAN HIPERAKTVITAS
(GPPH) DAN GANGGUAN SPEKTRUM AUTISTIK
Dr. Tjhin Wiguna, SpKJ(K)
Psikiater Anak dan Remaja
|
Pendahuluan |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
GPPH dan gangguan spektrum autistik merupakan dua buah kasus yang cukup sering ditemukan dalam praktik sehari-hari. Walaupun berbeda dalam gejala dan perjalanan penyakitnya, namun ke dua gangguan ini termasuk dalam gangguan perkembangan. Sejak bayi dilahirkan, ia sudah berhadapan dengan proses belajar yang sangat tergantung pada tingkat perkembangan yang telah dicapainya, yang akan menentukan kemampuan yang ada dalam dirinya. Hal ini akan berjalan terus sampai anak masuk sekolah dan mengikuti proses pembelajaran formal yang ada. Saat inilah, anak akan dirangsang untuk mengembangkan rasa cinta akan belajar, kebiasaankebiasaan belajar yang baik dan rasa percaya diri sebagai pelajar yang sukses. Namun tidak semua hal di atas selalu berjalan dengan lancar dan mulus, apalagi pada anak dengan GPPH dan gangguan spektrum autistik yang mengalami berbagai permasalahan dalam mengontrol perilaku dan emosinya. |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
1. Tinjauan singkat dan Gangguan Pemusatan Perhatian dan/Hiperaktivitas (GPPH) |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Anak dengan Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) adalah anak yang menunjukkan perilaku hiperaktif, impulsif serta sulit memusatkan perhatian dengan tingkat yang lebih beratjika dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya. Di samping itu, kondisi di atas juga disertai dengan beberapa gejala lain seperti adanya ambang toleransi frustrasi yang rendah, disorganisasi, dan perilaku agresif. Kondisi ini tentunya menimbulkan penderitaan dan hambatan bagi anak dalam menjalankan fungsinya sehari-hari, seperti berinteraksi dengan teman sebaya, keluarga dan yang terpenting adalah mengganggu kesiapan anak untuk belajar. Semua kondisi ini tentunya akan mengganggu prestasi belajar anak dan secara keseluruhan akan membuat penurunan kualitas hidup anak dengan GPPH di kemudian hari. Dalam berbagai penelitian epidemiologi yang telah dilakukan, didapatkan angka rata-rata prevalensi berkisar antara 3-11%. Angka prevalensi untuk GPPH di Jakarta Pusat adalah 4.2 %. Berdasarkan penelitian Saputro D (2004) dengan menggunakan instrumen Diagnostic and Statistical Manual for Mental Disorder IV (DSM-IV) didapati angka sebesar 2.2 % untuk tipe hiperaktif & impulsif, 5.3% untuk tipe campuran hiperaktif-impulsif dan inatensi, serta 15.3 % untuk GPPH tipe inatensi. Walaupun demikian jumlah kasus yang datang untuk mencari pengobatan umumnya masih sangat rendah oleh karena pengetahuan dan kepedulian orang tua, guru dan masyarakat sekitar masih sangat rendah |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
1.1. Kriteria Diagnostik |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Untuk membuat diganosis maka dibutuhkan data perilaku dan respons emosi anak baik di rumah maupun di sekolah. Untuk keperluan ini maka dilakukan wawancara psikiatrik dengan berbagai sumber seperti orang tua, guru dan pengasuh serta kelompok teman sebayanya atau saudara kandung. Disamping itu juga dilakukan observasi serta wawancara psikiatrik langsung pada anak, sehingga didapatkan data yang akurat untuk membuat diagnosis. Sampai saat ini diagnosis dibuat berdasarkan kriteria dan DSMIV. |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Berdasarkan DSM IV maka kriteria diagnostik GPPH adalah sebagai berikut; |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
1.2. Permasalahan |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
1.3. Tatalaksana |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
National Intistute of Mental Heaflh, dan juga organisasi professional lainnya di dunia seperti AACAP (American Academy of Child and Adolescent Psychiatry) sepakat bahwa penatalaksanaan anak dengan GPPH membutuhkan pendekatan yang multimodal, yang mencakup pemberian obat-obatan, terapi perilaku, serta pemberian edukasi pada orang tua dan guru. Berdasarkan pengalaman, hal di atas tampaknya sesuai dengan kenyataan yang ditemui dalam praktik sehari-hari. Walaupun sudah tersedia beberapa obat pilihan untuk anak dengan GPPH yang cukup baik seperti metilfenidat dengan mekanisme kerja jangka panjang maupun OROS (Osmotic Release Oral System) yang mempunyai efektivitas sekitar 12 jam. Namun orang tua, guru maupun anak dengan GPPH ternyata juga memerlukan beberapa pendekatan penatalaksanaan lainnya. |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
2. Tinjauan Singkat dan Gangguan Spektrum Autistik |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Merupakan salah satu jenis gangguan perkembangan pada anak yang kompleks dan berat (termasuk dalam gangguan perkembangan pervasif). Biasanya gejala sudah tampak sebelum anak berusia 3 tahun. Gejala utama meliputi beberapa gangguan perkembangan dalam bidang; komunikasi, interaksi resiprokal dan adanya perilaku yang terbatas atau perilaku stereotipik lainnya. |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Angka kejadian; |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
2.1. Kriteria Diagnostik |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
2.2. Permasalahan |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Anak dengan gangguan spektrum autistik mempunyai gambaran yang unik mengenai diri dan lingkunganya. Hal ini merupakan satu permasalahan yang serius dan memerlukan penanganan yang serius oleh karena akan memberikan dampak negatif terhadap perkembangan anak selanjutnya. Beberapa kecenderungan yang dapat diamati seperti; |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
2.3. Tatalaksana |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Bersifat komprehensif dan harus dilakukan sediri mungkin segera setelah diagnosis ditegakkan. Keberhasilan tatalaksana tergantung dari; |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Berbagai jenis terapi yang umumnya dijalankan secara terpadu ialah; |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Tujuan pemberian terapi adalah; |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Rujukan |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
KEDARURATAN PSIKIATRI DAN TATALAKSANA
Dr. Oely Mardi Santoso, SpKJ
JI. Kikir 57/75, Kayuputih, Jakarta Timur
1980 – 1984 : Palang Merah Indonesia Pusat
1984 – 1986 : Direktorat RS Khusus dan Swasta Direktorat Jendral Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI , Jakarta.
1986 – 1989 : Direktorat Kesehatan Jiwa, DirJen Pelayanan Medik, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
1992 – 2000 : Psikiater di Direktorat Kesehatan Jiwa DirJen Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI , Jakarta.
1991 – sekarang : Psikiater RS Omni Medical Center
2001 – sekarang : Dosen tidak tetap Fakultas Kedokteran FK UKRIDA Jakarta.
|
KEDARURATAN PSIKIATRI |
|
Adalah tiap gangguan pada pikiran, perasaan dan tindakan seseorang yang memerlukan intervensi terapeutik segera. Diantara berbagai macam gangguan tersebut yang paling sering adalah SUICIDE (BUNUH DIRI) dan VIOLENCE AND ASSAULTIVE BEHAWOR (PERILAKU KEKERASAN DAN MENYERANG). |
|
BUNUH DIRI |
|
Di Amerika tiap tahun kasus bunuh diri yang berhasil mencapai 30.000 orang per tahun. Angka ini menunujukkan jumlah orang yang mencoba bunuh diri jauh lebih besar lagi, diperkirakan 8 sampai 10 kali lebih besar dan jumlah tersebut. Di Indonesia belum ada data mengenai hal ini. Dan data yang ada, 95% kasus bunuh diri berkaitan dengan masalah kesehatan jiwa diantaranya 80% mengalami Depresi, 10% Skizofrenia dan 5% Dementia/Delirium. Sedangkan sekitar 25% lainnya mempunyai diagnosa ganda yang berkaitan dengan Ketergantungan Alkohol. Menurut Adam.K mereka yang mempunyai resikotinggi untuk terjadinya bunuh diri adalah pria, usia diatas 45 tahun, tidak bekerja, bercerai atau ditinggal mati pasangan hidupnya, mempunyai nwayat keluarga yang bermasalah, mempunyai penyakit fisik kronis, mempunyai gangguan kesehatn jiwa, tidak mempunyai hubungan keluarga yang baik, miskin dalam hubungan sosial atau cenderung mengisolasi diri |
|
Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menduga adanya resiko bunuh diri: |
|
|
Didalam menangani pasien yang mempunyai kecenderungan bunuh diri, pencegahan merupakan hal utama yang perlu diperhatikan. Jika percobaan bunuh diri telah dilakukan dan tidak berhasil , sebagai klinisi kita harus melakukan pemeriksaan yang menyeluruh dan lengkap baik secara fisik dan mental. Pada saat itu juga harus diputuskan apakah pasien perlu dirawatatau tidak. |
|
Hospitalisasi tergantung: |
|
|
Yang bisa dilakukan DOKTER KELUARGA /UMUM jika menjumpai pasien dengan percobaan bunuh diri sebaiknya lakukan pertolongan pertama jika diperlukan, rujuk pasien ke rumah sakit terdekat sambil membenkan penjelasan ke keluarganya bahwa kondisi pasien perlu evaluasi dan pertolongan lebih jauh baik fisik maupun mentalnya (tergantung kondisi pasien). |
|
PERILAKU KEKERASAN DAN MENYERANG |
|
Pada keadaan seperti ini yang paling utama kita harus bisa menentukan apakah karena gangguan fisik ataukah karena masalah mental. Untuk masalah mentalnya bisa disebabkan oleh: |
|
|
Gambaran diatas tidak selalu mudah untuk bisa langsung diidentifikasi karena bisa terjadi overlaping gejala satu dengan yang lainnya. |
|
Tanda-tanda adanya penilaku kekerasan yang mengancam: |
|
|
Untuk menduga kemungkinan terjadinya perilaku kekerasan pada seorang pasien tidak mudah. Namun ada beberapa hal yang bisa menjadi petunjuk untuk diperhatikan, misalnya: |
|
|
Yang bisa dilakukan DOKTER KELUARGA UMUM dalam menghadapai kasus perilaku kekerasan dan menyerang seperti ini adalah rujuk ke Rumah Sakit Jiwa terdekat jika sudah bisa dipastikan bukan disebabkan masalah fisik. Seandainya masih meragukan antara masalah fisik dan mental rujuk ke Rumah Sakit Umum terdekat yang lengkap fasilitasnya. Jika kondisi pasien tidak terlalu berat, masih bisa dilakukan pemeriksaan dengan cukup terang dan cukup kooperatif serta kondisi gangguan flsik bisa disingkirkan , bisa diberikan: |
|
|
Hal lain yang sangat penting diingat adalah merupakan kontra indikasi memberikan obat antipsikotik pada pasien dengan trauma kepala walaupun menunjukkan gejala gaduh gelisah. Pada keadaan seperti ini secepatnya dinujuk ke Rumah Sakit Umum terdekat yang lengkap fasilitasnya. Dengan saran secepatnya konsul ke Ahlinya (Psikiater). |
PELAYANAN KESEHATAN JIWA INTEGRATIF
Dr. Dan Hidayat SpKJ(K)
1969 : Dokter Umum FKUl
1970 – 1999 : Karyawan RS Jiwa Jakarta
1976 : Psikiater FKUl
1980 – 1995 : Psikiater Pembina Dokter Puskesmas DKI Jakarta
1981 – 1993 : Kepala Bidang Pelayanan Medis RS Jiwa Jakarta
1993 – 1994 : Kepala Bidang Perawatan RS Jiwa Pusat Jakarta
1994 – 1999 : Wakil Direktur Administrasi dan Keuangan RSJPJ
1996 – 1999 : Anggota Tim Asistensi Pembangunan RS Jiwa Duren Sawit Dinas Kesehatan DKI Jakarta
I Agustus 1999 : Pensiun PNS dg Pangkat Pembina Utama Muda, Gol lV/C
1999- 1 April 2002 : Kepala Diklat RSJ Pusat Jakarta
|
Pendahuluan |
|
Prinsip pelayanan kesehatan jiwa dapat dibagi dalam tiga jenis pelayanan: |
|
|
Pada kali ini akan dibahas khusus pelayanan kesehatan jiwa integratif, yaitu pelayanan kesehatan jiwa yang dilakukan oleh dokter umum dalam praktik sehariharinya. Menurut The World Health Report 2001 dikatakan bahwa prevalensi gangguan mental dan perilaku adalah: |
|
|
Sedangkan hasil survei kesehatan rumah tangga (SKRT) pada tahun 1995 oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Departemen Kesehatan RI dengan menggunakan rancangan sampel dan Sensus Nasional (Susenas) Biro Pusat Statistik (BPS) terhadap 65.664 rumah tangga, didapatkan prevalensi gangguan jiwa per 1000 anggota keluarga yaitu pada usia 5-14 tahun 104 orang, pada usia diatas 15 th 140 /1000. Sedangkan prevalensi diatas 100 /1000 anggota rumah tangga dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian (priority public health problem). Dengan demikian gangguan jiwa sudah merupakan masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian. Hasil penelitian th 2002 di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (daerah konflik) di 20 Penelitian terakhir di Jawa Barat th 2002 (point prevalence – unpublished) ditemukan 36 % pasien yang berobat ke Puskesmas mengalami gangguan kesehatan jiwa. |
|
Penyakit atau Gangguan |
|
Penyakit atau gangguan secara dikotomis dapat dibagi dalam penyakit fisik atau penyakit organik dan penyakit mental atau penyakit fungsional. Bila karena penyakit fisik timbul gangguan mental maka dikatakan gangguan mental organik; sebaliknya bila karena adanya gangguan/ masalah mental timbul gangguan fisik maka dikatakan gangguan psikosomatik(istilah yang masih banyak digunakan di kalangan medik); bila karena ada masalah flsik kemudian timbul masalah kejiwaan secara tidak langsung, disebut gangguan somato psikis; bila gangguan fisik dan gangguan mental berada bersamaan tanpa hubungan sebab akibat, dikatakan sebagai komorbiditas. Sesungguhnya gangguan fisik dan gangguan mental tidak bisa dipisah-pisahkan, upaya memisahkan fisik dan mental merupakan upaya dikotomis dan hal ini tidak tepat dalam pendekatan eklektik-holistik; dan semua gangguan itu sesungguhnya dapat dilakukan dengan pendekatan psikosomatik. Gangguan fungsional mempunyai komponen organik, misalnya perasaan sedih dapat mengeluarkan air mata; gangguan fisik pun mempunyai komponen psikologik, misalnya karena adanya virus HIV dalam darah sudah dapat menimbulkan depresi (somatopsikis), walaupun virus HIV belum menyerang otaknya.Pembagian organik dan fungsional dalam praktik umum, hanya untuk kemudahan pemeriksaan saja, sedangkan pendekatannya tetap secara ekietik holistik. |
|
Pengertian dasar |
|
Untuk dapat melakukan deteksi dini gangguan mental, diperlukan beberapa pengertian dasar seperti berikut : yang dimaksud dengan gangguan organik atau penyakit fisik adalah gangguan mengenai organ tubuh, ada gejala dan tanda-tanda obyektif, ada gangguan faali atau kerusakan jaringan atau struktural pada organ tubuh, dapat dibuktikan dengan pemeriksaan fisik, laboratonium, radiologi, EEG, CT scan, USG, MRI, PET-scan dan sebagainya. Sedangkan gangguan psikologik atau gangguan mental adalah gangguan pada fungsi mental(jiwa) yaitu fungsi yang berkaitan dengan emosi (perasaan), kognisi (pikiran), konasi (perilaku); juga ada gejala dan tanda-tanda obyektif (psikopatologi yang nyata secara klinis), bisa disertai dengan/tanpa kerusakan struktur/jaringan susunan saraf pusat; juga ada keluhan atau penderitaan (distres) dan pasien dan/atau keluanganya; biasanya disertai disabilitas atau disfungsi yaitu ganguan pada fungsi pekerjaan, fungsi sosial, dan fungsi sehari-hari. Etiologinya multi faktorial yaitu secara organobiologik, psikologik, pendidikan, dan sosial-budaya. |
|
Etiologi Organobiologik |
|
Penyakit Otak (Intraserebral) seperti gangguan degeneratif, infeksi pada otak, ganguan cerebrovaskular, trauma kapitis, epilepsi, neoplasma, toksik (NAPZA), dan herediter. Penyakit Sistemik (Ekstraserebral) seperti gangguan metabolisme, endokrin/hormonal, infeksi sistemik, atau penyakit autoimum. |
|
Etiologi Psikologik |
|
Seperi krisis yaitu suatu kejadian yang mendadak; konflik, suatu pertentangan batin; tekanan khususnya dan dalam dirinya, seperti kondisi fisik yang tidak ideal; frustrasi, suatu kegagalan dalam mencapai tujuan; dan sudut pendidikan dan perkembangan seperti salah asih, salah asah, salah asuh; dan takterpenuhinya kebutuhan psikologik seperti: rasa aman, nyaman, perhatian, kasih-sayang. |
|
Etiologl Sosio-kultural |
|
Problem keluarga, problem dengan lingkungan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, ekonomi, akses ke pelayanan kesehatan, problem hukum / kriminal dan problem psikososial lainnya. |
|
Tanda/gejala organik |
|
Faktor organik spesifik yang diduga ada kaitannya dengan gangguan kejiwaan seperti penyakit/gangguan sistemik atau otak yaitu yang berkaitan dengan etiologi organobiologik. Tanda dan gejalanya adalah penurunan kesadaran patologik dan delinum, apathia, somnolen, sopor, sampai koma; adanya gangguan fungsi intelektual atau fungsi kognitif, seperti gangguan daya ingat, daya pikir, daya belajar, gangguan perhatian yaitu berkurangnya kemampuan mengarahkan, memusatkan, mempertahankan dan mengalihkan perhatian; ada gangguan orientasi tempat, waktu dan perorangan; bisa disertai gangguan persepsi seperti halusinasi visual. |
|
Tanda/Gejala Penggunaan NAPZA |
|
Keparahannya dan intoksikasi tanpa komplikasi dan penggunaan yamg merugikan, sampai gangguan psikotik dan demensia. Ada riwayat penggunaan zat psikoaktif secara patologik artinya setiap hari harus menggunakan zat psikoaktif agar dapat berfungsi secara adekuat/memadai minimal satu bulan. Intoksikasi adalah suatu gangguan mental dimana terdapat tingkah laku maladaptive akibat penggunaan zat psikoaktif. Penyalahgunaan zat tanpa ketergantungan: pola penggunaan zat psikoaktif secara patologik disertai hendaya dalam fungsi sosial atau pekerjaan dan telah berlangsung paling kurang satu bulan. Ketergantungan bila ada ketergantungan fisiologik yang dibuktikan dengan adanya toleransi dan sindrom putus zat dan hampir selalu disertai penggunaan patologik yang mengakibatkan hendaya dalam fungsi sosial atau pekerjaan. Toleransi berarti untuk mendapatkan efek yang sama dan zat tersebut, diperlukan peningkatan dosis. Sindrom putus zat (withdrawal) terjadi bila ada pengurangan yang cukup banyak dan zat yang rutin digunakan atau mendadak menghentikan penggunaan zat tersebut. |
|
Gejala-gejala Psikotik |
|
|
Gejala Afektif |
|
Afek/mood adalah suasana perasaan internal yang berkepanjangan dan meresap, yang sering mempengaruhi perilaku dan persepsi individu akan dunia luar seperti anxietas (cemas patologik), depresi dan mania |
|
|
Pelayanan kesehatan jiwa integratif dalam praktik umum |
|
Dalam praktik kedokteran, pasien yang datang berobat selalu mempunyai keluhan utama. Keluhan utama itu dapat kita bagi dalam: |
|
|
Pada keluhan psikosomatik, biasanya dibalik keuhan flsiknya ada masalah kejiwaannya; masalah kejiwaan yang paling sering menyertai keluhan psikosomatik ini adalah gejala anxietas, dan gejala depresi. |
|
|
Pada pasien yang datang dengan keluhan psikosomatik dan keluhan mental emosional maka yang perlu dilakukan oleh dokter adalah menetapkan: |
|
|
Hal-hal yang berkaitan dengan pembuatan diagnosis: |
|
|
Pembuatan diagnosis (kode diagnosis lCD 10)secara cepat dan petunjuk terapi: |
|
|
Penutup |
|
Moga-moga makalah ini dapat membantu dokter dalam melakukan praktik pelayanan kesehatan jiwa yang terpadu dalam praktik umum sehingga banyak pasien yang dapat pelayanan yang lebih baik. Dibawakan pada symposium “Deteksi dini dan penatalaksanaan terapi gangguan jiwa dalam praktik umum” pada tanggal 27 Oktober 2007, di Hotel Redtop, Jakarta |
SUSUNAN PENGURUS
IDI CABANG JAKARTA BARAT
PERIODE 2005 – 2008
|
JABATAN |
NAMA |
|
Penasehat |
Dr. Robert Imam Soetedja |
|
Ketua Umum |
Dr. Tony S. Natakarman |
|
Ketua I |
Dr. Cecilia R. Padang, PhD, FACR |
|
Ketua II |
Dr. Saiful Jazan, MSc |
|
Ketua Ex Officio BP2A |
Dr. Budi Sampurna, Sp.F, SH |
|
Wakil Ketua BP2A |
Dr. D. Aji Kadarmo, Sp.F, DFM |
|
Sekretaris BP2A |
Dr. Evi Untoro |
|
Anggota BP2A |
Dr. Robert Imam Soetedja |
|
Anggota BP2A |
Dr. Robert Gandasentana, MS |
|
Sekretaris |
Dr. Kevin Gunawan |
|
Wakil Sekretaris |
Dr. Evi Untoro |
|
Bendahara |
Dr. Retno Praptijani |
|
Wakil Bendahara |
Dr. Evi Narulita |
|
Seksi Ilmiah |
Dr. Raditya Wratsangka, Sp.OG |
|
Seksi Pengembangan Profesi |
Dr. Sutopo Widjaja, MS |
|
Seksi Pengabdian Masyarakat |
Dr. Laymena Yusak |
|
Seksi Komite Rekomendasi Ijin Praktek |
Dr. Robert Imam Soetedja |
|
Seksi Komite Rekomendasi Ijin Praktek |
Dr. Minamad Rapa, MM |
|
Seksi Kesejahteraan |
Dr. Agus Tanjung, MHA |
|
Seksi Olah Raga |
Dr. Danny A. Hermawan |
|
KOMISARIAT : |
|
|
FK. Universitas Trisakti |
Dr. Eveline Margo |
|
FK. Universitas Tarumanegara |
Dr. Magdalena Linaria Juniwati |
|
FK. Universitas Kristen Krida Wacana |
Dr. Indriani Kurniadi |
|
Rumah Sakit Sumber Waras |
Dr. Tjandra Gunawan |
|
Rumah Sakit Jiwa Jakarta |
Dr. Handy Sosilo |
|
Rumah Sakit Medika Permata Hijau |
Dr. Safyuni Naswati Sahupala |
|
Rumah Sakit Pelni Petamburan |
Dr. Sulastri |
|
Rumah Sakit Graha Medika |
Dr. Evi Narulita |
|
Rumah Sakit Husada |
Dr. Frans Wanahita |
|
Sudinkes Jakarta Barat |
Dr. Julianti Sutanto, M.Kes |